RADAR BOGOR – Balai POM di Bogor terus mendorong terciptanya budaya keamanan pangan di tengah masyarakat melalui Program Prioritas Nasional Desa/Kelurahan Pangan Aman yang menyasar pasar, desa, dan sekolah.
Kepala Balai POM di Bogor, Jeffeta Pradeko Putra, mengatakan bahwa program ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat agar mampu membedakan makanan yang aman dan yang berpotensi berbahaya.
“Kegiatan ini adalah bagaimana kita mengintervensi pasar, desa, dan sekolah. Bagaimana nanti murid-murid, pedagang, pelaku usaha, dan masyarakat luas bisa meningkatkan literasinya,” ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa, 31 Maret 2026.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya sebatas sosialisasi, tetapi juga melalui kampanye edukatif yang menarik. Untuk anak-anak, misalnya, diberikan metode pembelajaran melalui permainan dan lagu agar pesan keamanan pangan lebih mudah dipahami sejak dini.
Selain itu, intervensi juga dilakukan melalui pelatihan kepada pelaku usaha dan pedagang, termasuk pengenalan terhadap bahan berbahaya seperti formalin dan boraks. Dengan demikian, para pelaku usaha diharapkan mampu memilih bahan baku yang aman dan layak dikonsumsi.
“Kata kuncinya adalah bagaimana meningkatkan pengetahuan dan juga budaya. Bagaimana kita menciptakan budaya keamanan pangan sehingga tidak ada keracunan,” jelas Jeffeta.
Ke depan, Balai POM Bogor akan memperkuat sinergi lintas sektor dengan menggandeng berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Bogor. Tahapan awal dilakukan melalui advokasi untuk menggalang komitmen bersama dari seluruh pihak terkait.
Setelah itu, program dilanjutkan dengan pembentukan kader dan komunitas yang akan dilatih secara khusus. Mereka nantinya berperan sebagai agen edukasi yang menyebarkan informasi keamanan pangan kepada masyarakat luas.
Tidak hanya itu, pengawasan juga akan diperkuat melalui pengujian langsung di lapangan, khususnya di pasar-pasar, guna mendeteksi kemungkinan penggunaan bahan berbahaya dalam produk pangan.
Evaluasi program akan dilakukan secara berkala hingga akhir tahun untuk mengukur efektivitasnya, termasuk melihat adanya peningkatan pengetahuan masyarakat dan perubahan perilaku pelaku usaha.
Jeffeta menyebut, program ini telah memberikan dampak positif di sejumlah daerah, seperti Kota Bogor, Kota Depok, dan Kota Semarang, yang dinilai berhasil meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.
Ia berharap, ke depan budaya keamanan pangan dapat benar-benar tertanam, sehingga masyarakat tidak lagi khawatir dalam mengonsumsi makanan, sekaligus membantu menekan angka keracunan dan stunting.
“Dengan budaya ini, masyarakat tahu mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak,” pungkasnya. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati