Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Menumbuhkan Harapan di Tanah Gersang, Kisah Cinta Rosita dan Bambang Setiawan Membangun Hutan Organik Megamendung

Muhammad Ali • Selasa, 14 Oktober 2025 | 18:22 WIB
Ilustrasi: Pemkab Bogor akan menyediakan hutan kota.
Ilustrasi: Pemkab Bogor akan menyediakan hutan kota.

RADAR BOGOR - Di Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, ada hutan buatan yang hijau dan rindang.

Hutan itu bukan hasil proyek besar atau bantuan pemerintah, melainkan dari kisah cinta sepasang suami istri.

Di lahan yang dulu gersang, Bambang Setiawan dan Rosita menanam harapan, satu pohon demi satu pohon, hingga menjelma menjadi Hutan Organik rumah bagi ribuan pohon dan saksi bisu cinta yang tak lekang oleh waktu.

Semua berawal dari keinginan sederhana mendiang suaminya, Bambang Istiawan, yang ingin memiliki rumah di pinggir hutan.

Sayangnya, di kawasan Puncak, hutan sudah sulit ditemukan. Maka, Rosita dan keluarganya memutuskan membuat hutan mereka sendiri.

“Suami saya ingin rumah di pinggir hutan, tapi hutannya tidak ada. Jadi kami buat sendiri,” ujar Rosita mengenang awal mula perjuangan itu.

Tahun 2000 menjadi titik awal perjalanan panjang mereka. Dengan modal tabungan, Rosita membeli tanah seluas dua ribu meter dari warga sekitar.

Lahan itu gersang, panas, dan kritis, dengan tingkat keasaman tanah yang terlalu tinggi.

Namun, ia tak mundur. Bersama keluarga, ia menanam bibit sedikit demi sedikit, mencicil pupuk, dan merawat setiap pohon yang tumbuh.

Rosita pemilik hutan organik, saat dimintai keterangan oleh Radar Bogor di Desa megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Selasa 14 Oktober 2025.
Rosita pemilik hutan organik, saat dimintai keterangan oleh Radar Bogor di Desa megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Selasa 14 Oktober 2025.

“Tanahnya waktu itu pH-nya cuma dua sampai empat. Tapi kami terus pupuk berton-ton sampai akhirnya bisa hidup,” kata Rosita kepada Radar Bogor, Selasa 14 Oktober 2025.

Setelah setahun bekerja tanpa henti, tanda-tanda kehidupan mulai muncul. Tanaman tumbuh subur, tanah menjadi lebih lembab, dan udara perlahan berubah sejuk.

Teknik tumpang sari atau agroforestri menjadi kunci. Ia menanam sayuran di sela pohon keras agar kelembapan tanah terjaga tanpa bahan kimia.

“Kalau nyiram atau mupuk itu sayurannya, otomatis pohonnya ikut subur. Itulah rahasia hutan ini,” sambungnya.

Perjuangan itu berlanjut hingga bertahun-tahun. Dari dua ribu meter, lahan hijau itu kini berkembang menjadi 30 hektare hutan organik.

Setiap kali ada pohon yang mati, segera diganti. Setiap jengkal tanah dihidupkan kembali.

“Pohon endemik diseluruh indonesia ada di sini. Kami sebut ini kebun raya kecil,” ungkapnya.

Namun perjalanan membangun hutan tidak selalu mulus. Rosita harus menghadapi berbagai tantangan, terutama dari manusia.

Banyak calo tanah yang berusaha melarang untuk membeli lagi tanah dari masyarakat.

“Saya sudah 25 tahun tinggal di sini. Kalau ada yang mau macam-macam, saya lawan. Ini bukan untuk dijual, tapi untuk anak cucu,” tegasnya.

Rosita lahir dan besar di Cimande, Bogor. Ia merasa punya tanggung jawab moral menjaga alam tanah kelahirannya.

Seluruh asetnya dijual untuk membeli tanah dan bibit.

“Orang cari view, pohon malah ditebang untuk dijadikan villa dan resort. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” tuturnya lirih.

Dari hutan yang ia rawat, lahirlah sebuah ekosistem baru. Berdasarkan penelitian mahasiswa IPB, terdapat 121 jenis flora, 25 jenis burung, 10 jenis herpetofauna, dan 59 jenis insekta yang hidup di kawasan ini.

Semuanya tumbuh tanpa campuran bahan kimia, murni organik.

“Yang menghitung itu mahasiswa S1 sampai S3 IPB. Saya hanya menanam, alam yang bekerja,” imbuhnya.

Keberhasilan itu membuat Hutan Organik Megamendung menjadi laboratorium alam bagi pelajar dan peneliti.

Banyak sekolah datang untuk belajar tentang keanekaragaman hayati dan konservasi lingkungan. Rosita pun membuka pintu selebar-lebarnya.

“Silakan datang ke sini, belajar menanam, semua gratis. Hanya kalau makan, ya bayar seikhlasnya untuk biaya perawatan pohon,” ujarnya.

Meski bukan akademisi, Rosita punya pengetahuan luas tentang alam. Ia belajar langsung dari pengalaman dan interaksi dengan tanah.

Dia bisa menyebutkan nama ilmiah dan asal setiap pohon yang tumbuh di hutannya. “Saya belajar dari alam. Alam yang mengajarkan saya,”katanya.

Kini, usianya sudah 63 tahun. Namun semangatnya tak pernah surut.

Dia mengungkapkan lahan ini tak akan diperjualbelikan dan akan terus menjadi kawasan konservasi.

“Tanah ini nanti kembali lagi ke alam. Sudah jadi kesepakatan keluarga,” tegasnya.

Baginya, membangun hutan bukan soal modal besar, melainkan soal tekad. Meski semua asetnya habis, Rosita tidak menyesal.

Ia percaya alam akan membalas kebaikan. “Modalnya besar, tapi jangan ditanya berapa. Nanti orang takut menanam,” ungkap sambil tersenyum.

Kepada pemerintah, Rosita hanya berharap agar keberadaan hutan ini dijaga.

Ia ingin pemerintah Kabupaten Bogor serius memperhatikan pelestarian alam dan memberi aturan yang tegas terhadap pembangunan liar di kawasan Puncak.

“Tanam jangan cuma tanam tinggal. Pohon itu butuh dirawat seperti bayi,” pesannya.

Kini, di bawah rindangnya Hutan Organik Megamendung, cita-cita Bambang Istiawan telah terwujud sepenuhnya.

Di antara suara burung dan hembusan angin, Rosita berdiri bangga melihat kehidupan yang tumbuh dari tangannya.

Ia menanam bukan untuk dirinya, tapi untuk generasi setelahnya. “Inilah hutan mini di Bogor, warisan hijau untuk anak cucu kita,” tutupnya.(cr1)

Editor : Alpin.
#Hutan Organik Megamendung #Hutan Buatan #Desa Megamendung