RADAR BOGOR — Penceramah kondang Gus Miftah menyampaikan pesan keagamaan sekaligus kritik sosial dalam acara Doa Bersama Akhir Tahun 2025 yang digelar di Masjid Nurul Wathon, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis 26 Desember 2025.
Di hadapan Bupati Bogor dan unsur Forkopimda Kabupaten Bogor, Gus Miftah menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukan ditentukan oleh jabatan atau kekayaan, melainkan oleh amal perbuatannya.
“Orang masuk surga itu berdasarkan amalnya, bukan karena perutnya,” ujar Gus Miftah dalam tausiyahnya, Jumat 26 Desember 2025.
Ia mengingatkan para pemimpin daerah agar tidak menambah beban masyarakat. Menurutnya, jika pemerintah belum mampu membuat rakyat bahagia, setidaknya jangan menciptakan kebijakan yang menyulitkan kehidupan mereka.
“Kalau tidak bisa membuat senang, minimal jangan membuat susah. Karena bagi saya, bapak ibu senang itu hukumnya wajib, susah itu hukumnya haram,” tegasnya.
Dalam tausiyahnya, Gus Miftah juga menekankan pentingnya menjaga kebahagiaan, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun rumah tangga.
Ia menilai, rasa bahagia merupakan bagian dari ajaran agama yang sering kali dilupakan. “Jangan takut, jangan sedih. Merasa bahagia itu hukumnya wajib,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan tidak mudah membuka aib orang lain.
Gus Miftah menilai, setiap manusia memiliki kekurangan dan membicarakan kesalahan orang lain hanya akan menimbulkan dampak buruk bagi diri sendiri.
“Jangan pernah gunakan lisan untuk membicarakan aib orang lain. Kalau kita tidak mau aib kita dibuka, jangan membuka aib orang lain,” tuturnya.
Gus Miftah juga menyinggung isu efisiensi anggaran yang tengah menjadi perhatian di berbagai daerah.
Ia menegaskan bahwa efisiensi bukan berarti pengurangan anggaran, melainkan pengalihan ke program-program yang lebih prioritas dan menyentuh kebutuhan rakyat.
“Efisiensi itu bukan pengurangan, tapi relokasi anggaran untuk program yang lebih penting. Mindset ini harus diluruskan agar tidak disalahpahami masyarakat,” jelasnya.
Menutup tausiyahnya, Gus Miftah mengingatkan agar pemerintah tidak abai terhadap penderitaan masyarakat kecil.
Ia menegaskan bahwa jeritan orang miskin harus menjadi perhatian utama dalam setiap kebijakan.
“Jangan sampai suara azan terdengar keras dari pengeras suara yang mahal, tetapi tidak mampu menembus telinga kita sendiri atas jeritan orang miskin yang kelaparan,” pungkasnya.(cr1)
Editor : Alpin.