Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dari Lereng Gunung Batu Desa Sukaharja Sukamakmur Bogor, Kopi Ki Demang Dibangun Secara Swadaya, Kini Jadi Magnet Wisatawan

Muhammad Ali • Sabtu, 6 Desember 2025 | 16:18 WIB
Pemilik Kedai Kopi Ki Demang sekaligus Ketua Kelompok Tani Desa Sukaharja, Andika Aditisna saat memberikan keterangan kepada Radar Bogor.
Pemilik Kedai Kopi Ki Demang sekaligus Ketua Kelompok Tani Desa Sukaharja, Andika Aditisna saat memberikan keterangan kepada Radar Bogor.

RADAR BOGOR – Kopi Ki Demang di Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, tumbuh dari inisiatif swadaya dan kini menjadi magnet bagi wisatawan serta penikmat kopi. Dibangun tanpa bantuan pemerintah, kedai ini tidak hanya menjadi tempat nongkrong, tetapi juga berkembang menjadi destinasi edukasi kopi dan pusat pemberdayaan petani lokal.

Pemilik Kedai Kopi Ki Demang sekaligus ketua kelompok tani Desa Sukaharja, Andika Aditisna, menjelaskan bahwa ide mendirikan kedai lahir dari kebutuhan ekonomi warga dan kondisi panen kopi yang hanya setahun sekali.

“Kalau hanya usaha kopi, panennya kan setahun sekali, kita juga perlu ekonomi yang berjalan setiap hari. Selain itu, dulu tempat ngopi terdekat cuma di Sentul, jadi terpikir bikin kedai di sini,” ujar Andika kepada Radar Bogor, Jumat, 5 Desember 2025.

Letak kedai yang berada dekat destinasi wisata Gunung Batu juga menjadi faktor memudahkan pengunjung mengenal Ki Demang. Sejak 2012, kawasan Gunung Batu memang sudah dikenal sebagai jalur pendakian.

“Orang sudah terbiasa berkunjung ke Gunung Batu, jadi ketika bikin tempat kopi di sini, mereka tidak asing lagi,” tambahnya.

Awalnya, Ki Demang hanyalah kedai kopi kecil tetapi karena pengunjung datang dari jauh untuk melihat potensi kawasan, kebutuhan pun berkembang. Kini, kedai ini juga menyediakan makanan ringan dan restoran sederhana.

“Kita mulai dari kecil, dari kemampuan yang ada, kayu juga dari wilayah sini, anak-anak petani ikut terlibat, ada yang masak, jadi barista, jadi kasir, intinya kita mulai dari apa yang kita punya,” tuturnya.

Meski nama Ki Demang semakin dikenal, termasuk setelah kopi robusta mereka habis diburu warga Belanda di Amsterdam Coffee Festival 2019, Andika menegaskan kopi tidak dijual online.

“Kita harapkan orang yang mau Kopi Gunung Batu atau Kopi Ki Demang datang langsung ke sini, biar sekalian lihat kawasan dan potensi lainnya,” katanya.

Sementara itu, sebagai ketua kelompok tani, Andika menjelaskan para petani Desa Sukaharja rutin mendapatkan pembinaan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor.

“Sejak 2014, kita sudah dibina Distanhorbun, ada pelatihan, studi banding ke Jember, ke pusat-pusat kopi lain. Termasuk pelatihan roasting, serta packaging dari Disperdagin, banyak yang kita rasakan manfaatnya,” jelasnya.

Saat ini, luas kebun kopi di Sukaharja diperkirakan lebih dari 100 hektare, sebagian besar berada di kawasan Perhutani.

“Mayoritas di Perhutani, lahan pribadi sudah jarang, kalau saya sendiri punya kebun di lahan pribadi, tapi mayoritas masyarakat berada di kawasan Perhutani,” tutupnya.

Dari lereng Gunung Batu, kini membuktikan bahwa usaha swadaya bisa tumbuh menjadi magnet wisatawan dan penikmat kopi, sambil memperkenalkan kopi lokal ke tingkat nasional bahkan internasional.

Kepala Distanhorbun Kabupaten Bogor, Entis Sutisna, mengatakan pelatihan yang diberikan tidak hanya dilakukan oleh dinasnya, tetapi juga melalui kolaborasi dengan instansi lain seperti Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin).

“Misalnya untuk packaging dan perizinan itu di Disperdagin, sedangkan kami lebih banyak pada peningkatan kualitas kopi dari mulai pemeliharaan, perawatan, sampai pupuk yang digunakan," pungkasnya.(Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #Desa Sukaharja #Sukamakmur #Ki Demang #kopi