RADAR BOGOR – Upaya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun semangat hidup anak-anak yatim dilakukan Yayasan Kampoong Ecopreneur Indonesia melalui kegiatan edukatif di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Jumat 13 Maret 2026.
Di tengah meningkatnya bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, Kampoong Ecopreneur mengajak masyarakat untuk mulai mengambil langkah nyata dalam menjaga alam.
Salah satu caranya dengan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini kepada anak-anak.
Ketua Yayasan Kampoong Ecopreneur Indonesia, Sofie Beatrix, mengatakan dalam 10 hari terakhir pihaknya tidak hanya menyalurkan bantuan kepada anak yatim seperti yang biasa dilakukan banyak lembaga sosial.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan justru menitikberatkan pada pemberdayaan agar anak-anak memiliki harapan serta keberanian untuk bermimpi.
“Tapi kami memberdayakan mereka. Caranya kami mengajak anak-anak yatim itu berani bermimpi tentang cita-citanya serta membagkitkan kepedualian pada alam,” katanya di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Jumat 13 Maret 2026.
Dalam kegiatan bertajuk “Mengetuk Pintu Langit di 10 Hari”, sekitar 50 anak yatim dilibatkan dalam berbagai aktivitas inspiratif. Kegiatan diawali dengan sesi menggambar cita-cita yang ingin mereka capai di masa depan.
Sofie menjelaskan, banyak anak yatim yang biasanya merasa ragu bahkan takut untuk memiliki mimpi besar. Melalui kegiatan ini mereka didorong untuk berani mengekspresikan harapan hidupnya.
“Anak anak yatim biasanya tak berani bercita-cita. Tapi di acara ini mereka berani mengekspresikan impiannya. Ada yang ingin jadi dokter yang menggambar lengkap dengan rumah sakit ya, ada yang menggambar arsitek dan rumahnya,” ujar Sofie lagi.
Selain menggambar, anak-anak juga diajak menonton film bersama yang sarat pesan motivasi.
Film yang diputar adalah Jumbo, yang dinilai mampu menumbuhkan semangat juang pada anak-anak. “Sengaja dipilih film Jumbo yang mengajarkan anak anak untuk punya daya juang,” kata Sofie.
Kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan aksi menanam tanaman cabai bersama serta pemberian santunan kepada para peserta. Setiap anak menanam satu pohon cabai yang nantinya dibawa pulang untuk dirawat.
Menurut Sofie, kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam. "Ini menanamkan kesadaran bahwa kita perlu bersahabat denga alam,” ujar Sofie.
Salah satu peserta, Fauzi (6), mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Dalam sesi menggambar, ia membuat gambar rumah sebagai gambaran cita-citanya di masa depan. "Saya senang ikut ini,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kampoong Ecopreneur juga menerima penyerahan 1.000 Al-Qur’an dari seorang donatur asal Jakarta.
Donasi bernilai ratusan juta rupiah tersebut rencananya akan didistribusikan kepada pesantren, majelis taklim, dan masjid di sekitar Kampoong Ecopreneur di Leuwisadeng.
“Semoga setiap ayat yang dibaca dari Al Qur’an itu akan mendatangkan keberkahan bagi yang membaca, bagi masyarakat sekitar Kampoong Ecopreneur di Leuwisadeng dan bagi para donatur,” kata Sofie.
Ia juga menegaskan bahwa Kampoong Ecopreneur hadir untuk menjawab berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat saat ini.
“Kita saat ini menghadapi tiga krisis sekaligus: krisis lingkungan, krisis entrepreneur yang benar-benar memberdayakan masyarakat, dan krisis kesehatan mental. Kampoong Ecopreneur hadir untuk menjawab itu secara utuh, bukan sepotong-potong,” ujarnya.
Program-program Yayasan Kampoong Ecopreneur sendiri dijalankan menggunakan dana umat yang berasal dari zakat, infak, sedekah, serta wakaf produktif.
Saat ini sejumlah pengusaha juga telah mempercayakan wakafnya untuk dikelola melalui program-program pemberdayaan yang dijalankan lembaga tersebut. (***)
Editor : Yosep Awaludin