RADAR BOGOR - Di tengah pusat ibu kota Bumi Tegar Beriman, Cibinong memiliki Masjid tertua di Kabupaten Bogor yakni Masjid Jami Al-Atiqiyah.
Masjid Al-Atiqiyah terletak di Kampung Karadenan Kaum, Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.
Masjid Al-Atiqiyah ini diketahui sudah berumur hingga ratusan tahun.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al - Atiqiyah, Ustadz Dedi Hamzah menyampaikan bahwa masjid Al-Atiqiyah merupakan masjid tertua di Kabupaten Bogor.
Baca Juga: Dorong Kebijakan Pohon Abadi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Perintahkan Penebangan di Pinggir Jalan Provinsi Dihentikan
"Kalo melihat dari sejarahnya betul, karna memang kalo melihat dari sejarahnya ini merupakan salah satu peninggalan berbarengan dengan kerajaan muara beres. Dan inilah pusat diantara pusat kerajaan tersebut," kata dia kepada Radar Bogor.
Ustadz Dedi menjelaskan bahwa Masjid ini berdiri pada tahun 1667 Masehi. Saat itu Masjid didirikan oleh Mbah Raden Syafe'i bin Raden Nasib.
Mbah Raden Syafe'i merupakan salah satu keturunan Sunan Gunung Jati Cirebon. Sedangkan Istri Mbah Raden bernama Ratu Edok masih tersambung keturunan dengan Prabu Siliwangi.
Semasa hidup pada masa silam, Mbah Raden menyampaikan ajaran islam untuk membentuk pribadi muslim kepada warga sekitar. Ajarkan yang disyiarkan seperti tata cara beribadah, bertauhid dan lain sebagainya.
Baca Juga: Masjid Imam Al-Mahdi Kota Bogor Usung Konsep Cinta Dakwah, Fasilitas Kegiatan Serba Gratis
"Allhamdulillah sampai saat ini sedikit banyak masih terjaga. Dibuktikan dengan adanya kegiatan-kegiatan religius disekitar Masjid begitu tampak luar biasa dari warga yang memang masih ngaji diwaktu sore, malam atau waktu lainnya," jelas dia.
Selain menyebarkan ajaran islam, Mbah Raden juga meninggalkan peninggalan sebuah karya bertuliskan dua kalimat syahadat yang saat ini masih terawat terjaga berada di Masjid Al-Atiqiyah.
"Peninggalan yang sampai saat ini sekarang masih ada adalah sebuah gambar-gambaran manusia yang bertuliskan dua kalim syahadat yang berada di mimbar Masjid Al-Atiqiyah," imbuh dia.
Masjid Memiliki Museum Keris dan Makam untuk Penziarah
Selain tempat untuk beribadah, Masjid Al-Atiqiyah memiliki sebuah musem keris dan makam pendiri sekaligus penyebar agama islam di Karadenan.
Baca Juga: Info Bansos BPNT 22 Februari 2026: Saldo Rp600 Ribu Cair Double, Bantuan Tambahan Pangan di Bulan Ramadhan
Dedi mengungkapkan bahwa, museum keris ini dibentuk untuk mengumpulkan benda pusaka yang dimiliki leluhur agar tidak hilang.
Karena, kata dia, seiring waktu berjalan banyak peninggalan pusaka leluhur yang mulai tidak terawat.
"Kami mengumpulkan pusaka-pusaka peninggalan sepuh-sepuh yang memang awalnya semua pusaka tersebut dipegang oleh keturunan masing-masing. Jadi turun menurun dari orang tua masing-masing tetapi dengan perjalanannya jaman waktu sehingga banyak yang memang sudah tidak mau mengurus dari pada hilang," terang dia.
"Sehingga allhamdulillah ada bapak Raden H Dadang yang menjadi pelopor bagaimana caranya pusaka-pusaka itu disimpan di satu tempat, allhamdulillah terbentuklah sebuah museum keris Karadenan atau Masjid Jami Al-Atiqiyah ini. Dan itupun asli dari peninggalan orang tua kami yang turun menurun. Tapi untuk sampai saat ini allhamdulillah dari luar pun banyak yang mewakafkan sehingga kurang lebih seluruh pusaka yang ada itu 100 lebih," tambah dia.
Baca Juga: Persiapan Bansos Lebaran 2026: Surat Undangan Bonus Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng Mulai Dibagikan, Simak 3 Berkas Wajibnya
Kemudian, di Masjid juga terdapat makam Mbah Raden Syafe'i serta istri dan para makam sepuh yang terletak berada di belakang Masjid.
"Allhamdulillah untuk yang ziarah dari lingkungan ataupun dari luar, apalagi malam Jumat itu banyak ziarah," ujar dia.
Memasuki Bulan Suci Ramadhan Masjid Adakan Berbagi Kegiatan
Ustadz Dedi menyampaikan, selama bulan suci ramadhan, Masjid Al-Atiqiyah akan diisi dengan kegiatan religius.
Di antaranya sanlat, tadarus bersama, buka bersama kemudian tarawih berjamaah dan kegiatan lainnya.
"Allhamdulillah untuk program di Masjid ini diisi dengan kegiatan-kegiatan religius seperi ada sanlat, tadarus bersama, buka bersama, kemudian tarawih berjamaah dan kegiatan yang lainnya," ungkapnya.
Bahkan, kata dia, biasanya sebelum memasuki bulan suci ramadhan, ada tradisi yang dijalankan warga sekitar, yakni gorong royong melakukan bersih-bersih Masjid menyambut dengan gembira datangnya bulan suci ramadhan.
"Artinya semua masyarakat antusias ketika memasuki bulan suci ramadhan untuk bersama - sama membersihkan Masjid ini. Kemudian ada tradisi yang setelah tarawih itu sampai saat ini allhamdulillah masih dibacakan ada syair-syair yang menjelaskan tentang sifat 20 yang berbahasa kan sunda atau jawa Cirebonan," pungkasnya. (abl)