Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

dari Tambang Ilegal ke Lahan Produktif, Kisah Wahyudin Bangkitkan Harapan Baru Desa Kalongliud Bogor

Yosep Awaludin • Senin, 23 Februari 2026 | 14:31 WIB

Wahyudin, sarjana akuntansi kelahiran 1988, yang mengembangkan Desa Kalongliud, Kabupaten Bogor. 
Wahyudin, sarjana akuntansi kelahiran 1988, yang mengembangkan Desa Kalongliud, Kabupaten Bogor. 

RADAR BOGOR – Di tengah maraknya aktivitas tambang emas ilegal yang sempat membayangi masa depan Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, seorang pemuda memilih jalan berbeda.

Wahyudin, sarjana akuntansi kelahiran 1988, justru pulang ke kampung halaman Desa Kalongliud untuk membangun perubahan melalui pertanian berkelanjutan.

Alih-alih mengejar karier di kota besar, pria yang akrab disapa Kang Wahyu ini memilih kembali ke Desa Kalongliud, mengganti ruang kantor dengan sawah dan ladang.

Baca Juga: Seorang Warga Terekam CCTV Buang Satu Troli Penuh Sampah di Desa Cicadas Bogor

Keputusan tersebut lahir dari kegelisahan panjang melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat yang semakin tertekan.

Selama bertahun-tahun, sebagian warga Desa Kalongliud menggantungkan hidup pada aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Kondisi ekonomi yang sulit, ditambah rusaknya jaringan irigasi akibat banjir dan longsor pada 2020, membuat banyak warga terpaksa bekerja di tambang ilegal dengan risiko tinggi.

Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 1 2026 Cair Lebih dari Rp15 Triliun, Simak Data 3 Juta KPM Baru dan Bantuan Pangan Tambahan

“Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata Wahyu.

Menurutnya, solusi utama sebenarnya sudah tersedia di desa itu sendiri, yakni lahan pertanian yang sempat terbengkalai.

“Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegasnya.

Baca Juga: Pemutakhiran Data Bansos 2026, Karang Taruna Jadi Ujung Tombak Penyaluran Bantuan yang Tepat Sasaran

Bangkit Bersama Program Garitan Kalongliud

Momentum perubahan datang pada 2022 ketika PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor menghadirkan program inovasi sosial Garitan Kalongliud.

Wahyu tidak hanya menjadi peserta program, tetapi mengambil peran sebagai penggerak utama masyarakat.

Ia memimpin Kelompok Taruna Muda dan mengajak generasi muda desa menghidupkan kembali sekitar 35 hektar lahan tidur menjadi area pertanian produktif.

Tantangan yang dihadapi tidak ringan. Harga pupuk kimia melonjak tajam, serangan hama keong mas merusak tanaman padi, serta keterbatasan air menjadi persoalan utama petani.

Baca Juga: Simak Lima Kabar Terbaru Bansos: Isu Pencairan BLT Kesra, Status BPNT Tahap 4 hingga Nasib KPM Desil 5

Namun kondisi tersebut justru melahirkan inovasi. Melalui pendampingan dan pelatihan, Wahyu mengembangkan Pupuk Organik Cair (POC) Beko, hasil fermentasi keong mas dan urin domba yang sebelumnya dianggap limbah.

Pemanfaatan sekitar 25 ton kotoran domba sebagai pupuk organik mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen.

Di sisi lain, sistem irigasi tetes sederhana yang dirakit bersama warga berhasil meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 60 persen.

Baca Juga: Buka Puasa Bersama ICMI, Bupati Bogor Rudy Susmanto Dorong Kolaborasi Cendekiawan dan Pemerintah

Putus Ketergantungan Tengkulak

Transformasi tidak berhenti di sektor produksi. Wahyu juga mendorong perubahan tata niaga pertanian desa.

Kelompok Taruna Muda kini berperan sebagai fasilitator pemasaran, sehingga petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak. Hasil panen dipasarkan langsung ke Pasar Induk Kemang dan Pasar Induk Kramat Jati.

Perubahan sistem ini berdampak signifikan. Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen.

Baca Juga: Jadi Model Pertanian Sirkular ANTAM, Garitan Kalongliud Bangkitkan Ekonomi Desa dan Perkuat Ketahanan Pangan di Bogor

Pada periode 2024–2025, unit usaha budidaya cabai mencatatkan keuntungan bersih sebesar Rp246.258.000.

Bagi Wahyu, capaian ekonomi bukan satu-satunya keberhasilan. Program ini juga menjadi ruang pemulihan sosial masyarakat desa.

Sebanyak delapan mantan pelaku PETI kini beralih profesi menjadi petani produktif dengan penghasilan yang lebih stabil dan aman.

Dampak Sosial dan Pengakuan Nasional

Secara keseluruhan, kolaborasi masyarakat bersama ANTAM menghasilkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,34 dan berkontribusi menurunkan angka kemiskinan desa hingga 6,52 persen.

Atas dedikasinya dalam pemberdayaan masyarakat dan inovasi lingkungan, Wahyudin menerima penghargaan Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2025 sebagai Local Hero Inspiratif.

Baca Juga: Di Tengah Pemangkasan Dana Desa, Warga Desa Hambalang Bogor Bangun Jalan Secara Swadaya

Semangat perubahan tersebut kini berlanjut melalui Rumah Belajar Garitan, pusat pembelajaran pertanian yang telah dikunjungi lebih dari 696 orang dari berbagai daerah.

Regenerasi petani muda pun mulai tumbuh. Salah satunya Atang Sujai yang aktif mengembangkan formulasi pupuk organik untuk diterapkan di desa-desa sekitar.

Bagi Wahyu, gelar akademik maupun penghargaan nasional bukan tujuan akhir. Kebahagiaan terbesar baginya adalah melihat masyarakat kembali memiliki pekerjaan yang aman dan masa depan yang lebih pasti.

Baca Juga: KPM PKH dan Sembako Cek Rekening, 8,9 Juta Warga Sudah Terima Bansos Ramadhan, yang Belum Cair Ini Jadwal Burekolnya

“Kalau kita merawat tanah dengan hati, tanah akan merawat kehidupan kita. Dan kalau kita bergerak bersama, Desa Kalongliud ini akan selalu punya harapan,” tutup Wahyu sambil menatap hamparan hijau Kalongliud yang kini kembali hidup. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #Desa Kalongliud #Nanggung