RADAR BOGOR – Setiap kali hujan turun, kekhawatiran itu selalu datang menghampiri keluarga kecil di Kampung Kedung Umpal RT 006 RW 005, Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.
Rumah yang mereka tinggali sudah tidak lagi kuat menahan cuaca. Atapnya lapuk, dindingnya miring, sementara lantainya mulai ambles di beberapa titik. Rumah itu seolah berdiri dengan sisa-sisa tenaganya.
Bagian atap adalah yang paling memprihatinkan. Genteng tua bolong di banyak tempat membuat air hujan bebas masuk.
Dinding yang dulunya kokoh kini penuh retakan besar. Bahkan, ada bagian yang sudah membentuk celah hingga angin malam mudah menyelinap.
Bau lembap pun menjadi aroma harian di rumah tersebut. Untuk kamar mandi hanya bisa digunakan mandi, sementara buang air besar harus menumpang di tempat lain.
Luthfi Muhtadi (41), penyandang disabilitas yang tinggal bersama istri, anak, serta kedua orang tua mertuanya, mengakui betapa berat hidup yang ia jalani.
Kondisinya tak memungkinkan bekerja normal setelah kecelakaan pada 2010 di Jonggol membuatnya harus berjalan dengan tongkat.
“Sekarang kerjaan memandang fisik dan umur. Saya umur segini dan keadaan begini, siapa yang mau terima?” ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa 2 Desember 2025.
Kesulitan ekonomi semakin terasa karena tidak ada penghasilan lain yang bisa diandalkan.
Sumber kehidupan keluarga hanya berasal dari mertua yang bekerja serabutan. “Sekarang penghasilan mertua ngojek di pangkalan dan ngambilin rongsokan untuk dijual,” katanya.
Pendapatan itu tentu jauh dari cukup untuk memperbaiki rumah yang hampir roboh tersebut.
Bahkan, untuk kebutuhan sehari-hari saja keluarga ini harus berhemat sedemikian rupa.
Setiap kali hujan deras, mereka harus memindahkan kasur dan barang-barang ke sudut rumah yang paling sedikit bocor.
Luthfi sudah berulang kali berusaha mengajukan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RuTiLaHu).
Mulai dari kelurahan, kecamatan, pemerintah kabupaten, hingga berbagai akun Instagram pejabat dan instansi terkait telah ia datangi dan hubungi.
“Kelurahan saja katanya ajukan enam, yang keluar cuma tiga. Saya sudah lapor ke IG bupati, wakil bupati, Pemkab Bogor, kecamatan, PUPR, semuanya. Tapi nggak ada respons,” keluhnya.
Ia bahkan pernah mendatangi Bale Panganggeuhan, Gedung Sate Bandung, untuk membuat pengaduan langsung kepada pemerintah provinsi.
Namun jalurnya tetap buntu. Ketika menghubungi Baznas Kabupaten Bogor, jawabannya sama saja karena data sudah masuk.
Ia mencoba menghubungi bagian pendistribusian, tetapi tak pernah mendapatkan balasan pesan maupun telepon.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Luthfi akhirnya memutuskan untuk memviralkan kisahnya di media sosial. “Sekarang tuh kalau nggak viral, nggak bakal dilirik,” ujarnya lirih.
Sementara itu, rumah yang mereka tempati terus memburuk dari hari ke hari.
Atapnya sudah menggantung seperti siap jatuh, balok penopang terlihat rapuh, dan ketika angin kencang bertiup, seluruh bangunan bergetar seolah hendak menyerah.
“Intinya saya pengen dapat bantuan renovasi rumah. Saya disabilitas, harusnya ada jalur khusus. Saya cuma ingin keluarga saya tinggal dengan aman,” tutur pria bertongkat itu.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bogor memberi perhatian lebih kepada warganya yang benar-benar membutuhkan.
“Pemkab jangan cuma ngurusin CFD, tapi urusin juga warganya,” pungkasnya.
Di balik dinding yang hampir roboh itu, ada satu keluarga yang terus bertahan. Mereka bukan hanya menunggu bantuan, tetapi menunggu kepedulian.
Sebab bagi mereka, rumah sederhana itu bukan sekadar bangunan, melainkan tempat terakhir untuk merasa aman. Namun hingga kini, rasa aman itu belum benar-benar datang.(cr1)
Editor : Alpin.