RADAR BOGOR - Polemik terkait beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang ramai diperbincangkan publik mendapat tanggapan dari akademisi.
Guru Besar IPB (Institut Pertanian Bogor) University menilai, peristiwa ini menjadi momentum refleksi penting bagi penerima beasiswa dan generasi muda Indonesia.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof Hermanto Siregar, memberikan pandangan terkait polemik beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tengah menjadi sorotan publik.
Dikutip Radar Bogor di laman resmi IPB, menurut Hermanto, peristiwa ini menyimpan sejumlah pelajaran penting, khususnya terkait kesadaran kebangsaan, etika dalam bermedia sosial, serta pemahaman terhadap tujuan strategis pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Dalam poin pertama, ia menyoroti pernyataan “cukup aku saja yang WNI” mencerminkan rendahnya kesadaran bahwa beasiswa yang diterima bersumber dari dana publik atau uang rakyat.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengurangi rasa tanggung jawab dan keinginan untuk berkontribusi kembali kepada negara melalui kinerja terbaik.
“Minimnya kepedulian tersebut mengakibatkan kurangnya rasa terima kasih kepada negara dan bangsa Indonesia, sehingga rasa ingin ‘membalas’ beasiswa tersebut dalam bentuk bekerja semaksimal mungkin membangun Indonesia sangat tipis atau bahkan tak ada,” tutur Prof Hermanto.
Selanjutnya, Hermanto juga menilai adanya persoalan etika dan norma, terutama di kalangan sebagian generasi muda.
Ia berpandangan, mengungkap kekurangan kondisi dalam negeri melalui media sosial bukanlah langkah yang bijak, terlebih jika informasi tersebut tersebar luas hingga ke audiens internasional.
Hal ini dinilai menjadi sensitif karena disampaikan oleh pihak yang semestinya memiliki rasa terima kasih terhadap negara asalnya.
Dari sisi substansi, Prof Hermanto menegaskan, program beasiswa LPDP merupakan salah satu strategi pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia agar mampu bersaing secara global.
Program ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi bereputasi, baik di dalam maupun luar negeri.
Ia menilai pengalaman akademik tersebut diharapkan mampu mencetak individu yang berperan sebagai penggerak dan pemimpin pembangunan di masa depan. Polemik yang terjadi dinilai menjadi pengingat kembali terhadap tujuan utama dari program tersebut.
Sebagai penutup, ia mengimbau masyarakat, khususnya pengguna media sosial, agar lebih berhati-hati sebelum membagikan konten ke ruang publik.
Hermanto menekankan, pentingnya mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul dari setiap unggahan, baik bagi diri sendiri maupun bagi citra bangsa. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim