Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Pengepul Jadi Penyelamat Kerajinan Bambu Turun Temurun di Desa Mampir Cileungsi Bogor

Muhammad Ali • Sabtu, 31 Januari 2026 | 20:29 WIB
Sanang (57), pengepul kerajinan bambu di Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, menyusun hasil anyaman bambu yang dikumpulkan dari para pengrajin sebelum dipasarkan ke luar daerah.
Sanang (57), pengepul kerajinan bambu di Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, menyusun hasil anyaman bambu yang dikumpulkan dari para pengrajin sebelum dipasarkan ke luar daerah.

RADAR BOGOR — Di tengah semakin minimnya regenerasi pengrajin bambu di Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, peran pengepul menjadi salah satu penopang utama agar kerajinan tradisional ini tetap bertahan.

Sanang (57), salah satu pengepul kerajinan bambu di Desa Mampir, hingga kini masih konsisten menampung hasil produksi puluhan pengrajin yang menggantungkan hidup dari kerajinan turun-temurun tersebut.

Sanang mulai terjun sebagai pengepul kerajinan bambu sejak 2011, sebelumnya, ia bekerja di sebuah pabrik keramik di wilayah Cibugis, setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menerima pesangon memutuskan kembali ke kampung halaman dan memulai usaha sebagai pengepul kerajinan bambu.

“Begitu punya modal sedikit demi sedikit, saya mulai beli dan jadi pengepul. Setiap minggu, bahkan setiap hari, banyak masyarakat yang bawa ke sini, lalu saya beli,” ujar Sanang kepada Radar Bogor, Sabtu, 31 Januari 2026.

Sanang menjelaskan, hasil kerajinan bambu yang dikumpulkannya kemudian dijual ke berbagai daerah, pembeli datang dari Karawang, Dengklok, hingga Citeureup. Meski di kampung sendiri penggunaan barang tersebut mulai jarang, permintaan dari luar daerah justru masih terus mengalir.

“Setiap lima belas hari pasti ada yang belanja ratusan kodi,” ungkapnya.

Saat ini, Sanang memberdayakan sekitar 40 kepala keluarga (KK) pengrajin bambu di Desa Mampir, para pengrajin tersebut secara rutin menyetorkan hasil kerajinan bambu ke tempatnya, sehingga ia menjadi pengepul utama kerajinan bambu di wilayah tersebut.

Jumlah hasil kerajinan bambu yang disetorkan para pengrajin bervariasi, tergantung tingkat kerajinan masing-masing. Dalam satu minggu, seorang pengrajin bisa menghasilkan antara 60 hingga 100 buah. Sistem yang diterapkan bersifat borongan, sehingga penghasilan pengrajin sangat bergantung pada intensitas kerja mereka.

“Kalau dihitung, satu minggu saya narik dari pengrajin seratus kodi, sekodinya dua puluh, berarti sekitar dua ribu,” katanya.

Selain menampung hasil produksi, Sanang juga menyediakan bahan baku bambu untuk para pengrajin. Bambu tersebut didatangkan dari wilayah Cikalong menggunakan mobil truk, kemudian dibeli oleh para pengrajin.

Ke depan, Sanang berharap keberadaan pengepul dapat terus membantu para pengrajin bertahan. Ia juga berharap jumlah konsumen meningkat serta harga jual anyaman bambu dapat mengalami kenaikan, sehingga kesejahteraan pengrajin ikut terdongkrak.

“Harapan saya semoga konsumen lebih banyak, usaha lancar, dan ada peningkatan harga,” pungkasnya.(Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #kerajinan bambu #pengepul #cileungsi #desa mampir