RADAR BOGOR – Ancaman bencana di Kota Bogor bukan hanya banjir, longsor, dan pohon tumbang. Di balik bahaya bencana hidrometeorologi, Kota Bogor juga diintai potensi gempa megathrust.
Menyikapi ancaman gempa megathrust tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor tidak tinggal diam.
Sebuah Rencana Kontigensi (Renkon) Gempa Bumi akan mulai disusun akhir tahun ini dan siap disimulasikan dalam geladi besar-besaran pada 2026 sebagai antisipasi menghadapai potensi gempa megathrust.
Hal ini diungkapkan Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, usai Apel Siaga Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Mapolresta Bogor Kota, Rabu 5 November 2025.
"Kalau berbicara tadi yang Pak Wali sampaikan (soal) Megathrust, betul adanya. Tapi memang secara spesifik, kalau untuk Kota Bogor itu, kita dilintasi oleh potensi Sesar Citarik dan Sesar Baribis," ungkapnya.
Dimas menjelaskan, sebagai langkah antisipasi, BPBD akan segera menyusun skenario mitigasi secara teknis dan matematis. Penyusunan Renkon Gempa Bumi ini akan menjadi prioritas utama.
"Insya Allah di 2026, mengawali kami di akhir tahun ini (2025), kita akan membuat rencana kontigensi gempa bumi. Ini merupakan salah satu bentuk skenario, bila terjadi, bila mana terjadi," jelasnya.
Rencana kontigensi tersebut tidak akan berhenti di atas kertas. Dimas memastikan skenario akan diuji secara masif melalui berbagai latihan yang melibatkan seluruh elemen.
"Nantinya dari rencana kontigensi itu kita lakukan geladi lapangan, geladi meja, geladi posko komando, dan segala macam," papar Dimas.
Ia menargetkan, Renkon tersebut dapat mulai disusun pada awal 2026 dan bisa digeladikan menjelang pertengahan tahun. Geladi ini, tegasnya, bukan hanya melibatkan BPBD tapi masyarakat luas.
"Yang nantinya akan digeladikan bukan hanya BPBD, tapi semua stakeholder. Karena ketika bicara penanganan kejadian bencana, fungsinya BPBD adalah komando koordinatif," tambahnya.
Sembari mempersiapkan Renkon, lanjut Dimas, sosialisasi mitigasi gempa dasar terus dilakukan.
"Sosialisasi-sosialisasi yang sering kita lakukan, masuk ke sekolah, masuk ke lingkungan warga, dan komunitas. (Memberi tahu) kalau terjadi gempa harus lari ke mana, harus seperti apa, itu juga sudah dilakukan," tuturnya.
Kesiapan menghadapi ancaman gempa megathrust ini menjadi tantangan ganda bagi Kota Bogor, yang sepanjang 2025 (Januari-November) sudah mencatat 836 laporan kejadian bencana, termasuk 219 insiden pohon tumbang. (uma)
Editor : Yosep Awaludin