Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sebut Tiga Kunci Penguatan Relima, Kepala Perpusnas Dorong Terwujudnya Masyarakat Literasi

Septi Nulawam Harahap • Selasa, 11 November 2025 | 15:24 WIB
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz saat Pembukaan Pertemuan Pembelajaran Sebaya Relima di The Highland Park Resort Bogor, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Senin 10 November 2025.
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz saat Pembukaan Pertemuan Pembelajaran Sebaya Relima di The Highland Park Resort Bogor, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Senin 10 November 2025.

RADAR BOGOR - Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz menyebut ada tiga kunci utama dalam memperkuat Relawan Literasi Masyarakat (Relima).

Tiga kunci tersebut adalah semangat, keikhlasan, dan konsistensi.

Hal itu disampaikannya dalam Pembukaan Pertemuan Pembelajaran Sebaya Relima dengan tema "Relima Mendukung Perpustakaan Demi Martabat Bangsa: Aksi Nyata untuk Literasi Inklusif" di The Highland Park Resort Bogor, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Senin 10 November 2025.

"Semangat para Relima sudah tumbuh kuat. Keikhlasan mereka bekerja tanpa mengeluh, meski insentif terbatas ternyata menjadi sesuatu yang tidak dikejar. Konsistensi mereka untuk terus hadir, meski kerap mendapat penolakan, menjadi motor penggerak gerakan literasi," ungkapnya.

Meskipun banyak tantangan dan harapan muncul dari para pegiat literasi di berbagai daerah, namun menurut Aminudin, seluruhnya memiliki tujuan yang sama, yakni membangun masyarakat literat untuk kemajuan bangsa.

"Kita semua punya tujuan yang sama yaitu membangun masyarakat menjadi masyarakat literasi. Masyarakat literat adalah modal utama sebuah negara menjadi maju. Tidak ada yang tidak setuju dengan itu," jelasnya.

Kepala Perpusnas juga menilai, Relima yang diinisiasi secara nasional, merupakan gerakan besar yang tidak kalah penting dibandingkan dengan gerakan literasi lainnya.

Apalagi, ia menambahkan, Relima didukung dengan keberadaan Fasilitator Daerah (Fasda) yang sebelumnya telah berjalan. 

"Persoalannya adalah, silaturahmi belum terbangun antara Relima dan Fasda, sehingga muncul anggapan seolah-olah Relima merupakan pengganti dari forum dan sinergi Perpusnas dengan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Padahal seharusnya terjadi sinergi antara dua sisi ini. Gerakan literasi akan pincang bila berjalan sendiri-sendiri," tuturnya.

Aminudin menegaskan, Perpusnas berkomitmen untuk memperluas gerakan Relima.

Sebagai informasi, tahun ini terdapat 180 Relima dari 178 Kabupaten/Kota, 33 Provinsi di Indonesia, tahun depan dipastikan jumlahnya lebih besar.

"Tahun depan saya pastikan ada lagi, yang jumlahnya justru lebih banyak jumlah lokusnya. Rencananya ada sekitar 350 lokus, berarti ada 350 Relima," tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh Relima untuk memperkuat komunikasi dan sinergi. Ia mengingatkan bahwa perubahan besar berawal dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

"Jika kita tidak dapat mengerjakan hal-hal besar. Mari kita kerjakan yang kita bisa. Hal kecil yang dikerjaan dengan semangat, keikhlasan, dan konsistensi, bila dilakukan bersama akan menjadi besar," serunya.

Pembelajaran Sebaya Relima Tahun 2025 diselenggarakan pada 10–13 November 2025.

Pada hari kedua, kegiatan ini diisi dengan dialog literasi bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Wakil Menteri Dalam Negeri.

Selain itu, juga diisi dengan forum dialog untuk berbagi cerita mengenai karya nyata hasil implementasi di lapangan.(cok)

Editor : Alpin.
#bogor #Perpusnas #literasi digital