Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

MQK ke-2 di Kabupaten Bogor Jadi Momentum Pengembangan Sumber Daya Manusia Berbasis Keagamaan

Abilly Muhamad • Senin, 13 April 2026 | 20:22 WIB
Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi atau Jaro Ade saat hadir pada Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) ke-2 tingkat Kabupaten Bogor. (Dok. Diskominfo Kabupaten Bogor)
Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi atau Jaro Ade saat hadir pada Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) ke-2 tingkat Kabupaten Bogor. (Dok. Diskominfo Kabupaten Bogor)

RADAR BOGOR - Penyelenggaraan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) ke-2 tingkat Kabupaten Bogor menjadi wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Bogor dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting dalam mencetak generasi santri yang unggul, berpengetahuan luas, serta memiliki akhlak yang baik.

Ajang yang berlangsung di Babakan Madang tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi, Wakil Ketua DPRD Agus Salim, anggota DPRD Kabupaten Bogor, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor, Ketua MUI Kabupaten Bogor, Ketua Baznas, para kepala perangkat daerah, direktur BUMD, hingga camat se-Kabupaten Bogor.

Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi atau yang akrab disapa Jaro Ade, menyampaikan bahwa pelaksanaan MQK diharapkan mampu meningkatkan kemampuan santri dalam membaca, memahami, serta menjelaskan kitab kuning.

Baca Juga: Jelang Pencairan Tahap 2, Ini 5 Fokus Utama Kemensos dalam Penyaluran Bansos PKH dan BPNT April 2026, KPM Wajib Simak

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mencetak kader ulama di masa depan. Ia menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting sebagai benteng dalam membentuk generasi yang religius dan siap melanjutkan pembangunan.

“Kegiatan ini bukan hanya lomba, tetapi sarana mempererat silaturahmi antar pesantren serta mempromosikan nilai-nilai keagamaan dan budaya di Kabupaten Bogor,” ujar Jaro Ade, Senin, 13 April 2026.

Menurutnya, MQK tidak sekadar ajang perlombaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antar pesantren serta mengangkat nilai-nilai keagamaan dan budaya di Kabupaten Bogor.

Baca Juga: Bogorku Bersih 2026 Kembali Digelar di Kota Bogor, Jadi Jembatan Menuju PSEL

Kabupaten Bogor sendiri memiliki sekitar 3.000 pondok pesantren yang menjadi potensi besar dalam mendukung pembangunan daerah. Lembaga tersebut tidak hanya berfokus pada pendidikan agama, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter, kemandirian, serta integritas para santri.

Jaro Ade juga menyampaikan apresiasi kepada para pimpinan pondok pesantren atas dedikasi mereka dalam mencetak berbagai prestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik seperti olahraga.

Ia menambahkan bahwa keunggulan santri tidak hanya terletak pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pada karakter dan kemandirian yang mereka miliki. Bahkan, banyak lulusan pesantren yang mampu mendirikan lembaga pendidikan baru dan melanjutkan dakwah.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor, Raden Enjat Munjiat, menilai MQK sebagai momentum penting dalam mendukung penguatan kualitas sumber daya manusia, sejalan dengan program Astacita yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Ia mengingatkan para peserta agar menjadikan kompetisi ini sebagai ajang pembelajaran dan pengalaman, bukan semata-mata untuk meraih kemenangan. Menurutnya, keberhasilan sejati adalah ketika seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Raden Enjat menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh santri terbaik dari berbagai pondok pesantren, yang menampilkan kemampuan dalam membaca dan memahami kitab kuning, mencakup bidang ilmu seperti nahwu, sharaf, tafsir Al-Qur’an, hadis, hingga ushul fiqh.

Baca Juga: Kecamatan Jasinga Juara Umum MQK Pertama Tingkat Kabupaten Bogor, Ini Pesan Pj Bupati

Lebih lanjut, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana evaluasi bagi pesantren dalam menilai keberhasilan proses pendidikan yang telah dijalankan.

Ia pun menekankan kepada para dewan hakim agar mAjang ini juga, kata Raden, menjadi sarana evaluasi bagi lembaga pendidikan pesantren dalam mengukur keberhasilan proses pembelajaran.

“Kepada para dewan hakim, disampaikan pula pentingnya menjaga integritas dan amanah dalam proses penilaian, agar seluruh peserta mendapatkan hasil yang adil dan objektif,” pungkasnya.(abl)

Editor : Eka Rahmawati
#MQK #kabupaten bogor