Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Post Holiday Blues, Kenapa Usai Libur Lebaran Justru Jadi Tak Semangat? Ini Penjelasan Psikologisnya

Fikri Rahmat Utama • Kamis, 26 Maret 2026 | 11:56 WIB

Psikiater RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ menjelaskan soal fenomena post holiday blues.
Psikiater RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ menjelaskan soal fenomena post holiday blues.

RADAR BOGOR – Momen Lebaran kerap meninggalkan kesan mendalam. Namun, tak sedikit orang justru mengalami penurunan semangat setelah masa liburan usai. Kondisi ini dikenal sebagai post holiday blues.

Post holiday blues yakni perubahan suasana hati yang ditandai dengan rasa hampa, kurang motivasi, hingga kecemasan saat kembali ke rutinitas sehari-hari.

Psikiater RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ menjelaskan, fenomena post holiday blues ini merupakan respons psikologis yang wajar dan bukan termasuk gangguan mental.

“Ini adalah proses adaptasi. Otak kita sedang menyesuaikan kembali ritme kehidupan dari suasana liburan ke rutinitas harian,” ujarnya.

Menurutnya, selama liburan, seseorang berada dalam kondisi yang minim tekanan dan penuh aktivitas menyenangkan.

Hal ini memicu peningkatan hormon dopamin di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi.

Namun ketika liburan berakhir, stimulus tersebut menurun drastis. Akibatnya, muncul perasaan kosong hingga kurang bersemangat.

Selain itu, ada juga faktor hedonic adaptation, yakni kecenderungan manusia kembali ke tingkat kebahagiaan normal setelah mengalami peningkatan sementara.

“Bukan hidupnya yang memburuk, tapi standar kebahagiaannya yang sempat naik saat liburan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kontras antara suasana liburan yang bebas dengan rutinitas yang penuh tuntutan juga memperkuat munculnya post holiday blues.

Ditambah lagi dengan interaksi sosial saat Lebaran yang kerap memicu perbandingan diri dengan orang lain.

“Ketika merasa tertinggal dari orang lain, bisa muncul tekanan terhadap diri sendiri atau self-doubt,” katanya.

Faktor lain seperti kelelahan fisik akibat perjalanan, kurang tidur, hingga padatnya interaksi sosial selama liburan juga turut memengaruhi kondisi emosional seseorang.

Meski demikian, kondisi ini umumnya bersifat sementara dan dapat diatasi dengan beberapa langkah sederhana.

Di antaranya dengan menerima emosi yang muncul, melakukan transisi kerja secara bertahap, hingga kembali membangun rutinitas yang sehat.

“Yang penting jangan menolak perasaan itu. Sadari bahwa ini normal, lalu pelan-pelan bangun kembali ritme aktivitas,” tuturnya.

Ia juga menyarankan agar masyarakat tidak terlalu membandingkan diri dengan orang lain, serta mulai membangun tujuan hidup yang lebih bermakna agar rutinitas terasa lebih ringan.

Namun, jika kondisi ini berlangsung lebih dari dua minggu, disertai gangguan tidur, kehilangan minat, hingga penurunan fungsi aktivitas, masyarakat diimbau untuk mulai waspada karena bisa mengarah pada depresi ringan.

“Liburan itu jeda, bukan tujuan. Justru dari situ kita belajar seperti apa hidup yang kita inginkan, lalu membangunnya dalam keseharian,” pungkasnya. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#RS Marzoeki Mahdi #post holiday blues #liburan