RADAR BOGOR – Sejak digelarnya Bogor Coffee Festival pertama pada tahun 2016 di Cibinong, nama Kopi Robusta Bogor semakin dikenal luas.
Popularitas ini bukan hanya memperkenalkan cita rasa khas kopi Bogor, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan perlindungan terhadap keaslian produk kopi lokal melalui pengajuan Indikasi Geografis (IG) untuk Kopi Robusta Java Bogor.
Permohonan IG ini diajukan oleh Yayasan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) untuk tiga jenis produk, yaitu kopi biji (green bean), kopi sangrai (roasted bean), dan kopi bubuk (ground coffee).
Melalui pengajuan ini, para pelaku kopi di Bogor berharap agar kopi lokal mendapat perlindungan hukum dan tidak disalahgunakan oleh pihak lain yang menjual produk serupa menggunakan nama Java Bogor.
Penyuluh Bidang Perkebunan sekaligus Ketua Tim Perlindungan Distanhorbun Kabupaten Bogor, Reza Septian, menjelaskan bahwa penamaan Kopi Robusta Java Bogor merupakan hasil seleksi dan kajian panjang yang dilakukan bersama Kementerian Hukum dan HAM.
“Robusta itu kopinya. Sebenarnya usulan kami itu kopi Java Bogor. Tapi dari Kemenkumham itu diseleksi lagi, dieksplorasi lagi namanya, jadi muncullah Kopi Robusta Java Bogor,” jelasnya kepada Radar Bogor, Kamis 30 Oktober 2025.
Hasil uji citarasa yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember menunjukkan bahwa Kopi Robusta Java Bogor memiliki skor akhir antara 80,175 - 85,03, termasuk dalam kategori excellent coffee.
Karakteristik rasa yang menonjol meliputi acidity, caramelly, chocolaty, vanilla, dan nutty cita rasa yang semakin menegaskan kekhasan kopi asal Bogor.
“Dalam indikasi ini hanya lima kecamatan, karena karakternya dan kualitas rasa, kualitas fisiknya sudah sesuai dengan ketentuan,” ungkapnya
Faktor geografis juga memainkan peran penting dalam membentuk keunikan rasa.
Berdasarkan hasil analisis tanah, wilayah budidaya kopi ini memiliki tingkat keasaman tanah antara pH 3,9 - 7,6, dengan kandungan bahan organik dan unsur hara yang mendukung pertumbuhan tanaman kopi.
Saat ini, daerah produksi Kopi Robusta Java Bogor meliputi lima kecamatan, yaitu Sukamakmur, Tanjungsari, Cariu, Babakan Madang, dan Cisarua.
“Kajian ini nggak cukup satu atau tiga tahun. Sampai keluar sertifikat itu ada bukunya tebal sekali, indikasi geografis itu bukan hanya soal lokasi, tapi juga budaya manusianya,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa dalam kajian tersebut, semua faktor yang berpengaruh terhadap karakter kopi turut dimasukkan, mulai dari data curah hujan, jenis tanah, hingga aspek budaya manusianya.
“Bagaimana budaya manusia itu mempengaruhi mutu fisik dan citarasa kopi ini, hingga menjadi penciri khas kopi Bogor,” tutupnya.(cr1)