RADAR BOGOR – Deru kendaraan di Jalan Raya Cileungsi–Cibubur nyaris tak pernah benar-benar sunyi, di tengah lalu lintas yang hilir mudik, berdiri kokoh sebuah masjid yang menyimpan jejak panjang sejarah dakwah di wilayah timur Kabupaten Bogor yaitu Masjid Al Manshurunal Muqorrobun.
Berdasarkan data yang di himpun Radar Bogor dari dokumen yang tersimpan di masjid tersebut akar sejarahnya tertanam sejak awal 1800-an.
Masjid Besar Al Manshurunal Muqorrobun didirikan oleh seorang ulama asal Lebak, Banten, Raden Muhammad Yusuf bin Syekh Mohammad Alim, keturunan Syekh Abdul Karim al-Bantani.
Ia menetap di Kampung Kaum, Cileungsi, dan memulai dakwah dengan cara yang membumi membaur bersama warga, mengajar, membimbing, serta menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Perlahan, pengaruhnya kian luas, ia dihormati sebagai ulama yang disegani dan pada masa penjajahan, pejabat Belanda yang berkuasa di wilayah Cileungsi menawarkan jabatan Penghulu Agama kepadanya.
Namun, sebelum menerima tawaran itu, ia mengajukan satu syarat dibangunkannya sebuah masjid untuk kepentingan umat Islam di Cileungsi dan sekitarnya.
Syarat tersebut disetujui, dengan dukungan dana dari tuan tanah Cileungsi, Perusahaan Michiels Arnold Landen, serta gotong royong masyarakat, berdirilah sebuah masjid besar dengan arsitektur unik perpaduan gaya Timur Tengah, Eropa, Tionghoa, dan lokal.
Awalnya masjid ini bernama Masjid Kaum, seiring waktu, namanya berganti menjadi Al Huda, kemudian Nurul Huda, hingga akhirnya dikenal sebagai Masjid Al Manshur. Sepeninggal Raden Muhammad Yusuf, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Raden Haji Manshur, yang dikenal sebagai Syekh Manshur atau Penghulu Manshur.
Ia merupakan tokoh kasepuhan sekaligus ulama kharismatik Cileungsi, tak hanya menjadi imam, ia juga mendirikan pondok pesantren dan majelis taklim. Santrinya datang bukan hanya dari Cileungsi, tetapi juga dari berbagai daerah.
Karena jasa dan ketokohannya, masyarakat kemudian akrab menyebut masjid tersebut sebagai Masjid Ama Manshur. Nama Masjid Kaum pun perlahan berubah menjadi Masjid Al Manshur.
Kepemimpinan berikutnya diteruskan oleh KH Siradz, yang dikenal sebagai Ama Siradz. Ia melanjutkan peran sebagai imam dan pengajar agama. Sederhana dalam kehidupan, tetapi kuat dalam pengaruh, ia menjadi panutan masyarakat Cileungsi pada masanya.
Memasuki era 1990-an, pembangunan nasional membawa perubahan, pelebaran jalan nasional yang menghubungkan Cibubur hingga Cileungsi membuat bagian teras masjid lama terdampak dan bangunan pun harus direlokasi.
Bendahara DKM Masjid, Rudi Majid, menuturkan bahwa setelah melalui musyawarah, pada 1992 masjid dipindahkan ke lahan bekas lapangan bola eks Alun-alun Lama di sebelah barat daya lokasi semula.
“Setelah pembangunan masjid baru selesai, namanya menjadi Masjid Al Muqorrobun,” ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa, 3 Maret 2026.
Namun untuk menjaga nilai sejarah masjid lama yang telah dibongkar, nama Al Manshur tetap dipertahankan dan digabungkan dengan nama baru tersebut.
“Karena statusnya sebagai Masjid Kecamatan yang menyandang gelar masjid besar, akhirnya nama resminya menjadi Masjid Besar Al Manshurunal Muqorrobun,” tandasnya.
Meski bangunan berpindah dan wajahnya diperbarui, ruh sejarah dan tradisi masjid lama tetap terjaga hingga kini. Hari ini, peran masjid tak hanya sebagai tempat ibadah, masjid Besar Al Manshurunal Muqorrobun memiliki satu unit ambulans yang digunakan untuk membantu warga dalam kondisi darurat.
“Tidak dipungut biaya, bahkan operasionalnya masjid yang menanggung, karena untuk kepentingan umat yang membutuhkan,” ungkapnya.
Di bulan suci Ramadhan, denyut sosial masjid semakin terasa, letaknya yang strategis di pinggir jalan raya menjadikannya titik singgah para pengendara untuk berbuka puasa.
“Setiap sore kami membagikan takjil gratis untuk para tamu atau pengendara yang berbuka, alhamdulillah, setiap sore pasti ramai,” imbuhnya.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak berasal dari kotak amal, bukan pula dari open donasi atau proposal. Semua murni swadaya warga misalnya, hari ini giliran warga RW 2, besok RW 3, dan seterusnya yang mana tradisi itu berjalan alami, lahir dari kesadaran kolektif dan semangat kebersamaan.
“Ini murni dari masyarakat untuk masyarakat, setiap sore warga bergiliran bergotong royong menyediakan takjil,” tegasnya.
Dua abad telah berlalu sejak masjid ini pertama kali berdiri, dari syarat seorang ulama kepada pejabat kolonial hingga menjelma menjadi masjid besar kecamatan yang aktif melayani umat, Masjid Besar Al Manshurunal Muqorrobun bukan sekadar bangunan ibadah. Ia adalah warisan dakwah, simbol keteguhan, dan bukti bahwa sejarah boleh berpindah tempat, tetapi tak pernah kehilangan ruhnya.(Cr1)
Editor : Eka Rahmawati