RADAR BOGOR - Relawan Literasi Masyarakat (Relima) melakukan dialog interaktif bersama sejumlah tokoh dari Kementerian pada kegiatan Pembelajaran Sebaya Relima Tahun 2025.
Para Relima saling bertukar pikiran bersama sejumlah tokoh di antaranya Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto, dan Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan, Andrey Ikhsan Lubis.
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz mengatakan, dialog tersebut dilakukan dalam rangka penguatan selama bertugas dalam meningkatkan literasi masyarakat.
"Tujuannya supaya para relawan dan fasilitator daerah, betul-betul mendapatkan informasi yang langsung menjadi kebijakan dari para tokoh di Kementerian yang hadir dalam Pembelajaran Sebaya Relima ini," ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa 11 November 2025.
Dialog ini juga, kata Aminudin, menjadi sebuah forum bertukar pikiran tentang persoalan-persoalan yang dihadapi para Relima di lapangan.
Terlebih, para Relima dihadapkan pada berbagai tantangan di era digitalisasi saat ini.
Dengan begitu, dialog ini diharapkan menghasilkan sebuah kebijakan sebagai dasar para Relima dalam mewujudkan masyarakat literat.
"Ini sangat bermanfaat, karena pemahaman para Relima akan menjadi semakin kuat dan menyeluruh. Sehingga ketika bergerak kembali di lapangan, sudah memiliki bekal bagaimana mendorong literasi masyarakat," jelasnya.
Dalam kegiatan dialog tersebut, Wamendikdasmen, Fajar Riza Ul Haq mengungkapkan bahwa banyak hasil penelitian yang menunjukan literasi warga Indonesia yang masih di bawah standar global.
Selain minimnya minat baca, kecenderungan terhadap teknologi menjadi masalah penting sehingga berdampak pada kesehatan mental anak-anak Indonesia.
"Gerakan literasi yang kita lakukan, tidak semata-mata mengajarkan membaca dan menulis, tetapi sebenarnya bagaimana literasi itu bisa memulihkan kelelahan mental yang dilalui anak-anak kita," terangnya.
Kemudian Wamendagri, Bima Arya mengistilahkan Indonesia yang saat ini berada di simpang jalan dan fase yang menentukan.
Bagaimana dihadapkan pada dua tantangan yaitu bonus demografi dan jebakan kelas menengah.
"20 tahun ke depan, kita diprediksi akan menjadi negara maju, 1 dari 5 negara besar dengan ekonomi terbesar di dunia. Dengan satu catatan, kita bisa memanfaatkan bonus demografi dan keluar dari jebakan kelas menengah," tegasnya.
Sehingga, lanjut Bima Arya, literasi menjadi kunci agar para para penerus pemimpin bangsa nantinya dapat berhasil mewujudkan hal tersebut.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan, Andrey Ikhsan Lubis memaparkan, pemerintah di tingkat desa juga berperan dalam meningkatkan literasi masyarakat.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia juga telah menunjukan dukungan kebijakan dalam penguatan budaya literasi di desa melalui Kepmendesa No. 3 Tahun 2024 tentang Panduan Taman Bacaan Masyarakat Desa.
"Kemudian Surat Edaran Bersama Menteri Desa PDTT dan Kepala Perpusnas tentang Peningkatan Budaya Literasi melalui Taman Bacaan Masyarakat Desa/Perpustakaan Desa," tandasnya.(**)
Editor : Alpin.