RADAR BOGOR – Perjalanan menuju Kampung Cisadon bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah ziarah kecil menuju dunia yang mempertahankan keaslian rasa. Di balik jalur menanjak, jalan berbatu yang memaksa setiap langkah berhati-hati, serta kabut tipis yang turun tanpa aba-aba, tersimpan warisan rasa yang membuat Cisadon dikenal hingga mancanegara yaitu kopi luwak liar Cisadon.
Kampung kecil di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor ini seakan terpeluk hutan. Udara lembap, aroma tanah basah, dan suara serangga yang tak pernah berhenti menjadi pemandu alami bagi siapa saja yang menapaki jalur menuju lokasi tersebut. Di tengah kehidupan sederhana dan akses yang terbatas, warga mengolah kopi dengan cara paling tradisional tanpa bantuan alat modern.
Tidak seperti kopi luwak dari peternakan, kopi luwak Cisadon benar-benar berasal dari luwak liar yang berkeliaran di hutan sekitar perkebunan. Sebagian warga juga memelihara luwak secara alami dan memberi makan buah kopi pilihan.
“Kalau yang luwak, habis dipungutin, ditutu, dicuci bersih, dijemur lagi. Kalau sudah kering, baru disangrai,” tutur Ujang Usman, petani kopi sekaligus Ketua RT setempat.
Prosesnya sederhana, tetapi sangat bergantung pada alam. Dalam satu musim, warga hanya bisa mengumpulkan beberapa kilogram biji kopi luwak liar. Jumlahnya terbatas, tetapi justru kelangkaan itulah yang menarik pembeli dari Jepang, Korea, China, hingga Amerika.
“Mereka ke sini khusus buat beli kopi,” ujarnya kepada Radar Bogor, Jumat, 12 Desember 2025.
Keunikan rasa kopi luwak lliar Cisadon lahir dari perpaduan tanah hutan, suhu pegunungan, serta proses pengolahan manual.
Ujang mengatakan para pembeli mancanegara menyebut kopi ini memiliki kehalusan rasa dan aroma yang tidak mereka temukan di tempat lain.
Proses penjemuran menjadi tahap paling menantang. Cuaca di kampung ini berubah tanpa pola. Ketika matahari cerah, kopi bisa mengering dalam waktu sepekan. Namun, jika hujan turun berhari-hari, proses tersebut bisa molor hingga sebulan.
“Paling lama sebulan, paling cepat seminggu, di sini cuacanya nggak menentu,” ungkapnya.
Di tengah gelombang modernisasi, warga Cisadon tetap memilih menjaga tradisi. Mesin pengolah kopi sebenarnya bisa mempercepat produksi, namun mereka percaya rasa kopi akan berubah.
“Kalau pakai mesin, hasilnya beda. Kita di sini manual semua,” bebernya.
Kini warga mulai memanfaatkan marketplace seperti Lazada dan Shopee, bukan untuk menjual kopi, melainkan membeli kemasan, stiker, dan label agar produk tampil lebih rapi. Meski begitu, pengiriman barang ke Cisadon masih harus dititipkan ke kampung bawah karena kurir tak bisa menjangkau wilayah tersebut.
Banyak pembeli dari luar daerah datang langsung, bahkan rela berjalan kaki dua jam melewati jalur hutan. Mereka ingin menyaksikan sendiri proses kopi dibuat dijemur, dibilas, ditutu, disangrai, hingga ditakar.
“Katanya mau lihat prosesnya langsung dari kebun,” pungkas Ujang.
Di tengah keterbatasan listrik, sinyal, dan akses jalan, warga Cisadon menjaga cita rasa kopi luwak liar seperti menjaga kehormatan kampung. Setiap biji kopi yang keluar dari hutan ini menjadi bukti bahwa tempat terpencil pun dapat memiliki nama besar.
Dari kampung sunyi di perbukitan Bogor, aroma kopi luwak liar Cisadon kini mengalir menembus batas negeri, membawa cerita tentang alam, tradisi, dan manusia yang teguh menjaga rasa. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati