RADAR BOGOR - Dedikasi luar biasa ditunjukkan Ki Imang, seorang penggarap lahan negara di kawasan Gunung Salak, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.
Selama bertahun-tahun, Ki Imang konsisten menanam pohon di kawasan hutan tanpa menerima bayaran apa pun.
Aksi tulus tersebut menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang secara langsung berdialog dengannya.
Ki Imang sehari-hari menghabiskan waktunya di kawasan Gunung Salak untuk menanami lahan-lahan kosong dengan berbagai jenis pohon.
Dalam perbincangannya dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Ki Imang mengaku hampir setiap hari naik ke Gunung Salak untuk menanam.
“Kalau ada lahan kosong, saya tanami. Tanam terus,” ujar Ki Imang.
Saat ditanya asal bibit tanaman, Ki Imang menjelaskan, ia memungut biji-bijian dari pohon yang tidak dimanfaatkan di sekitar villa.
Salah satunya adalah pohon puspa yang buahnya kerap dibiarkan begitu saja.
“Buahnya dipungut, disemaikan. Kalau sudah jadi bibit sekitar 10 sentimeter, baru ditanam,” katanya.
Bibit-bibit tersebut sebagian ditanam langsung di hutan, sebagian lainnya dibesarkan menggunakan polybag sederhana.
Dalam waktu sekitar tujuh bulan, bibit bisa tumbuh hingga setengah meter dan sesekali dijual untuk menutupi kebutuhan operasional seperti membeli plastik dan bibit tambahan.
Ki Imang juga mengembangkan bibit pohon kayu alam seperti meranti.
Menurutnya, saat ini kayu alam semakin jarang, sehingga upaya pembibitan sangat penting untuk keberlanjutan hutan di masa depan.
Dedi Mulyadi sempat menyoroti bahwa apa yang dilakukan Ki Imang sejatinya merupakan tanggung jawab pemerintah dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Namun, Ki Imang menegaskan bahwa kepedulian terhadap hutan tidak bisa hanya menunggu negara.
“Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Jangan sampai hutan rusak dan longsor,” ujarnya.
Ia menyadari, banyak orang di sekitar kawasan hutan memilih menebang pohon demi keuntungan ekonomi.
Namun, Ki Imang memilih jalan berbeda meski harus hidup sederhana.
“Balasan dari apa yang saya lakukan bukan dari manusia, tapi dari Allah,” tuturnya.
Meski tidak memiliki penghasilan tetap dan hidup jauh dari kemewahan, Ki Imang merasa apa yang dilakukannya adalah bentuk ibadah dan tanggung jawab moral sebagai warga yang tinggal di sekitar hutan.
Menariknya, kawasan Gunung Salak yang ia jaga bersama rekan-rekannya kini relatif aman.
Tidak ada lagi pencurian kayu, dan aktivitas perusakan hutan dapat ditekan.
“Alhamdulillah sekarang aman. Dijaga bareng-bareng,” katanya.
Dedikasi Ki Imang menjadi contoh nyata bahwa menjaga hutan tidak selalu soal proyek besar, melainkan soal konsistensi, keikhlasan, dan kepedulian terhadap lingkungan serta keselamatan bersama. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim