RADAR BOGOR - Hana Hanifah, bayi 8 bulan asal Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor menderita penyakit Atresia Billier.
Penyakit langka pada saluran empedu itu, menyerang bayi 8 bulan tersebut di tengah keterbatasan ekonomi pihak keluarga.
Merupakan anak dari pasangan Hermawan(35) dan Siti Hanifah(25), bayi 8 bulan itu kini masih menjalani perawatan intensif di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
"Sudah 20 hari dirawat, tetapi kata dokter fungsi hatinya sudah rusak. Perutnya juga sudah semakin besar," ungkap Siti Hanifah saat dihubungi, Kamis 5 Februari 2026.
RSCM bukan rumah sakit pertama tempat Hana dirawat. Sebelumnya, bayi malang itu sempat dibawa ke sejumlah rumah sakit di wilayah Bogor imbas penyakit yang dideritanya.
Namun kondisinya kian memburuk hingga harus dirujuk ke RSCM yang mampu menerima pasien Atresia Billier.
Dirujuknya Hana ke RSCM bukan perkara mudah bagi Siti dan suaminya. Biaya pengobatan Hana selama ini juga telah menguras seluruh tabungan pasangan tersebut.
"Kami sempat ngontrak rumah karena Hana harus bolak-balik RSCM, tetapi cuman dua minggu karena gak mampu bayar full sebulan. Setelah itu kami numpang di rumah singgah selama 11 hari sampai Hana masuk IGD," tutur Siti.
Hana sebenarnya memiliki BPJS. Namun jaminan sosial pemerintah itu tidak menanggung semua kebutuhan obat-obatan serta vitamin untuk Hana. Termasuk biaya terapi Rp190 ribu per hari.
"Hana harus terapi obat selama 6 minggu. Kalau ditotal, ternyata sampai Rp8 juta. Biaya cek lab Rp1,9 juta juga tidak dicover BPJS," beber ibu kandung Hana itu.
Untuk menutupi biaya-biaya tersebut, Siti hanya bisa mengandalkan suaminya yang berjualan permen keliling.
Itu pun harus menyewa motor orang lain setelah motor milik Hermawan dijual untuk menutup biaya pengobatan Hana.
Menurut Siti, satu-satunya cara agar bayi 8 bulan itu dapat sembuh dari Atresia Billier yakni dengan cara transplantasi atau cangkok hati di antara kedua orang tuanya. Meski hanya berpeluang 50 persen. Sialnya, BPJS juga tidak meng-cover metode tersebut.
"Biayanya nggak bisa dicover BPJS. Dokter nggak kasih tahu biayanya berapa, tetapi saya tanya ke orang yang sudah pernah transplan itu katanya harus punya minimal Rp250 juta. Kami tidak mungkin sanggup," keluhnya.
Saat ini, Siti hanya bisa pasrah seraya berharap pertolongan pemerintah. Bukan tidak ingin mendonorkan hatinya untuk sang putri, namun lantaran terkendala biaya. (cok)
Editor : Yosep Awaludin