RADAR BOGOR – Kondisi rumah Naman (65), warga RT 07/03 Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Cibinong, selama bertahun-tahun sudah tak layak huni. Bangunan tua yang ia tempati kian hari kian rapuh.
Setiap kali hujan turun, ia harus sigap menyiapkan baskom atau wadah apa pun untuk menampung air dari atap yang bocor.
Jika intensitas hujan tinggi, rumahnya kerap kebanjiran karena genteng yang sudah tak mampu lagi menahan air.
Sehari-hari, Naman bekerja sebagai kuli panggul semen. Ia menunggu truk bermuatan semen di pinggir Setu Cibinong untuk menawarkan jasa panggul secara borongan.
Setelah terjadi kesepakatan upah, ia ikut naik ke truk menuju lokasi toko material pemesan, kemudian kembali diantar ke tempat semula.
“Dalam satu truk itu ada seratus lebih sak semen untuk toko material. Jasa panggul borongan kisaran Rp80.000, biasanya dikerjakan satu orang atau dua orang,” terang Naman kepada Radar Bogor, Selasa 2 Desember 2025.
Pendapatan Naman bergantung sepenuhnya pada jumlah truk yang memakai jasanya dalam sehari.
“Tapi alhamdulillah bawa uang ke rumah Rp60.000 kalau dapat dua rit. Kalau lagi nggak dapat, ya mau diapain atuh. Kadang saya ikut markir juga untuk cari tambahan,” ungkapnya.
Meski hidup pas-pasan, Naman tetap bersyukur. Melalui pengajuan RT setempat, akhirnya ia terdaftar sebagai penerima program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) tahun 2025.
Rumahnya kini akan direnovasi setelah puluhan tahun berdiri dalam kondisi memprihatinkan.
“Alhamdulillah saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dan keluarga dalam program Rutilahu ini,” ujarnya.
Kasi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Pabuaran, Rosita Budiyawati, mengatakan terdapat 20 warga yang mendapatkan bantuan renovasi rumah tidak layak huni pada tahun anggaran 2025.
“Dari parsial APBD melalui DKPP itu ada empat orang, sedangkan melalui usulan dari pokir anggota dewan Kabupaten tahun 2025 ada dua belas orang,” jelasnya.
Setiap rumah, lanjut Rosita, mendapatkan bantuan renovasi senilai Rp20 juta.
Rinciannya terdiri atas Rp17.500.000 dalam bentuk material, Rp2.000.000 untuk biaya tukang, serta Rp500.000 untuk kebutuhan pembuatan laporan.(cr1)
Editor : Alpin.