Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dari Hongkong untuk Kampung Halaman, Perjuangan Ghinda Aprilia Membangun Sekolah Gratis di Kabupaten Bogor

Muhammad Ali • Kamis, 18 September 2025 | 21:10 WIB
Fatimah Khotib yang dikenal dengan nama pena Ghinda Aprilia, pekerja Migran Asal Bogor yang membangun sekolah gratis di kampung halamannya.
Fatimah Khotib yang dikenal dengan nama pena Ghinda Aprilia, pekerja Migran Asal Bogor yang membangun sekolah gratis di kampung halamannya.

RADAR BOGOR - Setiap hari libur di pusat keramaian Hongkong, Ghinda Aprilia tampak menyusuri jalanan.

Ia menghampiri sesama pekerja migran, menyapa dengan senyum, lalu mengajak mereka ikut berdonasi.

Aktivitas itu ia sebut ngencleng sebuah tradisi penggalangan dana sukarela yang sudah lama menjadi bagian dari perjuangannya.

Dari sana, lahir harapan besar untuk pendidikan anak-anak di sebuah kampung di Bogor.

Ghinda lahir di Bogor tahun 1975, dari sebuah desa yang dulu masih sangat tertinggal.

Pendidikan bukanlah sesuatu yang mudah diakses. Hanya sedikit anak yang melanjutkan sekolah hingga tingkat menengah.

Dari pengalaman itu, lahirlah tekad kuat dalam dirinya, suatu hari ia harus membuka jalan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak kampungnya.

Perjalanan panjang dimulai tahun 1992. Ghinda memutuskan merantau, bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan sempat pula masuk ke pabrik garmen.

Semua ia jalani untuk menopang hidup sekaligus menabung demi mimpi besar yang belum terucap pada siapa pun.

Kesempatan kemudian membawanya ke Singapura, bekerja di rumah majikan.

Dari sana, ia menyimpan rupiah demi rupiah. Batin dan pikirannya tak pernah lepas dari tanah kelahiran.

“Saya selalu ingat wajah anak-anak di kampung yang susah sekolah. Dari situ saya janji dalam hati, suatu saat harus ada jalan untuk mereka,” ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis 18 September 2025.

Tahun 1994, Ghinda menikah dan sempat tinggal di Tangerang lalu di Pangandaran. Kehidupan keluarga sederhana itu tak lepas dari ujian.

Bencana tsunami Pangandaran tahun 2006 sempat mengguncang, tapi di balik itu justru menguatkan tekadnya untuk lebih mandiri sekaligus bermanfaat bagi orang banyak.

Awal 2007, ia mengambil keputusan besar, berangkat ke Hongkong.

Bekerja jauh dari rumah dan anak-anak memang berat, tapi baginya itu satu-satunya cara untuk mewujudkan cita-cita.

“Saya nekat ke Hongkong, biar ada biaya buat bangun sekolah,” ucapnya.

Tahun 2013, langkah nyata dimulai. Dari tabungan itu, Ghinda membeli sebidang tanah di kampung.

Dua ruang kelas sederhana berdiri di atasnya, menjadi cikal bakal sekolah.

Dua tahun kemudian, tepatnya 2015, sekolah itu resmi beroperasi.

Namanya MI Al-Bayan Mandiri, terletak di Kampung Cipatat, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Sekolah ini berbeda, seluruh murid belajar gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun.

“Saya nggak mau ada anak yang berhenti sekolah gara-gara nggak punya uang” tegasnya.

Untuk melengkapi perjuangannya, Ghinda juga membuka PAUD dan TK di lokasi yang sama.

Ia percaya pendidikan anak usia dini sama pentingnya dengan pendidikan dasar.

Tahun 2016, dukungan datang dari Mandiri Amal Insani (MAI) yang membantu membangun empat ruang kelas tambahan.

Kini, sekolah itu tidak lagi sekadar dua ruang sederhana, melainkan tempat belajar yang lebih layak untuk menampung banyak murid.

Perjalanan membangun sekolah gratis tentu penuh tantangan. Ghinda harus menanggung rindu kepada anak-anak yang ia tinggalkan demi bekerja di rantau.

Putri sulungnya telah tiada, putri keduanya berhasil meraih gelar S2 dan kini berkeluarga, sementara si bungsu sedang menempuh pendidikan di Universitas Ibn Khaldun Bogor.

“Saya rela jauh dari anak-anak, asal mereka bisa sekolah tinggi. Itu sudah cukup buat saya bahagia,” tuturnya lirih.

Di Hongkong, ia pun tidak sendiri. Bersama komunitas pekerja migran lainnya, ia melakukan aksi gencleng setiap akhir pekan.

Uang yang terkumpul selalu ia kirim ke kampung untuk memastikan sekolah tetap berjalan.

“Sedikit-sedikit yang penting halal. Setiap receh yang masuk, saya percaya itu doa supaya sekolah bisa terus berdiri,”ujarnya.

Kini, MI Al-Bayan Mandiri berdiri tegak sebagai kebanggaan kampung Cipatat. Anak-anak bisa belajar dengan tenang, orang tua merasa lega karena tak perlu memikirkan biaya.

Sekolah itu adalah simbol dari keteguhan hati seorang perempuan rantau yang menjadikan pendidikan sebagai warisan terbaik.

Ghinda Aprilia tak ingin berhenti di sini. Ia bermimpi sekolahnya terus berkembang, dengan fasilitas lebih lengkap, dan bisa menampung lebih banyak anak.

“Saya cuma pengen, nanti ada generasi baru yang lebih pintar, lebih mandiri, dan nggak takut bermimpi,”katanya penuh harap.

Dari lorong-lorong Hongkong hingga jalan setapak di Bogor, dari keringat di negeri orang hingga tawa anak-anak di kampung halaman, kisah Ghinda Aprilia adalah bukti bahwa mimpi bisa mengubah wajah sebuah desa.

Ia menunjukkan bahwa pendidikan tak mengenal batas, karena sejatinya, ia lahir dari hati yang tulus dan tangan yang tak pernah lelah bekerja.(cr1)

Editor : Alpin.
#sekolah gratis #kabupaten bogor #pekerja migran