Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

BMKG Edukasi Warga di Kaki Gunung Salak Pelatihan Mengenai Potensi Bencana Alam

Yosep Awaludin • Rabu, 5 November 2025 | 14:24 WIB
Suasana diskusi pengenalan potensi Bencana Alam pada warga Kaki Gunung Salak.
Suasana diskusi pengenalan potensi Bencana Alam pada warga Kaki Gunung Salak.

RADAR BOGOR - BMKG dan Star Energy Geothermal memberikan edukasi kepada warga di sekitar Kaki Gunung Salak tentang bahaya bencana alam.

Mereka dilatih sejak dini untuk menghadapi bencana alam, seperti gempa bumi, melalui kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di Kecamatan Pamijahan.

Kegiatan pelatihan menghadapi bencana alam itu berlangsung selama tiga hari, 3-5 November 2025, dan diadakan di lima lokasi berbeda di daerah Pamijahan yang dekat dengan lereng Gunung Salak.

Ratusan orang, termasuk guru dan siswa, menghadiri sosialisasi pertama di SDN Cianten 01 di Desa Cianten.

Kegiatan ini, kata Pepen Supendi, ahli seismologi BMKG, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyebab gempa bumi, efeknya, dan cara menyelamatkan diri saat gempa bumi terjadi.

 "Kegiatan ini memberikan pemahaman kepada warga sekitar Gunung Salak, khususnya di Desa Cianten, tentang apa itu gempa dan bagaimana menyikapinya dengan benar," tuturnya.

Ia menyatakan bahwa setelah gempa pada 20 September lalu, banyak informasi tersebar luas di masyarakat.

Oleh karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk hanya merujuk pada informasi yang diberikan oleh pemerintah.

"Masyarakat jangan mudah percaya dengan kabar yang tidak jelas sumbernya karena BMKG menjadi sumber utama informasi gempa bumi sesuai Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009," jelasnya.

Menurut BMKG, aktivitas Sesar Cianten, bagian dari sistem Sesar Bayah–Salak yang bersifat tektonik dan bukan vulkanik, adalah penyebab gempa beruntun yang mengguncang wilayah Gunung Salak pada 20 September 2025.

Lebih lanjut, Pepen menjelaskan bahwa temuan analisis gelombang seismik dan pemetaan Badan Geologi menunjukkan bahwa pergeseran lapisan tanah yang disebabkan oleh aktivitas sesar aktif menyebabkan gempa di daerah tersebut.

"Dari karakter gelombangnya terlihat jelas bahwa ini gempa tektonik akibat sesar aktif daripada aktivitas magma," kata Pepen.

Ia mengatakan bahwa karena segmen Sesar Cianten yang membentang dari Kecamatan Pamijahan ke bagian barat dan timur Gunung Salak, wilayah ini sering mengalami gempa kecil.

Dengan menambahkan lebih dari 550 stasiun seismik di seluruh Indonesia, BMKG sekarang dapat merekam getaran kecil dengan lebih akurat daripada sebelumnya.

"Kalau dulu ibarat menjaring ikan besar saja yang tertangkap. Sekarang jaringnya rapat, gempa kecil pun bisa terdeteksi," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa gempa kecil tidak selalu menunjukkan ancaman yang signifikan; dampaknya sangat bergantung pada kondisi tanah dan kekuatan bangunan di permukaan.

Sementara itu, Pakar Kebencanaan Budi Pranowo, yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris BPBD Kabupaten Bogor, mengatakan bahwa gempa kecil seperti di Gunung Salak secara bertahap melepaskan energi bawah tanah.

“Gempa kemarin rata-rata di bawah magnitudo 3,5. Itu seperti kedutan kecil, energinya keluar sedikit demi sedikit agar tidak menumpuk menjadi gempa besar,” katanya.

Ia menyatakan bahwa gempa bumi utama yang terjadi pada 20 September 2025 berkekuatan 3,2 magnitudo dan memiliki 43 kali lebih banyak gempa susulan dengan magnitudo yang sama. Di daerah dengan geologi yang aktif, fenomena ini dianggap normal.

Budi juga berbicara tentang catatan gempa sebelumnya di wilayah tersebut. Salah satunya adalah gempa berkekuatan 4,8 magnitudo di Cibubian pada tahun 2012, yang menghancurkan puluhan rumah.

“Kawasan ini memang sudah merupakan jalur sesar aktif dari segi karakteristiknya, jadi masyarakat harus terbiasa dan tidak panik ketika gempa terjadi,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Bogor melalui BPBD bekerja sama dengan BMKG dan Star Energy terus melakukan sosialisasi dan edukasi mitigasi bencana untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa.

Selama kegiatan, peserta mendengarkan penjelasan teknis dan mengikuti simulasi penyelamatan diri dan belajar tentang jalur evakuasi.

Kesiapsiagaan masyarakat sangat penting untuk mengurangi risiko bencana, terutama di daerah dengan kerentanan geologis yang tinggi seperti Pamijahan dan sekitarnya.

Akibatnya, BPBD Kabupaten Bogor melakukan acara tersebut di empat lokasi berbeda di Kecamatan Pamijahan selama tiga hari, dengan tujuan menjangkau lebih dari 1.000 orang.

Tujuannya adalah untuk memberikan pembekalan dan memberikan modal awal kepada warga untuk mengetahui potensi bencana alam. (***)

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
Editor : Yosep Awaludin
#bencana alam #Kaki Gunung Salak #bmkg