Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Kopi Bogor Harus Menunggu Giliran untuk Dapat Perhatian Khusus

Muhammad Ali • Jumat, 7 November 2025 | 07:43 WIB
Kopi Robusta Java Bogor dikembangkan di Kampung Cikoneng, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, sudah menembus hingga ke pasar Eropa
Kopi Robusta Java Bogor dikembangkan di Kampung Cikoneng, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, sudah menembus hingga ke pasar Eropa

RADAR BOGOR - Kabupaten Bogor sejatinya memiliki potensi besar di sektor kopi. Sebagai penghasil kopi robusta terbesar di Jawa Barat, daerah ini menyimpan cita rasa yang khas dan peluang ekonomi yang menjanjikan. Namun, di tengah upaya mendorong pertumbuhan sektor pertanian, perhatian terhadap komoditas kopi masih harus bersabar menunggu giliran.

Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan dan Pelayanan Usaha Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, J Rahmat, mengungkapkan bahwa Bupati Bogor Rudy Susmanto sebenarnya memiliki kepedulian besar terhadap pengembangan kopi lokal.

Ia mengatakan, pemerintah daerah selalu berupaya menampilkan kopi Bogor dalam berbagai kegiatan resmi.

“Pak Bupati sangat mendukung, karena di antaranya kalau ada acara-acara rapat kabupaten itu kita selalu tampil,” ujarnya kepada Radar Bogor, belum lama ini.

Bahkan, lanjutnya, Bupati Bogor sempat menginginkan agar kopi Bogor bisa menembus pasar ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart tetapi keinginan tersebut belum bisa terealisasi karena terkendala pasokan dan sebagian besar hasil panen kopi di Bogor masih banyak diserap oleh pabrikan besar.

“Pak Bupati sampai menugaskan agar UMKM mendata kebutuhan itu, kalau satu Indomaret saja butuh 10 kilogram kopi per bulan, bayangkan berapa ton yang bisa terserap, tapi kami belum bisa memenuhi karena stoknya tidak mencukupi,” jelasnya.

Ia menambahkan, dari sisi produksi, Bogor memang menjadi penghasil kopi robusta terbesar di Jawa Barat. Namun, ketersediaan di pasar lokal tidak terlihat karena hasil panen langsung diambil oleh para pengepul. Akibatnya, kopi Bogor jarang bisa dinikmati oleh masyarakat Bogor sendiri.

Menurut Rahmat, Bupati Bogor sebenarnya merasa sayang melihat potensi kopi daerah yang belum tergarap maksimal. Dalam beberapa rapat, Bupati sempat menyoroti bahwa kopi Bogor memiliki cita rasa yang enak dan seharusnya bisa lebih dikembangkan.

“Sayang banget, ini kopi enak, masa kita tidak bisa kembangkan,” katanya menirukan ucapan Bupati.

Meski begitu, ia memahami kondisi kebijakan anggaran pemerintah daerah yang saat ini masih berfokus pada sektor ketahanan pangan. Hal tersebut, menurut Kabid Perlindungan dan Pelayanan Usaha Distanhorbun Kabupaten Bogor merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat agar prioritas anggaran diarahkan pada penguatan pangan nasional.

“Sementara ini, kita memang fokus ke ketahanan pangan, jadi kopi dan perkebunan lainnya mungkin belum menjadi prioritas,” imbuhnya.

Namun, promosi kopi Bogor tetap berjalan melalui berbagai kegiatan, dalam setiap acara kabupaten, kopi lokal selalu diseduh dan disajikan, baik dengan mesin espresso maupun metode manual.

Ia bercerita, dinas bahkan menyiapkan peralatan lengkap untuk mendukung promosi tersebut.

“Iya kopi seduh, tapi sementara ini kita pakai mesin espresso. Kalau listrik tidak cukup, kita pakai alat manual seperti Akebono. Rasanya tetap khas, meski kalau espresso terlalu kuat, biasanya kita ubah jadi americano,” katanya.

Meski perhatian pemerintah masih terfokus pada ketahanan pangan, ia tetap optimistis bahwa sektor hortikultura dan perkebunan akan kembali mendapat perhatian di masa mendatang.

“Mudah-mudahan ketahanan pangan segera tercapai, sehingga nanti hortikultura dan perkebunan pun akan mulai digarap kembali,” ungkapnya.

Selain menunggu dukungan pemerintah, ia juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta dan menilai, keterlibatan perusahaan melalui program CSR bisa membantu memperkuat pembinaan petani kopi agar lebih mandiri dan produktif.

“Kami berharap perusahaan-perusahaan yang punya dana CSR bisa ikut membantu petani. Minimal seperti Astra atau BCA, mereka bukan hanya kasih bantuan, tapi juga melakukan pembinaan dan pendampingan terus-menerus,” tuturnya.

Menurutnya, pola pembinaan yang konsisten jauh lebih bermanfaat bagi petani dibanding bantuan sesaat.

“Kalau dibina terus, hasilnya bisa terukur, petani tahu cara tanam yang benar, cara panen yang bagus, dan mereka juga punya pasar tetap,” tambahnya.

Kini, sambil menunggu giliran untuk mendapat perhatian lebih besar, aroma kopi Bogor tetap tercium dari berbagai pelosok daerah. Di tengah fokus pemerintah pada ketahanan pangan, para petani kopi Bogor terus menjaga semangat dan cita rasa khas yang menjadi kebanggaan Kabupaten Bogor.(Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #kopi