RADAR BOGOR - Di balik harum kopi robusta dan arabika asal Cibulao yang kian dikenal luas, tersimpan kegelisahan para petani di lereng Puncak, Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Mereka masih berjuang sendiri menjaga kualitas kopi tanpa pendampingan memadai dari pemerintah.
Karyono, Ketua Kelompok Tani Cibulao Hijau yang sudah hampir dua dekade mengelola lahan di Kampung Cibulao. Menurutnya, potensi kopi di Jawa Barat, khususnya Bogor, sebenarnya sangat besar tetapi perhatian pemerintah terhadap pengembangan budidaya kopi dinilai belum maksimal.
“Jawa Barat itu sebenarnya belum maksimal, belum banyak tapi selama ini seolah-olah tidak dianggap, tidak diakui, budidayanya juga belum ada yang benar, belum ada pendamping yang kompeten, harusnya ada tenaga ahli,” ujarnya Karyono kepada Radar Bogor.
Ia menilai, keberhasilan petani kopi tidak hanya bergantung pada semangat masyarakat, tetapi juga dukungan dari pemerintah melalui pembinaan dan bibit yang sesuai dengan kondisi geografis daerah.
“Perlu juga didukung dengan bibit yang kualitasnya bagus dan cocok untuk wilayah kami, banyak kesalahan soal kecocokan bibit, dan itu fatal dampaknya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Karyono menyoroti kebijakan pemerintah yang cenderung menyalurkan bibit tanpa mempertimbangkan ketinggian wilayah atau karakter tanah.
“Di Bogor ini rata-rata 95 persen wilayahnya berada di bawah 1.000 MDPL, tapi dinas seringkali kasih jutaan bibit tanpa pikir cocok atau enggaknya yang penting program jalan, bibit tersalurkan, selesai, padahal yang kena dampak langsung itu petani,” katanya.
Karyono juga menilai, komunikasi antara petani dan pihak dinas masih belum efektif, salah satunya karena pendekatan yang digunakan terlalu akademis dan kurang membumi.
“Bahasa akademisi itu susah dipahami petani, kadang cara penyampaiannya bikin petani diam aja, enggak nyambung. Padahal bahasa petani itu bukan dari mulut, tapi dari apa yang dia kerjakan,” ucapnya.
Ia berharap, pemerintah lebih banyak menurunkan praktisi ke lapangan ketimbang hanya akademisi. Menurutnya, pendampingan langsung oleh petani berpengalaman justru lebih efektif.
“Pemerintah harus menjadikan petani mahir sebagai mentor untuk petani lain, walaupun mereka enggak punya ijazah, tapi pengalaman mereka jauh lebih berharga,” tegasnya.
Karyono menyebut sejumlah pihak kampus seperti IPB telah memberikan pendampingan dan pelatihan bagi petani di Cibulao. Salah satu sosok yang menurutnya berperan besar adalah Prof. Ernan Rustiadi, pendamping dari IPB yang aktif memberikan edukasi kepada petani.
“Pak Ernan itu banyak bantu lewat pendidikan dan pendampingan, kadang kami diajak ke Bandung atau daerah lain buat belajar soal robusta atau arabika. Memang enggak semua petani ikut, tapi dampaknya terasa,” ungkapnya.
Menurutnya, meski bantuan dari kampus belum disertai dengan fasilitas fisik seperti alat dan mesin, manfaatnya terasa dalam jangka panjang.
“IPB memang cuma kasih pendampingan dan pelatihan tanpa nominal, tapi itu dampaknya luar biasa," tambahnya.
Kini, meski masih menghadapi berbagai kendala, semangat petani Cibulao untuk terus menanam dan menjaga cita rasa kopi arabika dan robusta khas hutan Puncak Bogor tetap terjaga. Bagi Karyono, perjuangan mempertahankan kopi lokal bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi juga bentuk menjaga identitas wilayah dan warisan alam.(Cr1)
Editor : Eka Rahmawati