RADAR BOGOR – Kabupaten Bogor selama ini dikenal sebagai daerah dengan produksi kopi Robusta terbanyak di Jawa Barat.
Tak hanya melimpah secara jumlah, kopi Bogor juga memiliki karakter rasa yang khas lebih lembut dibandingkan Robusta dari daerah lain.
Namun di balik keunggulan itu, masih terselip tantangan besar, perlindungan petani dari permainan harga para pengepul besar.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Entis Sutisna, mengungkapkan bahwa kopi Bogor menyumbang sekitar 20 persen dari total produksi kopi di Jawa Barat.
“Keunggulannya dari rasa dan teksturnya itu lebih lembut dibandingkan Robusta lain. Itulah yang membuat kopi kita punya sertifikat Indikasi Geografis, karena faktor tanah dan geografisnya unik,” ungkapnya kepada Radar Bogor, Senin 10 November 2025.
Keunikan ini, lanjutnya, telah diuji oleh berbagai lembaga, termasuk Kementerian Hukum dan lembaga lain yang menilai kopi Bogor memiliki ciri khas tersendiri.
Menariknya, bukan hanya Robusta yang memiliki keunggulan, melainkan juga jenis Arabika. Hanya saja, Arabika Bogor punya karakter berbeda dari biasanya.
“Kalau Arabika identik dengan rasa asam, tapi Arabika dari Bogor tidak terlalu asam. Ini yang membuat penikmat kopi bisa langsung membedakan cita rasanya,” jelasnya.
Beberapa wilayah seperti Sukamakmur, Jonggol, Megamendung, dan Babakan Madang disebut sebagai sentra kopi unggulan di Kabupaten Bogor.
“Masalahnya, meski penyumbang kopi terbanyak di Jawa Barat, kita justru kadang susah mencari kopi Bogor. Karena banyak pengepul atau pabrik besar yang langsung membeli dari petani,” ujarnya.
Kondisi ini membuat posisi tawar petani kopi menjadi lemah. Harga sering kali ditentukan oleh pengepul, bukan berdasarkan kualitas biji kopi yang dihasilkan.
Menurut Entis, hal inilah yang sedang dibicarakan antara pihak Distanhorbun dengan Bupati Bogor.
Pemerintah berencana hadir untuk menata kembali tata niaga kopi agar petani bisa mendapatkan keuntungan yang lebih layak.
“Kita sudah diskusi dengan Bupati bagaimana ke depan pemerintah hadir untuk mengurai persoalan pengepul dan pabrik besar yang langsung ke petani. Karena kalau kopinya unggul, tapi petaninya tidak sejahtera, itu percuma,” tegasnya.
Selain menata tata niaga, Pemkab Bogor juga mulai berupaya memperkenalkan kopi lokal secara lebih luas.
Dalam berbagai kegiatan resmi, kopi Bogor mulai disajikan sebagai identitas minuman khas daerah.
“Kami sudah menyiapkan 10 ribu pcs kopi untuk para pegawai yang akan dilantik. Itu bentuk promosi juga. Jadi orang tahu bahwa kopi Bogor memang ada dan layak dibanggakan,” katanya.
Lebih jauh, Pemkab Bogor juga tengah menyiapkan regulasi agar ke depan, nama “Kopi Bogor” bisa menjadi label resmi yang mewakili semua produk kopi dari wilayah Kabupaten Bogor.
“Jangan sampai nanti kalau orang tanya Kopi Bogor, yang muncul malah Kopi Liong atau merek lain. Kita sedang bicarakan supaya benar-benar ada label resmi ‘Kopi Bogor’. Insya Allah tahun 2026 bisa terwujud,” pungkasnya.
Dengan cita rasa khas yang lahir dari tanah pegunungan Bogor dan dukungan pemerintah yang mulai menguat, kopi Bogor perlahan meneguhkan posisinya bukan sekadar hasil bumi, tapi simbol rasa dan identitas daerah.(cr1)
Editor : Alpin.