Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Masjid Megah di Pelosok Kaki Gunung Salak Bogor: Masjid Abdul Fatah yang Dibangun untuk Mengenang Pahlawan, Referensi Tempat Itikaf di Bulan Ramadhan

Muhammad Ali • Minggu, 15 Maret 2026 | 19:51 WIB

Keindahan dan kemegahan Masjid Abdul Fatah di Desa Tapos II, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.
Keindahan dan kemegahan Masjid Abdul Fatah di Desa Tapos II, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.

RADAR BOGOR – Jalan Abdul Fatah di Desa Tapos II, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, diapit hamparan hijau di kaki Gunung Salak. Di tengah suasana pedesaan yang tenang itu, berdiri sebuah masjid megah, Masjid Abdul Fatah, yang mencuri perhatian siapa pun yang melintas.

Masjid Abdul Fatah, bangunan dua lantai yang kokoh ini tampak mencolok di antara perkampungan warga di kaki Gunung Salak Kabupaten Bogor.

Dari halaman Masjid Abdul Fatah, panorama Gunung Salak terbentang jelas, menghadirkan suasana tenang yang membuat para jamaah Bogor merasa lebih khusyuk saat beribadah.

Namun masjid ini bukan sekadar tempat salat. Di balik kemegahannya, tersimpan kisah sejarah perjuangan dan penghormatan kepada seorang pejuang kemerdekaan.

Masjid Abdul Fatah merupakan bagian dari Yayasan Suwarna Abdul Fatah yang lebih dikenal masyarakat dengan nama Aldepos (Alam Desa Tapos), didirikan oleh mantan Gubernur Kalimantan Timur, Suwarna Abdul Fatah, sebagai bentuk penghormatan kepada ayahnya, Raden Abdul Fatah.

Imam Masjid Abdul Fatah, Ahmad Sogi, mengatakan bahwa Raden Abdul Fatah merupakan pejuang kemerdekaan yang berasal dari wilayah Bogor Barat. Meski memiliki peran penting dalam perjuangan, kisahnya jarang dipublikasikan.

“Kalau orang mau membaca atau bertanya tentang sejarahnya, ayahandanya Pak Suwarna yang sekarang menjadi nama masjid dan jalan ini memang seorang pahlawan kemerdekaan, tapi memang tidak pernah diekspos,” ujarnya kepada Radar Bogor, Minggu, 15 Maret 2026.

Karier Suwarna di militer terbilang cemerlang. Ia mengabdi di TNI hingga pensiun dengan pangkat Mayor Jenderal, sebelum kemudian dipercaya memimpin Kalimantan Timur sebagai gubernur.

Ahmad Sogi mengaku mengetahui kisah tersebut karena masih memiliki hubungan keluarga dengan Suwarna Abdul Fatah.

Baca Juga: Angin Segar untuk Guru PPG 2025: SKTP Terbit di Info GTK, Ini Syarat Agar TPG Cepat Cair dan Dirapel

“Kakek saya sendiri kakak sepupu Pak Suwarna,” katanya.

Nama Abdul Fatah yang kini diabadikan sebagai nama masjid memiliki kisah perjuangan panjang.

Dalam cerita masyarakat setempat, Raden Abdul Fatah dikenal sebagai pejuang yang berada di bawah komando Jenderal Sudirman pada masa perang kemerdekaan, bahkan terdapat kisah heroik yang masih beredar di kalangan warga.

“Dari beberapa cerita rakyat, katanya beliau sampai tidak mempan ditembak Belanda. Akhirnya Belanda mencari cara sampai tubuhnya dipotong-potong,” tuturnya.

Raden Abdul Fatah lahir di Desa Tapos II, Kecamatan Tenjolaya, Kecamatan Tenjolaya. Ia gugur dalam perjuangan di daerah Cikampak, awalnya dimakamkan di sana, sebelum akhirnya dipindahkan oleh keluarga ke kawasan Aldepos.

Kini makamnya berada di area pemakaman keluarga yang terletak di samping Masjid Abdul Fatah.

Seiring waktu, kawasan Aldepos berkembang tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pendidikan dan kegiatan masyarakat.

Nama Aldepos sendiri memiliki dua makna, yakni Alam Desa Tapos dan Anak Lelaki Desa Tapos.

Pengurus DKM Masjid Abdul Fatah, Hamdani Abdurrahman, menjelaskan bahwa kawasan ini dilengkapi berbagai fasilitas seperti area manasik haji, lembaga pendidikan, hingga sarana rekreasi.

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah keberadaan kolam renang di kawasan tersebut. Bukan sekadar tempat rekreasi, kolam renang itu justru menjadi penunjang operasional masjid.

“Kolam renang itu sebenarnya diwakafkan oleh Pak Suwarna untuk operasional masjid,” ucapnya.

Awalnya kolam tersebut hanya digunakan oleh keluarga. Namun seiring waktu dibuka untuk umum hingga menjadi salah satu daya tarik Aldepos.

“Keuntungannya seratus persen untuk operasional masjid dan yayasan,” jelasnya.

Pada akhir pekan, jumlah pengunjung kolam renang bisa mencapai 200 hingga 300 orang. Tanpa disadari, para pengunjung yang datang untuk berwisata sekaligus turut berkontribusi dalam keberlangsungan masjid.

“Jadi sebenarnya kalau orang berenang di sana, itu juga menjadi infaq untuk masjid,” bebernya.

Masjid Abdul Fatah sendiri mampu menampung sekitar 1.000 jamaah. Lantai dua digunakan sebagai ruang utama salat, sementara lantai satu difungsikan sebagai aula serbaguna yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pengajian, wisuda sekolah, hingga resepsi pernikahan.

Suasana yang tenang dan jauh dari keramaian membuat masjid ini juga sering dipilih sebagai lokasi kegiatan itikaf, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

“Beberapa sekolah bahkan pernah datang ke sini untuk melaksanakan itikaf karena suasananya memang tenang dan nyaman untuk ibadah,” tandasnya.

Dibangun pada tahun 2015, Masjid Abdul Fatah kini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi masyarakat sekitar.

Lebih dari itu, Masjid Abdul Fatah di kaki Gunung Salak Bogor ini menjadi simbol penghormatan terhadap jasa seorang pejuang kemerdekaan sekaligus wujud kecintaan seorang anak desa yang telah sukses namun tetap kembali membangun kampung halamannya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #Masjid Abdul Fatah #pahlawan #gunung salak