RADAR BOGOR – Kopi asal Kabupaten Bogor tak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bogor.
Bupati Bogor Rudy Susmanto bahkan mendorong agar kopi lokal bisa menembus pasar ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart.
Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan dan Pelayanan Usaha Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, J Rahmat, mengatakan Bupati Bogor sangat mendukung pengembangan kopi lokal. Bentuk dukungan itu terlihat dari berbagai kesempatan ketika pemerintah daerah mempromosikan kopi Bogor di setiap kegiatan resmi.
“Pak Bupati sangat mendukung, kalau ada acara-acara rapat kabupaten itu kita selalu tampil, kemarin di acara kunjungan kerja juga, di setiap kecamatan dan acara 17-an, HJB, kita terus-terusan hadir,” ujar Rahmat kepada Radar Bogor, belum lama ini.
Menurutnya, bupati Bogor bahkan sempat meminta agar kopi Bogor bisa dipasarkan melalui jaringan ritel besar seperti Indomaret dan Alfamart. Hanya saja, hingga kini produksi kopi lokal belum mampu memenuhi permintaan dalam skala besar.
“Pak Bupati sempat bilang, masa kita enggak bisa masukkan kopi Bogor ke Indomaret atau Alfamart, kalau satu Indomaret saja butuh 10 kilogram sebulan dikalikan jumlah gerai di Kabupaten Bogor itu sudah banyak banget,” jelasnya.
Namun, keterbatasan produksi menjadi kendala utama, sebagian besar hasil panen kopi petani Bogor langsung diambil oleh pabrikan besar atau pengepul, sehingga stok di tingkat lokal tidak banyak tersisa.
“Kita memang penghasil kopi robusta terbesar di Jawa Barat, tapi dari sisi ketersediaan, sulit karena waktu panen langsung diambil pengepul, jadi meski cerita kita besar, kopi Bogornya kadang enggak kelihatan,” ungkap Kabid Perlindungan dan Pelayanan Usaha Distanhorbun Kabupaten Bogor tersebut.
Meski begitu, Bupati Bogor tetap menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan kopi lokal, bahkan secara langsung mengapresiasi cita rasa khas kopi Bogor dalam beberapa agenda resmi pemerintah daerah.
“Pak Bupati sangat konsen, bahkan bilang ‘sayang banget, ini kopi enak, masa enggak bisa kita kembangkan’, tapi memang produksi kita belum bisa dinikmati semua oleh kita sendiri,” ungkapnya.
Untuk sementara, Distanhorbun hanya dapat membeli kopi dari petani untuk keperluan promosi dan pameran, bukan untuk dijual. Dalam berbagai acara kabupaten, kopi Bogor rutin disajikan dalam bentuk seduhan espresso atau americano.
“Kalau ada event, kita seduh langsung, biasanya pakai mesin espresso, tapi kalau listrik enggak memungkinkan, pakai alat Akebono, jadi air panasnya langsung menetes ke bawah tanpa ampas,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa fokus pembangunan daerah saat ini masih diarahkan pada ketahanan pangan sesuai dengan arahan pemerintah pusat. Sektor hortikultura dan perkebunan, termasuk kopi, kemungkinan baru akan mendapat perhatian lebih setelah target ketahanan pangan tercapai.
“Saya yakin dengan kepedulian beliau (Bupati), nanti kalau ketahanan pangan sudah tercapai, hortikultura dan perkebunan akan mulai digarap kembali,” bebernya.
Ia pun berharap dukungan terhadap petani kopi juga datang dari sektor swasta, terutama perusahaan yang memiliki program tanggung jawab sosial (CSR) dan beberapa perusahaan seperti Astra serta BCA telah lebih dulu menunjukkan komitmen tersebut melalui pembinaan berkelanjutan.
“Kami berharap ada lebih banyak perusahaan yang peduli, contohnya Astra dan BCA itu jelas bantuannya, hasilnya terukur, karena ada pembinaan terus-menerus, petani jadi tahu cara tanam dan panen yang bagus, bahkan punya pasar tetap,” pungkasnya.(Cr1)
Editor : Eka Rahmawati