Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Diskanak Kabupaten Bogor Nilai Kematian Ribuan Ikan Sapu-sapu Indikasikan Gangguan Lingkungan di Situ Citongtut Gunung Putri

Muhammad Ali • Senin, 26 Januari 2026 | 20:18 WIB
Ketua Tim Pengawas Sumber Daya Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Diskanak saat dimintai keterangan Radar Bogor di Setu Citongtut, Kecamatan Gunung Putri, Senin 26 Januari 2026.
Ketua Tim Pengawas Sumber Daya Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Diskanak saat dimintai keterangan Radar Bogor di Setu Citongtut, Kecamatan Gunung Putri, Senin 26 Januari 2026.

RADAR BOGOR – Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Bogor menilai kematian ribuan ikan sapu-sapu di Setu Citongtut, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, mengindikasikan adanya gangguan lingkungan yang berada di luar batas kemampuan biologis perairan.

Ketua Tim Pengawas Sumber Daya Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Diskanak Kabupaten Bogor, Yayan Buduayana, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu merupakan salah satu jenis ikan yang kerap dijadikan indikator pencemaran di suatu perairan.

“Kalau di perairan itu ikan-ikan lain sudah mati, biasanya ikan sapu-sapu masih tahan. Kebanyakan ikan mati karena kekurangan oksigen,” ujarnya kepada Radar Bogor, Senin 26 Januari 2026.

Menurutnya, kematian ikan secara massal sering kali dikaitkan dengan kekurangan oksigen, misalnya akibat kekeruhan air karena hujan dan debit air yang besar. Namun, kondisi tersebut umumnya masih dapat ditoleransi oleh ikan sapu-sapu.

“Kalau matinya sekadar karena kekurangan oksigen, biasanya ikan sapu-sapu masih tahan. Ikan sapu-sapu disimpan di luar air selama 30 jam saja masih bisa hidup, dan ketika diberi air sedikit bisa hidup kembali,” katanya.

Namun, ketika ikan sapu-sapu ikut mati, Yayan menilai kondisi perairan tersebut sudah berada di luar batas biologis ikan.

“Kemungkinan ada faktor lain selain kekurangan oksigen yang menyebabkan kematian ikan,” tegasnya.

Ia menyebutkan, Diskanak belum dapat memastikan secara rinci kondisi lingkungan apa yang menjadi penyebab utama.

Namun, faktor tersebut berada di luar persoalan oksigen terlarut dan menunjukkan adanya gangguan lingkungan yang belum teridentifikasi.

Dari sisi perikanan, Diskanak terlebih dahulu memastikan apakah kematian ikan disebabkan oleh serangan penyakit ikan atau faktor lingkungan. Beberapa penyakit ikan, seperti Aeromonas maupun Koi Herpes Virus (KHV), juga dapat menyebabkan kematian ikan.

“Kalau karena penyakit, kematian ikan biasanya terjadi secara bertahap, bisa dalam empat hari hingga satu minggu. Tapi kalau karena faktor lingkungan, seperti kekurangan oksigen atau perubahan kondisi air yang ekstrem, kematian bisa terjadi dalam waktu singkat dan langsung massal,” paparnya.

Yayan menambahkan, pihaknya juga melakukan pengecekan kondisi fisik perairan, termasuk di area inlet, untuk melihat perbedaan sumber aliran air.

Namun, sebagian aliran diketahui telah tercampur akibat kebocoran saluran.

Terkait dugaan pencemaran, Yayan menegaskan bahwa hal tersebut menjadi kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor.

“Kami hanya memastikan apakah perairan ini masih layak untuk kehidupan ikan, dilihat dari faktor fisik, kimia, dan biologis,” pungkasnya.(cr1)

Editor : Alpin.
#Diskanak Kabupaten Bogor #Situ Citongtut #DLH Kabupaten Bogor