RADAR BOGOR – Di tengah hamparan hijau dan udara sejuk pegunungan, aroma kopi menyeruak dari setiap sudut kebun Kopi Cibulao. Bukan sekadar tempat menanam dan memanen, kawasan ini telah menjelma menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat, pelajar, hingga wisatawan mancanegara lewat konsep wisata edukasi kopi.
Karyono, Ketua Kelompok Tani Cibulao Hijau, menuturkan bahwa konsep wisata edukasi ini mulai dijalankan sejak tahun 2016. Awalnya, kegiatan ini diinisiasi bersama mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang datang melakukan pendampingan dan pemetaan wilayah.
“Dari situ muncul ide untuk membuat wisata edukasi kopi, jadi orang tidak hanya minum kopi, tapi juga belajar dari pohonnya, proses pembibitan, sampai mencicipi cita rasa kopinya,” ujar Karyono kepada Radar Bogor.
Sistem kunjungan wisata edukasi, kata Karyono, dilakukan dengan sistem pemesanan terlebih dahulu.
“Biasanya minimal seminggu sebelumnya sudah harus pesan, maksimal dua bulan. Jadi tidak bisa mendadak,” katanya.
Dalam satu paket kegiatan, peserta akan diajak melakukan berbagai aktivitas menarik, seperti adopsi pohon, trekking ke kebun kopi dan teh, serta kaping kopi yakni mengenal dan membedakan cita rasa kopi.
“Kaping kopi itu mengenal cita rasa kopi, biar tahu mana yang arabika, mana yang robusta, sekalian kita cerita sejarah kopi di Cibulao dan konsep kopi konservasi,” jelasnya.
Selain aktivitas di kebun, pengunjung juga dapat menikmati makan siang nasi liwet, sekaligus berinteraksi dengan petani lokal.
Puncak kunjungan wisata edukasi sempat terjadi pada tahun 2019, tepat sebelum pandemi. Dalam enam bulan pertama, tercatat 3.636 peserta mengikuti kegiatan tersebut.
“Waktu itu hampir tiap hari ada kunjungan edukasi, dua tahun belakangan ini mulai naik lagi, sekarang rata-rata 180 peserta per bulan,” katanya.
Peserta yang datang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari sekolah dasar, mahasiswa, lembaga pemerintah, hingga wisatawan mancanegara dari 18 negara.
“Biasanya yang datang dari universitas atau lembaga pemerintah, kalau bule-bule, mereka senangnya yang konsep edukatif, mereka bawa buku, mencatat, benar-benar belajar,” tuturnya.
Meski sempat melonggarkan jadwal kunjungan karena padatnya aktivitas penanaman, tetap berkomitmen menjaga nilai edukatif di setiap kegiatan. Menurutnya, wisata edukasi bukan hanya soal hiburan, tapi juga bentuk pelestarian pengetahuan dan lingkungan.
“Harusnya setiap kunjungan itu ada nilai yang dibawa pulang, jadi apa yang kita jelaskan di sini tidak sia-sia,” pungkasnya. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati