RADAR BOGOR - Di balik hijaunya kawasan Gunung Salak, Kabupaten Bogor, tersimpan kisah hidup sederhana Ki Imang, seorang penggarap lahan negara yang puluhan tahun merawat bibit dan menjaga hutan tanpa imbalan berarti.
Kisah tersebut mencuat saat Ki Imang berdialog langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah pertemuan yang menyentuh soal keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Ki Imang, penggarap lahan negara di kawasan Gunung Salak, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, menceritakan perjuangannya merawat hutan saat bertemu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dalam dialog tersebut, Dedi Mulyadi menanyakan, nilai jual bibit yang selama ini dikelola Ki Imang.
Menurut Dedi, jika bibit seukuran 70 hingga 80 sentimeter dijual oleh pengusaha, harganya mahal, apalagi tinggal ditanam tanpa proses rumit.
Namun kenyataannya, Ki Imang mengaku hanya menjual bibit dengan harga sekitar Rp15 ribuan.
Saat ditanya soal penghasilan, Ki Imang menjelaskan, pekerjaannya tidak memberikan pendapatan rutin.
Bahkan, dalam sebulan pun belum tentu menghasilkan.
Ia merinci proses panjang yang dijalani, mulai dari mengumpulkan plastik, memasukkan bibit, memelihara, hingga menjual dan menanamnya kembali.
“Paling kalau seperti kemarin, dapat sekitar Rp700 ribu,” ujar Ki Imang.
Ki Imang kemudian mengonfirmasi, Rp700 ribu tersebut diperoleh dari sekitar tujuh bulan.
Mendengar itu, Dedi menyayangkan kondisi Ki Imang yang dinilai hidup dalam kesederhanaan ekstrem, padahal perannya sangat besar dalam menjaga hutan.
“Yang mengurus hutan sering kali tidak mendapatkan apa-apa, sementara yang lain bisa dapat jabatan dan keuntungan,” kata Dedi.
Ki Imang menanggapi dengan sikap pasrah.
Ia menyebut pekerjaannya sebagai bentuk ikhtiar mencari keberkahan, bukan semata keuntungan materi.
Baginya, hidup dan mati adalah ketentuan Tuhan, dan mungkin kelak ia hanya dikenang lewat tanaman yang pernah ia rawat.
Ketika Dedi Mulyadi menyebut Ki Imang sebagai sosok yang layak disebut pahlawan lingkungan, Ki Imang menolak dengan rendah hati.
Ia mengaku hanya menjalani hidup dengan keikhlasan, meski dalam keterbatasan.
Dalam perbincangan itu, Dedi Mulyadi sempat menyampaikan keinginan membeli kayu untuk keperluan rumah.
Ki Imang menjelaskan, di kawasan tersebut terdapat sekitar 2.000 pohon puspa gede dan juga kayu rasamala, jenis kayu hutan alam yang terkenal kuat dan berkualitas tinggi.
Sehingga, cocok untuk perabot seperti meja, lemari, hingga tempat tidur.
Namun, meski ditawari harga hingga Rp200 juta, Ki Imang dengan tegas menolak.
Ia menyatakan, tidak berani mengambil kayu hutan karena khawatir merusak gunung dan lingkungan, meskipun dalam kondisi ekonomi sulit.
Bahkan, walaupun Ki Imang tidak makan selama seminggu pun, tetap tidak berani melakukan hal tersebut.
Ki Imang juga menyinggung fenomena penebangan hutan di daerah lain seperti Sumatera.
Menurutnya, pohon yang tumbang secara alami masih bisa diterima, tetapi penebangan yang merusak keseimbangan alam justru menimbulkan bencana, seperti hutan gundul dan banjir akibat kayu hanyut terbawa arus sungai.
Kisah Ki Imang menjadi potret nyata ketimpangan antara penjaga hutan dan pemanfaat hasil hutan.
Di tengah isu kerusakan lingkungan dan krisis ekologi, pengabdian senyap seperti yang dilakukan Ki Imang justru menjadi fondasi penting bagi kelestarian alam Jawa Barat. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim