Oleh: Fakih Mukodam
RADAR BOGOR - Selama puluhan tahun, narasi tentang Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, selalu identik dengan keindahan yang terisolasi. Sebuah surga di kaki Gunung Halimun Salak yang pesonanya terpagar oleh batu tajam dan kubangan lumpur.
Bagi kami, mahasiswa yang sering turun ke desa, jalan rusak bukan hanya hambatan fisik, melainkan simbol ketimpangan pembangunan yang membuat masyarakatnya seolah-olah terlupakan oleh zaman.
Namun, hari ini kita melihat wajah baru. Kabar tentang "disulapnya" Jalan Nirmalasari menjadi mulus oleh Bupati Bogor, Rudy Susmanto, bukan hanya berita pembangunan infrastruktur biasa. Bagi warga yang telah menunggu lebih dari 80 tahun sejak Indonesia merdeka, ini adalah jawaban atas doa-doa panjang yang akhirnya menembus dinding birokrasi.
Sebagai mahasiswa, kami melihat ini melampaui angka-angka statistik. Ketika akses jalan terbuka, denyut ekonomi tidak lagi tersendat. Membludaknya wisatawan ke kebun teh Nirmala saat libur lebaran kemarin adalah bukti nyata bahwa infrastruktur adalah kunci kedaulatan ekonomi warga lokal.
Malasari kini tidak lagi hanya menjadi penonton di balik bukit; ia kini bersaing dengan Puncak sebagai primadona baru di Kabupaten Bogor.
Keberanian Bupati Rudy Susmanto untuk memprioritaskan wilayah terpencil seperti Malasari menunjukkan sebuah keberpihakan yang nyata. Membangun pusat kota itu biasa, namun menjangkau ujung-ujung wilayah yang berbatasan dengan kabupaten tetangga adalah bentuk pemerataan yang luar biasa.
Jalan ini bukan hanya beton yang terpampang, melainkan jembatan harapan bagi petani teh, pelaku UMKM, dan anak-anak sekolah di pelosok Nanggung.
Kami, sebagai elemen masyarakat yang kritis, tentu akan terus mengawal setiap kebijakan. Namun, untuk pencapaian ini, kami patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Keberhasilan ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa ketika kekuasaan dipadukan dengan komitmen untuk melayani, perubahan yang mustahil pun bisa diwujudkan.
Terima kasih, Pak Bupati, telah menghapus lelah warga Malasari. Semoga semangat membangun dari pinggiran ini terus konsisten dilakukan, agar tidak ada lagi warga Bogor yang merasa "terasing" di tanah kelahirannya sendiri.
Fakih Mukodam
Suara dari Kampus untuk Rakyat.