Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

IPB University Dorong Kopi Cibulao dari Puncak Bogor Jadi Simbol Konservasi dan Edukasi Lingkungan

Muhammad Ali • Jumat, 28 November 2025 | 14:11 WIB
Wisatawan saat melakukan wisata edukasi Kopi Cibulao di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.
Wisatawan saat melakukan wisata edukasi Kopi Cibulao di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

RADAR BOGOR – Keberhasilan Kopi Cibulao menembus pasar nasional hingga internasional bukanlah hasil instan. Di baliknya, terdapat perjalanan panjang pendampingan, riset, dan pembinaan yang dilakukan oleh IPB University selama lebih dari satu dekade.

Wakil Rektor IPB University Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Prof. Ernan Rustiadi menceritakan bahwa peran IPB di Cibulao bermula dari upaya penyelamatan kawasan Puncak Bogor yang saat itu menghadapi berbagai persoalan lingkungan.

“Awalnya kami banyak melakukan riset tentang kawasan Puncak karena menjadi sumber masalah lingkungan, terutama banjir, dari situ kami membentuk Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak untuk menangani isu tata ruang, deforestasi, hingga sampah,” ujar Prof Ernan kepada Radar Bogor.

Dalam proses pendampingan tersebut, tim IPB menemukan potensi besar dari masyarakat Cibulao, yang dulunya merupakan perambah hutan dan penanam sayuran di kawasan konservasi. Salah satu keluarga, yakni keluarga Karyono, mulai menanam kopi di tengah hutan.

“Kami melihat ada keluarga di sana yang mulai menanam kopi, tanaman kopi ini menarik karena tidak merusak tanah, bahkan membantu menjaga keseimbangan lingkungan karena membutuhkan naungan pohon hutan,” jelasnya.

Dari situlah IPB mulai mendukung masyarakat beralih dari tanaman semusim ke tanaman kopi yang lebih ramah lingkungan. IPB kemudian menghubungkan petani dengan pelaku usaha kopi di Bogor, salah satunya Tejo dari Kopi Ranin, serta mengundang para ahli agronomi untuk memberi pelatihan terkait budidaya dan pengolahan kopi berkualitas tinggi.

“Kami ajarkan bagaimana cara mengelola kebun kopi yang baik agar produktivitas meningkat, alhamdulillah, sejak 2014 kami mulai intens mendampingi, dan di tahun 2016 Kopi Cibulao ikut kontes kopi spesial Indonesia dan berhasil juara,” kenangnya.

Kemenangan tersebut menjadi titik balik bagi Kopi Cibulao yang kini dikenal luas, seiring waktu, para petani mendapatkan kejelasan status lahan melalui program Perhutanan Sosial, sehingga mereka memiliki hak kelola resmi dan tidak lagi dianggap sebagai perambah hutan.

“Para petani sudah tergabung dalam koperasi dan kelompok tani hutan, mereka bukan hanya petani, tapi juga ada yang jadi barista, punya warung, bahkan kafe sendiri. Perekonomian meningkat dan hutan pun makin lebat dibandingkan dulu,” tuturnya.

IPB juga berperan dalam membantu masyarakat Cibulao menuju ekspor kopi serta mengembangkan sistem jejak asal (traceability) untuk memastikan kopi yang dihasilkan berasal dari kawasan ramah lingkungan.

“Kita sedang memetakan kebun agar setiap kopi bisa ditelusuri asalnya, jadi penikmat kopi tahu bahwa kopi Cibulao bukan hasil perambahan hutan, tapi justru hasil konservasi,” terangnya.

Selain pendampingan teknis, IPB turut mendorong pengembangan wisata edukasi kopi. Wisata ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran tentang konservasi, proses kopi, dan kehidupan masyarakat di kawasan hutan. Ke depan, kawasan ini akan dilengkapi QR code di setiap titik edukasi agar pengunjung dapat membaca penjelasan interaktif layaknya di kebun raya.

“Wisata edukasi sudah berjalan, tapi memang perlu dilengkapi dengan data dan fasilitas pendukung, nanti di titik tertentu pengunjung bisa memindai kode dan mendapat informasi tentang tanaman kopi atau sejarah konservasinya,” jelasnya.

Upaya IPB tak berhenti di situ, universitas juga memberikan Golden Ticket bagi anak-anak Cibulao yang berprestasi agar dapat melanjutkan pendidikan di IPB.

“Itu bentuk apresiasi dari rektor bagi masyarakat yang telah menjaga hutan dan berkontribusi bagi lingkungan,” tambahnya.

Selama lebih dari 11 tahun mendampingi, Prof. Ernan mengakui tantangan terbesar bukan hanya teknis, tetapi membangun kepercayaan lintas pihak mulai dari petani, perhutani, hingga pemerintah daerah.

“Menjaga kepercayaan semua pihak itu tidak mudah, tapi dengan kesabaran, hasilnya sekarang mulai terlihat. Cibulao bukan lagi sekadar kampung di hutan, tapi contoh nyata bahwa pelestarian lingkungan bisa sejalan dengan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#ipb #bogor #puncak #cibulao #kopi