RADAR BOGOR – Dari kejauhan, bangunan berwarna putih itu tampak berkilau diterpa cahaya matahari, yakni Masjid Budi Guna.
Kubah Masjid Budi Guna besar berdiri anggun, dikelilingi kubah-kubah kecil yang simetris, sementara sebuah menara menjulang seolah menjadi penanda arah bagi siapa saja yang melintas.
Sekilas, orang mungkin merasa sedang berada di pelataran Taj Mahal, India. Namun bangunan megah itu berdiri kokoh di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, yang bernama Masjid Budi Guna.
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia telah menjelma menjadi ikon religi baru di Bogor dengan arsitektur yang tak lazim.
Warna putih yang dominan, lengkung pintu dan jendela khas Timur Tengah, serta proporsi kubah yang megah menciptakan kesan monumental sekaligus menenangkan.
Di halaman masjid, suasana terasa teduh. Angin yang berembus pelan menyapu pelataran, sementara beberapa santri tampak berlalu-lalang dengan pakaian sederhana. Perpaduan antara kemegahan arsitektur dan kehidupan pesantren yang bersahaja menghadirkan kontras yang unik.
Salah satu Santri, Zidan Juniar (18), menyebut desain bangunan ini menjadi daya tarik tersendiri.
Menurutnya, hingga kini belum ada masjid di Indonesia dengan bentuk serupa.
“Unik ya, karena sejauh ini di Indonesia belum ada bangunan masjid seperti ini. Adanya di India, makanya dibilang unik, karena bisa dibilang satu-satunya di Bogor masjid seperti ini,” ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu 18 Februari 2026.
Namun daya pikat Masjid Budi Guna tidak berhenti pada kemegahan visual. Di balik namanya, tersimpan filosofi yang dalam.
“Budi” dimaknai sebagai akhlak dan adab nilai dasar yang menjadi fondasi pendidikan di lingkungan pondok pesantren.
Para santri diajarkan untuk berbudi kepada sesama manusia, kepada hewan, bahkan kepada alam.
“Budi itu kayak akhlak, adab berbudi kepada makhluk, kepada hewan, kepada tumbuhan. Semua santri di sini diajar bagaimana caranya melestarikan alam serta hewan,” jelas Zidan.
Sementara kata “Guna” mengandung harapan besar, agar setiap santri tidak hanya berilmu, tetapi juga memberi manfaat. Berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat beragama secara luas.
“Jadi santri itu harus berguna, bukan hanya di bidang ilmu tapi bisa di bidang manapun, buat masyarakat dan umat beragama semuanya. Makanya disebut Budi Guna yang berarti berbudi dan berguna,” tambahnya.
Dibangun sejak 2022, masjid ini berdiri di kawasan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah Budi Guna, tetapi tetap terbuka untuk umum.
Siapa pun dapat datang untuk beribadah atau sekadar mengagumi arsitekturnya.
Meski demikian, pengunjung diimbau menjaga adab dan mengenakan pakaian sopan selama berada di lingkungan masjid.
Menjelang waktu salat, gema azan berkumandang lembut dari pengeras suara. Suaranya menyatu dengan suasana sore yang syahdu.
Di bawah kubah putih yang megah, para jamaah berdiri sejajar, merapatkan saf, menundukkan kepala dalam khusyuk.
Di Citeureup, jejak kemegahan arsitektur dunia itu kini berpadu dengan nilai-nilai akhlak dan kebermanfaatan.
Masjid Budi Guna bukan hanya tentang kemiripan dengan Taj Mahal, melainkan tentang cita-cita besar yang ditanamkan menjadi pribadi yang berbudi dan berguna bagi sesama. (CR1)
Editor : Alpin.