Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dari Citeureup Bogor ke Layar Dokumenter, Perjalanan Ineu Rahmawati Menjadi Seorang Sineas

Muhammad Ali • Jumat, 19 September 2025 | 09:24 WIB
Ineu Rahmawati, Sineas muda asal Citeureup, saat dimintai keterangan oleh Radar Bogor di Citeureup Bogor, Kamis 18 September 2025.
Ineu Rahmawati, Sineas muda asal Citeureup, saat dimintai keterangan oleh Radar Bogor di Citeureup Bogor, Kamis 18 September 2025.

RADAR BOGOR - Bagi Ineu Rahmawati (34), perjalanan menjadi seorang sineas bukanlah cerita yang lurus dan mulus.

Lahir dan besar di Citeureup, Kabupaten Bogor, Ineu Rahmawati sempat menapaki jalur pendidikan yang sama sekali berbeda dari dunia film.

Tahun 2017, Ineu Rahmawati lulus dari S2 Manajemen Pertahanan di Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN).

Namun, justru dari pengalaman bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai bagian dari internal communication, benih kecintaannya pada film mulai tumbuh.

“Dimana aku bikin film internal, film dokumenterlah buat perusahaan sebenernya basicnya dari situ sih dari pengalaman,” ujar Ineu Rahmawati kepada Radar Bogor, Kamis 18 September 2025.

Titik balik datang ketika ia berkesempatan mengikuti Eagle Award pada 2017. Di sana, ia membuat produksi pertama berjudul Marka, kisah anak-anak pekerja migran Indonesia di Sarawak, Malaysia yang berjuang untuk melanjutkan sekolah di tanah air.

Tak hanya itu, ia pun mendapat bekal pengetahuan melalui Eagle Lift, sebuah workshop yang memperkenalkannya lebih dalam pada dunia dokumenter. “Disitulah sebenernya mulai tertarik sama dunia perfilman,” ucapnya.

Sebagai putri daerah yang besar di Citeureup, Ineu mengaku latar belakangnya justru menjadi fondasi dalam berkarya.

Ia teringat pesan sang ayah, jika ingin besar, mulailah dari hal kecil, dari masyarakat terdekat, baru kemudian berkembang lebih luas.

“Nah pada saat itu, saya pernah ikut beberapa kali kontestan gitu ya, tapi bukan di film awalnya, awalnya di daerah Bogor misalnya mojang jajala,” katanya sambil tersenyum.

Jejaring dan kompetisi menjadi ruangnya untuk membangun kepercayaan diri. Namun, baginya, identitas sebagai orang Bogor tetap ia bawa ke manapun melangkah.

Namun, jalan sebagai pembuat film dokumenter tentu tak mudah. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Ineu adalah soal pendanaan.

“Film dokumenter tuh agak lumayan tricky untuk menampilkan sponsorship, atau misalnya kita gak kayak film layar lebar lah ya, yang dijual dibioskop gitu ya,” jelasnya.

Meski demikian, keterbatasan itu tidak menyurutkan langkahnya. Justru dengan kesabaran, karya-karya Ineu mendapat pengakuan internasional, salah satunya melalui dokumenter Mama Jo yang mengangkat isu disabilitas.

Dalam memilih tema, Ineu konsisten mengangkat isu-isu sosial. Ia menaruh perhatian pada lingkungan, perempuan, hingga kelompok difabel.

Tahun ini, ia baru saja merampungkan Film Dokumenter Karaja Sumba, tentang perempuan-perempuan di Sumba Barat yang berdaya melalui peran mereka di tengah masyarakat.

“Kalau ditanya pengen gak si produksi film fiksi gitu kan?, pengen bangat si sebenernya, cuma kalau sekarang masih ada beberapa project, tahun depanpun insyaallah saya ada dua project lagi, itu masih tentang film dokumenter gitu,” ungkapnya.

Bagi Ineu Rahmawati, menjadi sineas bukan sekadar soal kamera dan karya, tapi juga mental untuk terus percaya diri. Ia menekankan pentingnya membuka diri terhadap jejaring dan forum-forum yang lebih luas.

“Apalagi sekarang ada sosial media, jangan menutup diri hanya karena dari daerah. Misalnya ada event kaya JAFF di Jogja, kalau ada rezeki datang aja, ketemu orang disatu event itu nggak ada ruginya, yang penting jangan minder, kita bawa nama Bogor," katanya.

"Tapi balik lagi ke diri kita, bagaimana menempatkan diri dan beradaptasi dengan orang lain,” tutupnya. (cr1)

Editor : Yosep Awaludin
#Ineu Rahmawati #bogor #citeureup