RADAR BOGOR — Harapan baru bagi petani kopi di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.
Untuk pertama kalinya, buyer kopi asal Mesir datang langsung menemui petani guna melihat potensi biji kopi yang selama ini hanya dipasarkan melalui tengkulak.
Pertemuan tersebut difasilitasi oleh Komandan Lanud Atang Sendjaja, Marsekal Pertama TNI A. F. Picaulima.
Ia menjelaskan, sebagian besar petani kopi di wilayah tersebut sebelumnya kesulitan memasarkan hasil panen, sehingga banyak lahan kopi tidak terkelola maksimal dan bahkan ditinggalkan.
“Dulu disini petaninya petani kopi, tapi sebagian besar akhirnya ini dan itu, sebagian besar ada yang bisa gak lahan garapan kami di over handle," ujarnya kepada Radar Bogor, Sabtu 7 Februari 2026.
Kondisi tersebut mendorong Picaulima untuk mempertemukan langsung petani dengan buyer.
Menurutnya, dengan adanya kepastian pasar, petani akan kembali bersemangat mengelola lahan dan meningkatkan kualitas hasil panen.
"Hari ini kan yang tadi disampaikan buyer langsung datang bertemu dengan petani. Sehingga, ada harapan petani untuk tanaman tanaman yang selama ini tidak diurus lah istilahnya, tumbuh begitu saja dengan hasil panen seadanya," jelasnya.
Ia menambahkan, pertemuan tersebut membangkitkan semangat petani untuk kembali mengelola lahan secara serius agar hasil panen dapat meningkat hingga berlipat ganda.
"Harapan saya kepada petani mengelola lahan disini, karena lahan ini kalau tidak digunakan sayang sekali, karena tempat ini cukup subur," ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan Haggag Co Egypt, A. Maharani Utoyo, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan melihat langsung kualitas biji kopi dari kawasan Gunung Wangu yang berpotensi untuk diekspor ke Mesir.
"Haggag Co Egypt adalah eksportir ke mesir, jadi potensi datang ke sini untuk melihat biji kopi yang ada di sekitar gunung wangu ketemu dengan para petani," ucapnya.
Menurutnya, kopi Robusta menjadi komoditas utama yang dibutuhkan pasar Mesir, meski Arabika juga tetap diminati meski dalam jumlah lebih terbatas.
"Jadi Robusta yang paling banyak untuk di ekspor ke mesir, Arabika karena produksinya gak banyak kita juga ekspor ke mesir," tuturnya.
Dari hasil kunjungan tersebut, Haggag Co Egypt memperkirakan potensi produksi kopi di kawasan Gunung Wangu mencapai sekitar 200 ton.
Proses ekspor nantinya akan melalui tahapan pengumpulan, grading, penyesuaian kadar air, sebelum dikirim ke Mesir menggunakan karung goni.
"Jadi tergantung, karena ini kan medannya gunung ya, biasanya kalau satu hektar itu 3 - 4 ton standarnya," tambahnya.
Terkait waktu ekspor, Maharani menyebut panen kopi diperkirakan berlangsung dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
"Karena menunggu masa panen biasa kalau kopi ini bulan april sudah mulai berbuah dan berbunga," tutupnya.
Dengan hadirnya buyer langsung ke desa, petani Karang Tengah kini memiliki harapan baru untuk meningkatkan kesejahteraan, sekaligus lepas dari ketergantungan pada tengkulak yang selama ini menjadi satu-satunya jalur pemasaran hasil panen kopi.(cr1)
Editor : Alpin.