RADAR BOGOR - Upaya mendorong kemandirian energi nasional kembali menjadi sorotan.
Anggota DPR RI sekaligus Komisaris Utama PT Inti Sinergi Formula, Mulyadi menilai, inovasi energi bernama Bobibos berpotensi besar membantu negara mengurangi beban devisa akibat impor bahan bakar minyak (BBM).
Dalam pandangan Mulyadi, selama ini Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam sektor energi, terutama karena tingginya ketergantungan pada impor.
Baca Juga: Ditahan Imbang Adhyaksa FC, Garudayaksa FC Gagal Rebut Puncak Klasemen Championship
Mulyadi menggambarkan, kondisi tersebut sebagai situasi di mana negara harus mengalokasikan anggaran sangat besar setiap tahun untuk subsidi energi, bahkan mencapai ratusan triliun rupiah.
Menurutnya, tekanan terhadap anggaran negara akan semakin berat ketika harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan.
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak global, bahkan hanya satu dolar per barel, dapat berdampak langsung pada peningkatan beban subsidi yang harus ditanggung APBN.
"Bayangkan, apalagi kalau misalnya hari ini katakanlah harga minyak mentah dunia melonjak luar biasa bahkan di atas 100 USD. Sementara, 1 USD saja kenaikan harga minyak itu akan berpengaruh terhadap angka subsidi yang akan menyedot APBN kita," jelas Mulyadi kepada Radar Bogor.
Di tengah kondisi tersebut, Bobibos dinilai dapat menjadi alternatif solusi.
Mulyadi melihat inovasi ini tidak hanya berpotensi membantu pemerintah, tetapi juga masyarakat yang setiap hari bergantung pada energi untuk mobilitas dan aktivitas ekonomi.
Ia juga menekankan, pentingnya mendukung program kemandirian energi yang menjadi bagian dari visi pemerintahan saat ini.
Baca Juga: Peringati HUT ke-77 Bekangad, Dandenbekang III/1B Bogor Gelar Turnamen Tenis Meja Cup II
Menurutnya, kemandirian energi memiliki makna lebih luas dibanding sekadar ketahanan energi, karena tidak lagi bergantung pada dinamika geopolitik global maupun fluktuasi harga internasional.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya berada di kisaran 580 ribu barel per hari.
Selisih tersebut, memaksa Indonesia untuk terus melakukan impor dalam jumlah besar, yang pada akhirnya membebani devisa negara dan berpotensi mengganggu stabilitas fiskal.
Baca Juga: Kemenag Kabupaten Bogor Akui Ada Pelanggaran, 1 ASN Dijatuhi Sanksi Disiplin Terkait Dugaan Pungli
Dengan kondisi tersebut, Mulyadi berharap Bobibos asal Bogor ini dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.
Ia optimistis, inovasi ini mampu berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat fondasi ekonomi Indonesia ke depan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim