Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Film Dokumenter Mama Jo, Kisah Ibu dan Anak Difabel dari Bogor yang Mendunia Hasil Karya Ineu Rahmawati

Muhammad Ali • Jumat, 19 September 2025 | 09:19 WIB
Bupati Bogor memberikan penghargaan kepada sutradara film dokumenter Mama Jo asal kabupaten Bogor.
Bupati Bogor memberikan penghargaan kepada sutradara film dokumenter Mama Jo asal kabupaten Bogor.

RADAR BOGOR - Film Dokumenter Mama Jo karya Ineu Rahmawati (34) berhasil membawa kisah sederhana dari Bogor menembus festival internasional.

Film Mama Jo ini mengangkat kehidupan Johan, seorang anak dengan cerebral palsy, dan ibunya yang penuh keteguhan dalam merawat sang buah hati.

Ineu bercerita, awal ide menggarap Film Dokumenter Mama Jo muncul saat dirinya mengikuti Eagle Award 2023.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kompetisi itu khusus untuk para profesional yang sudah pernah membuat film.

Awalnya, ia mengangkat tema dampak pandemi Covid-19 yang begitu besar terhadap pendidikan dan kesehatan.

Ia sempat mempertimbangkan dua daerah sebagai lokasi riset, Papua dan Bogor. Pilihan akhirnya jatuh pada Bogor karena cerita yang datang dari kerabatnya.

“Kebetulan tante aku itu kepala sekolah di SD Sentul 04, beliau sering kasih curhat tentang anak muridnya yang berkebutuhan khusus,” ungkapnya saat ditemui Radar Bogor, Kamis 18 September 2025.

Dari curhatan itu, Ineu dipertemukan dengan orang tua Johan. Ia melakukan riset mendalam, berbincang dengan Ayah dan Mamah Johan serta gurunya yang banyak memberikan wawasan tentang pendidikan inklusif.

Ia bahkan meminta izin khusus ke Yayasan Cerebral Palsy Bogor untuk mengangkat kisah Johan.

Selain soal riset, Ineu menjelaskan mengapa ia memilih dokumenter dibanding fiksi. Menurutnya, dokumenter lebih dekat dengan riset yang ia sukai. “Aku sebenarnya lebih tertarik film dokumenter karena ada sesi risetnya,” ucapnya.

Proses produksi film ini penuh pengalaman emosional. Salah satunya saat Ineu menghadiri peringatan Hari Cerebral Palsy di Bogor.

Ia menyaksikan ibu-ibu dengan anak difabel berkumpul dan berbagi kebahagiaan meski penuh keterbatasan. Momen itu begitu membekas bagi dirinya dan seluruh crew.

“Mereka tetap happy apa segala macam. Terus, anaknya nyanyi ya walaupun dengan keterbatasan. Itu, sih, menurutku yang awal mula paling emosional di Film Dokumenter Mama Jo, terus hampir semua crew Mamajo itu nangis,” kenangnya.

Perjalanan Film Dokumenter Mama Jo tidak berhenti di dalam negeri. Karena keterbatasan ruang pemutaran, Ineu bersama tim akhirnya memutuskan mendaftarkan film ke festival luar negeri. Premiere pertama mereka bahkan digelar di Tokyo, Jepang.

Dari sana, Film Dokumenter Mama Jo mendapat sambutan hangat hingga berhasil meraih penghargaan Best Short Documentary di Golden Femi Film Festival, Bulgaria, serta Special Jury Mention di BOSIFEST 2024, Serbia.

Baginya, apresiasi dari luar negeri adalah kebanggaan tersendiri. Ia merasa karya sineas muda Bogor bisa bersaing di tingkat dunia.

Selain membawa kisah difabel, Ineu juga menjadikan film sebagai media diplomasi budaya. Setiap menghadiri festival, ia selalu tampil mengenakan kebaya atau batik.

Bahkan, ia pernah memberikan bros khas Indonesia kepada rekan dari Australia yang terkesan dengan budaya Nusantara.

Pengalaman itu semakin berkesan ketika KBRI Serbia mendukung penuh kehadiran Film Dokumenter Mama Jo.

Usai pemutaran, mereka mengadakan jamuan kuliner Indonesia sehingga penonton bisa mengenal lebih dekat budaya tanah air. Bagi Ineu, hal itu membuktikan film bisa menjadi sarana promosi budaya sekaligus diplomasi.

“Diplomasi budaya itu paling penting. Makanya, kemarin saya ketemu Pak Bupati. Saya berharap ketika saya ke sebuah negara, saya bisa promosiin Bogor juga,” katanya.

Ia berharap kehadirannya di berbagai negara juga bisa sekaligus memperkenalkan Bogor sebagai daerah asalnya.

Hal itu pun mendapat dukungan dari Bupati Bogor yang berkomitmen membuka ruang untuk sineas muda.

Hingga kini, Film Dokumenter Mama Jo telah tayang di sepuluh negara. Selain Jepang dan Serbia, film tersebut juga diputar di Yunani, India, Denmark, Belgia, Australia, Hungaria, Malaysia, dan Kosovo. Capaian ini membuktikan bahwa kisah lokal bisa mendapatkan perhatian global.

Dari sisi teknis, proses produksi Film Dokumenter Mama Jo memakan waktu sekitar enam hingga tujuh bulan, mulai dari riset, pengambilan gambar, hingga proses penyuntingan.

Ineu hanya bekerja dengan tim kecil beranggotakan tujuh orang, namun hasilnya mampu menorehkan prestasi besar.

Harapannya sederhana, film ini bisa terus memberi manfaat. “Semoga film ini bisa lebih bermanfaat lagi, bisa ditonton sama banyak orang, bukan cuma masyarakat Indonesia, tapi seluruh dunia,” tutupnya. (cr1)

Editor : Yosep Awaludin
#Ineu Rahmawati #film dokumenter #Mama Jo