RADAR BOGOR - Kabupaten Bogor tercatat sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi di Provinsi Jawa Barat.
Kondisi geografis yang didominasi dataran tinggi, perbukitan, dan pegunungan, ditambah curah hujan yang tinggi serta keberadaan tujuh Daerah Aliran Sungai (DAS), menjadi faktor utama meningkatnya risiko bencana alam di wilayah tersebut.
Fakta tersebut tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 2 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2025–2045, yang menyebutkan bahwa karakteristik wilayah Bogor berkontribusi terhadap tingginya potensi bencana seperti tanah longsor, pergerakan tanah, banjir, angin kencang, hingga kebakaran.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, jumlah kejadian bencana dalam kurun waktu 2019 hingga 2023 mencapai ribuan kasus dengan fluktuasi yang signifikan setiap tahunnya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, jumlah kejadian bencana sepanjang periode 2019 hingga 2023 menunjukkan tren fluktuatif dengan kecenderungan meningkat pada tahun terakhir.
Pada tahun 2019 tercatat sebanyak 823 kejadian bencana, kemudian meningkat tajam pada 2020 menjadi 1.337 kejadian.
Jumlah tersebut sedikit menurun pada 2021 dengan 1.283 kejadian, lalu turun signifikan pada 2022 menjadi 564 kejadian.
Namun, pada 2023 jumlah bencana kembali melonjak drastis hingga mencapai 2.161 kejadian.
Secara rinci, bencana tanah longsor menjadi salah satu kejadian paling dominan.
Pada 2019 terjadi 212 kejadian longsor, meningkat menjadi 428 kejadian pada 2020, dan kembali naik menjadi 513 kejadian pada 2021.
Pada 2022 jumlah longsor sempat menurun menjadi 176 kejadian, namun kembali meningkat signifikan pada 2023 dengan total 487 kejadian.
Bencana banjir juga terjadi secara konsisten setiap tahun.
Pada 2019 tercatat 51 kejadian banjir, meningkat tajam pada 2020 menjadi 175 kejadian.
Angka tersebut menurun pada 2021 menjadi 112 kejadian dan kembali turun pada 2022 dengan 55 kejadian, sebelum kembali meningkat pada 2023 sebanyak 87 kejadian.
Sementara itu, kejadian kebakaran mulai tercatat sejak 2021 dengan 27 kejadian, kemudian menurun menjadi 17 kejadian pada 2022, dan kembali meningkat pada 2023 dengan 49 kejadian.
Bencana angin kencang menunjukkan jumlah kejadian yang cukup tinggi setiap tahunnya, yakni 244 kejadian pada 2019, meningkat menjadi 375 kejadian pada 2020, lalu 449 kejadian pada 2021.
Pada 2022 jumlah kejadian angin kencang menurun menjadi 192, namun melonjak drastis pada 2023 hingga mencapai 699 kejadian.
Untuk bencana kekeringan, kejadian mulai tercatat pada 2021 dengan 20 kejadian, menurun menjadi delapan kejadian pada 2022, dan meningkat sangat signifikan pada 2023 dengan 643 kejadian.
Selain itu, pergeseran tanah juga mulai tercatat sejak 2021 dengan 56 kejadian, menurun menjadi 34 kejadian pada 2022, dan kembali meningkat menjadi 44 kejadian pada 2023.
Kejadian gempa bumi tercatat relatif kecil namun menunjukkan peningkatan, yakni dua kejadian pada 2021, sepuluh kejadian pada 2022, dan meningkat menjadi 44 kejadian pada 2023.
Adapun kejadian bencana lain-lain tercatat sebanyak 316 kejadian pada 2019, meningkat menjadi 359 kejadian pada 2020.
Kemudian, menurun menjadi 104 kejadian pada 2021, 72 kejadian pada 2022, dan kembali meningkat menjadi 108 kejadian pada 2023.
Banjir dan Longsor Dominasi Bencana
Tingginya angka kejadian banjir di Kabupaten Bogor disebabkan oleh belum optimalnya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) serta sistem pengendalian air limpasan hujan.
Kondisi tersebut menjadikan banjir sebagai bencana yang paling sering terjadi dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, tanah longsor menempati posisi kedua sebagai bencana terbanyak.
Hal ini dipengaruhi oleh kondisi topografi dan morfologi wilayah Kabupaten Bogor yang sebagian besar berada pada zona rawan gerakan tanah.
Kerusakan kawasan perbukitan akibat perubahan tata guna lahan juga memperparah risiko terjadinya longsor.
Pemerintah daerah menilai bahwa data tersebut menjadi dasar penting dalam perencanaan pembangunan jangka panjang, khususnya dalam upaya pengurangan risiko bencana dan penataan ruang yang lebih berkelanjutan di Kabupaten Bogor. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti