RADAR BOGOR - Eni Nurhayati, masih menanti kepulangan Akim (38). Hampir genap sepekan terjebak di dalam lubang tambang emas, sang suami belum juga pulang.
Akim merupakan satu dari sebelas warga Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, yang menjadi korban dari asap berbahaya yang muncul dari dalam lubang tambang emas, Blok Cepu, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, pada Selasa, 13 Januari 2026 lalu.
Dari sebelas korban, lima berhasil selamat. Sementara enam lainnya terjebak di dalam lubang. Terakhir, tim gabungan telah mengevakuasi tiga korban di antaranya, Jaka (32), Edi (34), dan Isep Septiana (26). Sementara tiga korban lainnya belum ditemukan. Termasuk Akim.
"Saya sempat larang karena cuacanya sedang hujan terus. Tapi suami saya maksa untuk berangkat kerja," tutur Eni mengenang percakapan terakhir dengan Akim.
Lantaran terbentur keadaan, Akim bersikukuh pergi mencari emas meski ia sadar akan bahaya yang mengancam.
Selama ini, kata Eni, suaminya memang berprofesi sebagai tukang panggul karung berisi emas mentah. Namun sejak tiga bulan belakangan, Akim memutuskan untuk terjun langsung ke dalam lubang.
Dengan harapan, ia mendapat keuntungan lebih dan sedikit merubah nasib keluarganya. Terlebih Akim dan Eni dikaruniai lima orang anak yang perlu dijamin masa depannya.
Namun betapa terkejutnya Eni saat mendapat kabar sejumlah penambang emas tanpa izin (PETI) terjebak di lubang dalam insiden munculnya asap berbahaya Selasa lalu.
Dari kesaksian para korban yang selamat, Eni terkujur lemas saat mendengar suaminya yang masih terjebak di dalam lubang. Bahkan hingga Senin (19/1), hampir genap sepekan.
"Mohon maaf kekurangannya, hanya itu yang bisa disampaikan, minta doanya saja agar segera dievakuasi," harap Eni.
Terpisah, Java Region, CSR and Sub Division Head PT Antam Tbk UBPE Pongkor, Agustinus Toko Susetio menyebutkan bahwa korban dalam insiden tersebut bukan merupakan pegawai ANTAM, melainkan para penambang emas ilegal.
"Karena misi kemanusiaan, sehingga kami turut terlibat dalam proses evakuasi. Namun kami pastikan mereka beroperasi di titik yang bukan wilayah operasional ANTAM," tegasnya.
Terkait penyebab munculnya asap berbahaya yang mengandung gas karbon monoksida (CO), pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian untuk melakukan penyelidikan.
Sementara itu, Kapolsek Nanggung AKP Ucup Supriatna menyatakan bahwa investigasi terkait insiden ini masih dalam proses pendalaman.
Pihaknya pun melibatkan Satuan Dirkrimsus Polda Jabar, dan juga Puslabfor Mabes Polri untuk mengungkap sumber dan penyebab dari munculnya acap sehingga menimbulkan korban jiwa.
"Namun yang jelas kami masih fokus dalam misi kemanusiaan, kami juga mendirikan posko siaga untuk menerima laporan terkait adanya penambahan korban," tukasnya.(cok)
Editor : Alpin.