RADAR BOGOR – Tak banyak yang tahu, di balik rindangnya hutan di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, terdapat kisah perjuangan panjang masyarakat setempat dalam menjaga kawasan hutan. Melalui tanaman kopi, warga yang dulunya disebut perambah kini menjadi pelopor konservasi.
Ketua Kelompok Tani Cibulao Hijau, Karyono, menceritakan bahwa perjalanan petani di Cibulao tidaklah mudah. Sebelum tahun 2008, masyarakat masih menanam sayuran di kawasan hutan secara sembunyi-sembunyi.
“Tahun 2000 itu masih kucing-kucingan, masih umpet-umpetan, nanyak kawasan hutan dijadikan kebun sayuran. Tapi sekarang sudah berbalik, dari kebun sayur jadi kebun kopi, jadi hutan lagi,” ujar Karyono kepada Radar Bogor.
Karyono menuturkan, perubahan itu bermula pada 2008 ketika Perhutani mulai mensosialisasikan program kerja sama pengelolaan hutan melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS). Masyarakat yang awalnya hanya menggarap secara ilegal akhirnya memiliki ruang legal untuk bertani sekaligus menjaga kawasan hutan.
“Perhutani yang menawarkan program itu, setelah ada evaluasi dan melihat potensi kopi, kami diajak ikut program agar bisa melindungi kawasan hutan lewat tanaman konservatif,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan kopi menjadi solusi ekologis sekaligus ekonomi, selain menahan erosi dan memperkuat struktur tanah, tanaman kopi juga menjadi sumber pendapatan utama masyarakat.
“Kopi itu open produk, sifatnya penyaring dan pengeras tanah, jadi selain menumbuhkan ekonomi masyarakat, kopi juga mengembalikan fungsi hutan,” katanya.
Karyono mengaku bahwa pembelajaran tentang konservasi diperoleh dari pengalaman panjangnya mendampingi masyarakat. Ia sempat melakukan presentasi di IPB University tahun 2023 dan menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar menanam pohon.
“Zaman dulu kalau nanam di bekas longsor disebut konservasi, padahal tidak begitu, harus ada sosialisasi berkelanjutan tentang pentingnya menjaga hutan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, salah satu kunci keberhasilan konservasi di Cibulao adalah keberadaan kelompok tani yang menjadi wadah sosialisasi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Melalui kelompok ini, pengetahuan tentang hutan dan konservasi dapat ditularkan lebih efektif.
“Kelemahan masyarakat dulu itu di SDM, mereka tidak paham hutan, dengan kelompok tani, kita bisa saling belajar dan menumbuhkan kesadaran soal konservasi,” tambahnya
Selain aspek pengetahuan, Karyono menilai peningkatan ekonomi masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian hutan.
“Kalau ekonomi masyarakat tumbuh, mereka tidak lagi menjadikan hutan sebagai sasaran, dulu orang menebang pohon buat kayu bakar karena butuh, sekarang mereka bisa hidup dari kopi,” ucapnya.
Saat ini, seluruh lahan kebun kopi di Cibulao berstatus milik Perhutani, tetapi masyarakat memperoleh hak kelola melalui PKS. Dari total puluhan petani, baru 13 orang yang memiliki legalitas resmi, sementara sisanya bergabung di bawah naungan Kelompok Tani Cibulao Hijau.
“Yang dapat PKS itu sekitar 13 orang, tapi yang terlibat ada sekitar 80 orang, sebagai ketua, saya menanggung jawabkan yang lain juga, supaya semuanya bisa ikut merasakan manfaatnya,” tuturnya.
Baginya, perjalanan dari masa kucing-kucingan hingga memiliki legalitas menjadi bukti bahwa masyarakat mampu bertransformasi menjadi penjaga hutan yang sesungguhnya.
“Keberlanjutan hutan itu ada di tangan masyarakat, kalau dulu hutan rusak karena ketidaktahuan, sekarang kopi jadi jalan untuk memperbaikinya,” pungkasnya. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati