Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah di Balik Lahirnya Kopi Cibulao dari Hutan Puncak Kabupaten Bogor

Muhammad Ali • Kamis, 27 November 2025 | 22:21 WIB
Petani memanen biji kopi di Kebun Kopi Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.
Petani memanen biji kopi di Kebun Kopi Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

RADAR BOGOR - Di balik sejuknya hamparan perkebunan teh di kawasan Puncak Kabupaten Bogor, tersimpan kisah tentang sebuah kopi yang lahir bukan dari ambisi bisnis, melainkan dari kepedulian terhadap alam.

Kopi itu bernama Kopi Cibulao, tumbuh di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Ketinggian Cibulao sekitar 1.200 hingga 1.400 meter di atas permukaan laut, untuk mencapainya, pengunjung harus melewati jalan berliku di tengah perkebunan teh yang diselimuti kabut tempat di mana aroma Kopi tanah, hujan, dan perjuangan menyatu. 

Ketua Kelompok Tani Cibulao Hijau Karyono mengungkapkan ia merupakan satu orang pertama yang menanam kopi di kawasan hutan Cibulao bukan untuk mencari keuntungan, melainkan demi menjaga hutan agar tetap hijau.

Menurut Karyono, perjalanan Kopi Cibulao bermula dari gerakan lingkungan, sebelum dikenal sebagai penghasil kopi, warga setempat tergabung dalam kelompok penggiat lingkungan sejak tahun 1999. Mereka aktif menjaga kebersihan dan kelestarian hutan di sekitar kawasan Tugu Utara.

“Baru di tahun 2008 kami mulai menanam kopi itu pun awalnya enggak sengaja, istilahnya kepreset, tapi alhamdulillah, dari situ justru muncul berkah,” ujar Karyono kepada Radar Bogor.

Awalnya, penanaman kopi dilakukan bukan karena alasan ekonomi, melainkan strategi menjaga kelestarian hutan. Dengan menanam kopi di bawah pohon besar, masyarakat berharap tak ada lagi penebangan liar.

“Tujuannya sederhana, kalau di bawah pohon ada tanaman kopi, orang jadi mikir dua kali buat nebang. Karena kalau pohonnya tumbang, kopinya juga rusak, jadi kopi ini sebenarnya penyelamat hutan, makanya namanya Kopi Konservasi" jelasnya.

Kebun kopi konservasi di Cibulao ditanami dua jenis kopi utama, yakni robusta dan arabika. Kedua varietas itu tumbuh subur menghasilkan biji kopi dengan cita rasa khas pegunungan Puncak. Seiring waktu, kopi yang dulu ditanam untuk menjaga ekosistem hutan justru menjadi tumpuan hidup masyarakat.

Ia menuturkan bahwa kehidupan warga kini jauh lebih baik dibanding dulu. Jika dulu rata-rata anak-anak di Cibulao hanya menempuh pendidikan hingga SD atau SMP, kini banyak di antara mereka yang bisa melanjutkan sekolah sampai SMA bahkan perguruan tinggi.

“Awal mula Kopi Cibulao terkenal itu ketika pertama kali ikut Kontes Kopi Spesial Indonesia (KKSI) 2016, dan alhamdulillah juara satu,” kenang Karyono dengan bangga.

Sejak kemenangan itu, nama Kopi Cibulao mulai menembus berbagai kafe di Jabodetabek bahkan sampai ke luar negeri.

“Yang sering ambil dari sini itu Jepang, selain itu ada juga dari Singapura dan beberapa negara lain," ungkapnya.

Selain memberikan dampak sosial dan ekonomi, Kopi Cibulao juga dikenal karena cita rasanya yang khas. Tanah subur pegunungan, ketinggian lahan, serta udara sejuk menciptakan karakter rasa kopi yang lembut dengan aroma kuat  ciri khas kopi dataran tinggi Bogor.

“Kawasan Cibulao ini termasuk yang paling tinggi di Bogor dari situ muncul karakter cita rasa kopi yang khas dan disukai banyak orang," tuturnya.

Namun, di balik semua keberhasilan itu, perjuangan para petani belum berhenti. Menurut Karyono, tantangan terbesar justru datang dari dalam dari rendahnya minat belajar dan berkembang di kalangan petani.

“Kalau mau belajar, semua bisa diatasi. Modal uang mah nomor sekian, tapi kalau enggak mau berkembang, ya susah,” katanya.

Meskipun demikian, semangat Karyono tak pernah padam dan ia terus berupaya mengajak petani untuk beradaptasi, belajar, dan bekerja sama dengan berbagai pihak agar Kopi Cibulao terus tumbuh bukan hanya sebagai produk unggulan, tapi juga warisan yang menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.

“Harapan kami sederhana, leuweung hejo rakyat ngejo, masyarakat yang tinggal di dekat hutan juga harus bisa hidup layak, bisa sekolah tinggi karena masa depan hutan itu ada di tangan mereka," tutupnya. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#puncak #cibulao #kopi #kabupaten bogor