RADAR BOGOR — Di tengah derasnya arus industrialisasi yang mengubah wajah Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, sebuah rumah sederhana di Desa Mampir masih menyimpan denyut tradisi lama.
Dari sudut rumah itu, suara gesekan bambu dan pisau kecil terdengar pelan, menandai aktivitas yang kian jarang dijumpai.
Sainan bin Saiman (86) duduk bersila dengan tubuh sedikit membungkuk, tangannya cekatan menyusun bilah bambu menjadi anyaman, aktivitas ini telah ia lakukan hampir sepanjang hidupnya, jauh sebelum kawasan Cileungsi dipenuhi pabrik dan bangunan industri.
Bagi Sainan, menganyam bambu bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari hidup yang tak terpisahkan.
“Dari bocah saya udah nganyam, dari tahun lima puluhan," kenangnya mengingat masa ketika kerajinan bambu menjadi nadi kehidupan masyarakat Desa Mampir.
Sejak kecil, Sainan telah akrab dengan bambu dan tumbuh di lingkungan yang menjadikan kerajinan bambu sebagai sumber penghidupan utama.
Hingga kini, di usia yang hampir satu abad, ia masih memproduksi asepan, wadah bambu yang dahulu menjadi perlengkapan rumah tangga hampir setiap keluarga.
Dalam sehari, jika kondisi tubuhnya memungkinkan, Sainan mampu menyelesaikan sekitar sepuluh buah asepan, jumlah itu bergantung pada kesehatan dan ketekunannya, namun ia tetap berusaha konsisten menjaga ritme kerja meski usia tak lagi muda.
“Tergantung rajin atau enggaknya, kalo dapet sepuluh biji ya dapet satu hari," ujarnya sambil tersenyum tipis
Bagi Sainan, kerajinan bambu bukan hanya cara untuk bertahan hidup secara ekonomi, pekerjaan ini adalah warisan leluhur yang telah ada jauh sebelum dirinya lahir. Nilai itu yang membuatnya bertahan hingga kini, meski hasil yang diperoleh tidak besar.
Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun oleh keluarga dan masyarakat desanya.
“Dari nenek moyang saya udah ada, saya mah nerusin,” tuturnya singkat, namun penuh makna.
Pada masa lalu, Desa Mampir dikenal sebagai kampung pengrajin bambu. Setiap kampung memiliki spesialisasi produk yang berbeda-beda, sehingga roda ekonomi desa berputar dari hasil anyaman, pola itu membuat masyarakat saling bergantung dan memperkuat identitas desa sebagai sentra kerajinan bambu.
Namun, seiring waktu, tradisi tersebut perlahan memudar dan kini hanya tersisa segelintir pengrajin berusia lanjut.
“Saya bikin asepan aja, Bokoko lain kampung, bakul lain lagi kampung, model isikan juga lain kampung, jadi sekampung-sekampung,” kata Sainan kepada Radar Bogor saat ditemui di kediamannya, Sabtu 31 Januari 2026.
Hasil anyaman bambu buatan Sainan dijual kepada pengepul, harga jualnya relatif kecil, namun ia memilih jalur tersebut karena lebih praktis dan menjamin hasil produksinya terserap pasar.
Saat ini, satu buah asepan dihargai Rp6.000 atau Rp120.000 per kodi, untuk bahan baku, Sainan harus membeli bambu seharga Rp25.000 per batang, yang dapat menghasilkan sekitar sepuluh asepan.
“Jual ke pengepul, gampang duitnya walaupun kecil juga," ucap Sainan
Meski keuntungan yang diperoleh tidak besar, Sainan mengaku tidak pernah mengalami kendala pemasaran.
Menurutnya, permintaan terhadap produk anyaman bambu tetap ada, sehingga tidak pernah ada istilah barang tak laku.
Kondisi tersebut membuatnya masih mampu bertahan, meski secara ekonomi hasilnya pas-pasan.
“Nggak ada hambatan, karena ada yang nampung, murah atau mahal juga tetap laku," ungkapnya.
Di balik ketekunannya, Sainan menyimpan kegelisahan tentang masa depan kerajinan bambu.
Generasi muda Desa Mampir kini lebih memilih bekerja di pabrik-pabrik yang bermunculan di kawasan Cileungsi, kondisi ini membuat regenerasi pengrajin bambu nyaris terputus dan tradisi perlahan ditinggalkan.
“Sekarang mah anak-anak pada kerja di pabrik, kalo dulu saya mah gak ada pabrik,” tambahnya.
Kegelisahan itu semakin terasa karena di dalam keluarganya sendiri tak ada yang melanjutkan profesi sebagai pengrajin bambu.
Anak-anaknya memilih jalan hidup lain, meninggalkan kerajinan yang telah ia tekuni puluhan tahun. Kini, pengrajin bambu di Desa Mampir didominasi oleh mereka yang telah lanjut usia.
“Anak saya pada gak mau, tinggal yang tua-tua aja,” katanya lirih, sambil menatap anyaman bambu di hadapannya.
Meski demikian, Sainan tetap menyimpan harapan. Ia berharap alam masih menyediakan bambu dan tradisi ini tidak sepenuhnya hilang, harapan itu ia sandarkan pada Tuhan, sambil terus menganyam selama tenaganya masih ada.
Baginya, selama bambu masih tumbuh, warisan leluhur masih punya kesempatan untuk bertahan.
"Semoga aja berharap sama allah, ada bambu aja sampai nanti saya gak ada, jangan sampe gak bambunya, karena bahan pokoknya bambu," pungkasnya.
Di usia 86 tahun, Sainan masih setia menganyam bambu di sudut rumahnya, setiap anyaman yang ia hasilkan bukan sekadar barang dagangan, melainkan jejak sejarah dan simbol keteguhan seorang pengrajin dalam menjaga warisan leluhur Desa Mampir di tengah perubahan zaman.(cr1)
Editor : Alpin.