RADAR BOGOR - Pemerintah Kabupaten Bogor terus menjaga kelestarian Sumber Mata Air Ciburial yang terletak di Kecamatan Ciomas.
Kawasan seluas 14 hektare ini, memiliki peran vital sebagai pemasok air bagi Istana Negara Bogor dan Istana Merdeka Jakarta sejak masa kolonial Belanda pada 1922.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto menegaskan, kawasan Ciburial tidak hanya berstatus sebagai cagar alam, tetapi juga memiliki nilai cagar budaya karena sejarah panjang pemanfaatannya sebagai sumber air strategis nasional.
Rudy Susmanto menjelaskan, dari kawasan inilah aliran air mengalir ke berbagai wilayah, mulai dari Kabupaten dan Kota Bogor hingga ke pusat pemerintahan di Jakarta, dan telah dimanfaatkan oleh para presiden sejak era Soekarno hingga Prabowo Subianto.
Menurut Rudy, Pemerintah Kabupaten Bogor menjaga kawasan tersebut secara ketat, termasuk dengan membatasi akses masuk yang harus didampingi petugas Perumda Air Minum Tirta Kahuripan.
Hal itu dilakukan demi melindungi ekosistem alami yang masih terjaga serta keberadaan satwa liar di dalam kawasan.
"Hati-hati banyak ular," ucap Bupati Bogor, Rudy Susmanto.
Pemkab Bogor juga secara aktif melakukan perluasan kawasan lindung dengan membeli lahan milik warga guna menjaga tutupan vegetasi.
Langkah ini diambil untuk mencegah penurunan debit air akibat berkurangnya pepohonan dan meningkatnya permukiman.
Selain menjaga kawasan hulu, pemerintah daerah juga membangun sumur resapan di berbagai titik sebagai bagian dari strategi mempertahankan ketersediaan air bersih jangka panjang.
Di kawasan Ciburial terdapat total 13 sumber mata air, namun saat ini hanya 9 yang dioperasikan.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto menilai keandalan sistem distribusi air peninggalan masa lampau yang mampu mengalirkan air hingga ke Jakarta tanpa mesin besar menjadi bukti kecanggihan teknologi pada zamannya.
Sumber mata air tersebut hingga kini tetap menyuplai kebutuhan air untuk wilayah Kabupaten dan Kota Bogor, Istana Negara Bogor, hingga Istana Merdeka Jakarta, sekaligus menjadi aset penting yang terus dilindungi demi keberlanjutan lingkungan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim