Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kabupaten Bogor Jadi Sentra Kopi Terbesar di Jawa Barat, Produksi Tembus 3,3 Juta Kilogram per Tahun

Muhammad Ali • Minggu, 2 November 2025 | 16:34 WIB
Petani menjemur biji kopi di Kampung Cikoneng, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang pangsa pasarnya sudah menembus Eropa.
Petani menjemur biji kopi di Kampung Cikoneng, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang pangsa pasarnya sudah menembus Eropa.

RADAR BOGOR – Kabupaten Bogor menegaskan posisinya sebagai salah satu sentra kopi terbesar di Jawa Barat, dengan total produksi mencapai lebih dari 3,3 juta kilogram per tahun.

Berdasarkan data Dinas Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor, jumlah tersebut terdiri dari sekitar 2,99 juta kilogram kopi robusta dan 345 ribu kilogram kopi arabika yang tersebar di 24 kecamatan penghasil kopi di wilayah Kabupaten Bogor.

Penyuluh Bidang Perkebunan sekaligus Ketua Tim Perlindungan Pertanian Distanhorbun Kabupaten Bogor, Reza Septian, mengatakan pembinaan terhadap petani kopi terus dilakukan dalam upaya meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen.

“Kami melakukan pembinaan terkait peningkatan produksi dan produktivitas. Misalnya dengan menyalurkan bantuan bibit kopi, sarana produksi, serta pelatihan dan sekolah lapangan untuk meningkatkan SDM petani,” ungkapnya kepada Radar Bogor, Kamis 30 Oktober 2025.

Kecamatan Sukamakmur menjadi sentra produksi kopi terbesar di Kabupaten Bogor dengan total produksi mencapai sekitar 1,8 juta kilogram per tahun.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1,57 juta kilogram merupakan kopi robusta dan 267 ribu kilogram merupakan kopi arabika.

Besarnya produksi di wilayah ini tidak lepas dari kondisi geografis yang mendukung serta luas lahan budidaya yang dominan dibanding kecamatan lain.

Posisi kedua ditempati oleh Tanjungsari dengan produksi mencapai lebih dari 1 juta kilogram kopi robusta per tahun.

Sementara itu, Babakan Madang berada di urutan ketiga dengan total produksi sekitar 338 ribu kilogram, terdiri atas 286 ribu kilogram robusta dan 51 ribu kilogram arabika.

Kecamatan Pamijahan juga menjadi salah satu penghasil kopi unggulan dengan total produksi mencapai 141 ribu kilogram, terdiri dari 107 ribu kilogram robusta dan 34 ribu kilogram arabika.

Kemudian, Cariu menyusul dengan produksi sekitar 230 ribu kilogram robusta.

Untuk wilayah dataran tinggi, jenis kopi arabika mendominasi. Kecamatan Cisarua menghasilkan sekitar 76 ribu kilogram kopi, dengan komposisi 62 ribu kilogram arabika dan 14 ribu kilogram robusta.

Sementara Megamendung juga menunjukkan potensi besar dengan total produksi mencapai 76 ribu kilogram, terdiri dari 44 ribu kilogram arabika dan 32 ribu kilogram robusta.

Selain itu, beberapa kecamatan lain turut berkontribusi dalam produksi kopi Bogor meski dalam skala lebih kecil, seperti Cigudeg dengan 43 ribu kilogram, Kemang sebanyak 41 ribu kilogram, Rumpin sebesar 38 ribu kilogram, serta Sukajaya dengan 33 ribu kilogram kopi robusta.

Wilayah seperti Nanggung, Leuwiliang, dan Leuwisadeng juga mencatatkan produksi kopi antara 5 hingga 28 ribu kilogram per tahun.

Sementara kecamatan Tamansari, Ciawi, dan Ciampea hanya menghasilkan dalam skala kecil, di bawah 3 ribu kilogram per tahun.

Dengan total produksi mencapai jutaan kilogram setiap tahunnya, Kabupaten Bogor kini menegaskan posisinya sebagai salah satu sentra kopi terbesar di Jawa Barat.

Dukungan terhadap peningkatan kualitas pascapanen serta penguatan branding diharapkan mampu meningkatkan nilai jual dan memperluas pasar kopi asal Bogor di tingkat nasional hingga internasional.

“Kopi Bogor punya karakter khas. Rasa asamnya lembut seperti arabika, ada manis alami, dan tingkat pahitnya tidak sekuat kopi Sumatra, jadi masih bisa dinikmati sebagai single origin,” tutupnya.(cr1)

Editor : Alpin.
#kopi bogor #kopi robusta #kabupaten bogor