RADAR BOGOR - Nama Desa Pasir Madang di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, kerap dikaitkan dengan risiko bencana.
Wilayah dengan kontur perbukitan terjal ini sejak lama dikenal rawan pergerakan tanah dan longsor.
Bahkan, berdasarkan pemotretan udara oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) pada 2 Februari 2020, sebagian kawasan desa ini dinilai tidak lagi layak untuk relokasi permukiman pascabencana longsor awal tahun tersebut.
Baca Juga: Donor Darah RSUD R Moh Noh Nur Tembus 81 Kantong, Dorong Kepedulian dan Jaga Stok Darah
Namun di balik label “rawan longsor”, Pasir Madang menyimpan cerita berbeda tentang ketahanan, harapan, dan upaya bangkit melalui kolaborasi masyarakat dan dunia pendidikan.
Dari Keraguan Menuju Keyakinan
Perjalanan menuju Pasir Madang bukan hanya soal jarak, tetapi juga soal keberanian.
Hal itu dirasakan oleh seorang Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA) yang mendapat mandat mendampingi 10 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T).
Awalnya, rasa ragu sempat muncul. Kekhawatiran terhadap kondisi geografis yang rawan longsor menjadi pertimbangan utama.
Namun, semangat mahasiswa dengan tema Pemberdayaan Desa Berbasis Teknologi dan Kearifan Lokal Sunda untuk Mewujudkan SDGs Berkelanjutan berhasil mengubah keraguan tersebut menjadi optimisme.
Pada Rabu pagi, 14 Januari 2026, rombongan mahasiswa resmi diberangkatkan dari kampus UMBARA menuju lokasi KKN.
Perjalanan sekitar satu jam dengan jarak kurang lebih 20 kilometer membawa mereka melintasi sejumlah desa hingga akhirnya memasuki wilayah Sukajaya.
Jalan Terjal Menuju Harapan
Memasuki kawasan Sukajaya, kondisi jalan mulai berubah. Aspal berganti beton, lalu diselingi jalan berlubang.
Baca Juga: Pemkot Terapkan WFH bagi ASN di Kota Bogor Setiap Jumat Pasca Aturan Pemerintah Pusat Resmi Terbit
Tebing curam dan jurang mulai mengapit perjalanan.
Di beberapa titik, papan peringatan “hati-hati, rawan longsor” berdiri sebagai pengingat nyata akan kondisi alam Pasir Madang.
Bahkan, pada salah satu tikungan tajam dengan kemiringan ekstrem, terlihat struktur beton penahan tebing yang mempertegas potensi bahaya di wilayah tersebut.
Baca Juga: Bansos Cair Berturut-turut! Ini Daftar 6 Bantuan yang Disalurkan Pemerintah Mulai Awal April 2026
Meski demikian, tepat pukul 11.00 WIB, rombongan akhirnya tiba di Kampung Cibiuk, Desa Pasir Madang yakni lokasi posko KKN yang telah dipilih sebelumnya.
Program Nyata di Tengah Keterbatasan
Selama pelaksanaan KKN-T, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari masyarakat.
Baca Juga: Dua Remaja Tenggelam di Curug Parigi Gunung Putri Bogor, Satu Ditemukan Meninggal, Satu Masih Dicari
Berbagai program dirancang dan dijalankan secara terintegrasi.
Mulai dari seminar kewirausahaan berbasis hasil tani, bimbingan belajar untuk anak PAUD hingga SD, sosialisasi permainan tradisional Sunda, kegiatan gotong royong, hingga program kesehatan seperti senam sore rutin.
Selain itu, mahasiswa juga aktif dalam kegiatan sosial keagamaan, termasuk mengikuti pengajian bersama warga.
Semua aktivitas tersebut dipantau langsung oleh DPL melalui laporan digital berupa foto, video, serta unggahan di media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Inovasi dari Hasil Tani: Chili Oil
Salah satu program unggulan yang menarik perhatian adalah inovasi pengolahan cabai menjadi chili oil atau minyak cabai.
Baca Juga: Warga Binaan Lapas Cibinong Bogor Hasilkan 1.200 Ekor Bebek dalam Sebulan Lewat Pembinaan Mandiri
Melihat potensi hasil pertanian cabai yang melimpah, mahasiswa menginisiasi pemanfaatan cabai yang tidak layak jual agar tidak terbuang sia-sia.
Produk ini kemudian diperkenalkan kepada ibu-ibu setempat melalui seminar kecil bertema kewirausahaan berkelanjutan.
Tidak hanya cara produksi, mahasiswa juga mengajarkan strategi pemasaran digital dengan memanfaatkan media sosial.
Baca Juga: Kabar Gembira Awal April 2026, KPM Bansos PKH dan BPNT Kembali Bakal Dapat Bantuan Tambahan
Pendekatan ini dinilai efektif, mengingat sebagian besar masyarakat sebelumnya belum familiar dengan teknologi digital.
Kehidupan yang Menyatu dengan Alam
Suasana Pasir Madang yang cenderung sunyi bukan berarti tanpa aktivitas. Justru, kehidupan masyarakat berlangsung dinamis di ladang dan sawah.
Sebagian besar warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Baca Juga: Kota Bogor Punya 2 Lokasi Pengolahan Sampah Jadi Listrik, Target Beroperasi Mulai 2027
Pemandangan rumah kosong di siang hari menjadi hal biasa, karena pemiliknya tengah bekerja di kebun.
Kondisi geografis yang berbukit serta udara yang sejuk menjadi keunggulan tersendiri bagi sektor pertanian di desa ini.
Bawang Merah Jadi Harapan Baru
Sekretaris Kecamatan Sukajaya, Herman mengungkapkan, Pasir Madang kini tengah dikembangkan sebagai sentra budidaya bawang merah.
“Sudah dua kali panen dan hasilnya cukup berhasil. Bahkan desa ini dijadikan percontohan di wilayah Sukajaya,” ujarnya saat berkunjung ke lokasi KKN.
Program ini dinilai potensial karena didukung oleh kondisi tanah yang subur dan iklim yang cocok untuk pertanian hortikultura.
Mahasiswa KKN pun turut terlibat langsung dalam proses penanaman hingga perawatan tanaman, memperkuat kolaborasi antara akademisi dan masyarakat.
Dukungan Pemerintah Desa
Kepala Desa Pasir Madang, Encep Sunarya, menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN Umbara.
Baca Juga: Pemerintah Selesaikan Penyaluran Tahap 1, Siap-siap Bansos Tahap 2 Meluncur April 2026
Ia menilai, program-program yang dijalankan mampu memberikan warna baru bagi masyarakat.
“Sudah lama desa ini tidak mendapat kunjungan akademik. Kehadiran mahasiswa sangat membantu dan memberi semangat baru,” ujarnya.
Ia juga menaruh harapan besar, terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program pemerintah daerah.
“Saat ini ada program satu desa satu sarjana. Kami berharap ada generasi muda Pasir Madang yang bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” tambahnya.
Menuju Desa Wisata Pertanian
Senada dengan hal tersebut, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Pasir Madang, Beni Priatna, melihat potensi besar desa ini sebagai kawasan wisata berbasis pertanian.
“Dengan kondisi alam yang sejuk dan lahan yang luas, Pasir Madang berpeluang menjadi desa wisata pertanian,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa fokus pembangunan kini mulai beralih dari infrastruktur ke pengembangan sumber daya manusia.
Menanam Harapan untuk Masa Depan
Sebagai penutup program KKN, mahasiswa melaksanakan kegiatan penghijauan dengan menanam bibit pohon di beberapa titik, termasuk di area sekolah, koperasi desa, dan pemukiman warga.
Program ini tidak hanya bertujuan menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai langkah mitigasi bencana untuk memperkuat struktur tanah di wilayah rawan longsor.
Pasir Madang: Lebih dari Sekadar Daerah Rawan
Pasir Madang mungkin dikenal sebagai wilayah rawan longsor. Namun di balik itu, tersimpan potensi besar yang perlahan mulai terungkap.
Baca Juga: Komplotan Pelaku Curanmor Satroni Kantor Desa Pasir Madang Sukajaya Bogor, Gasak Motor Staf Desa
Dari pertanian yang subur, inovasi produk lokal, hingga semangat masyarakat yang tak pernah padam, desa ini menunjukkan bahwa harapan selalu ada, bahkan di tempat yang paling sunyi sekalipun.
Dan bagi mereka yang pernah datang, Pasir Madang bukan sekadar lokasi pengabdian, melainkan tempat yang selalu memanggil untuk kembali. (*)
oleh:
Sofiatin dan Mahasiswa KKN-T UMBARA (Ade Afwa, Amelia Nurhamidah, Farhatu Nabila, Kamil Awaludin, Rahma Ayu Ipah Sazidah, Rendi, Riska Marsela, Risky Nugraha Chaeruddin, Tsabita Yasmin Kristi, Wildaniyah).
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim