RADAR BOGOR - Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) bersama AIM Analytics Malaysia resmi memperkenalkan sistem peringatan dini banjir berupa AWLR (Automatic Water Level Recorder) dan alat pengukur atau sensor air dan hujan berbasis Internet of Things (IoT) di Bogor.
Sensor air dan hujan untuk mitigas banjir ini dipasang di aliran Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas, Bogor, pada Rabu, 15 April 2026.
Ketua KP2C, Puarman, menyampaikan bahwa teknologi sensor air dan hujan sebagai mitigasi banjir di Bogor ini menjadi kemajuan signifikan dibanding metode sebelumnya.
Selama ini, pemantauan tinggi muka air masih dilakukan secara manual melalui CCTV sebelum diinformasikan kepada warga.
Ia menjelaskan, melalui dukungan hibah dari AIM Analytics Malaysia, kini ketinggian air dapat dipantau secara real-time melalui website maupun ponsel. Sistem ini juga dilengkapi alarm otomatis yang akan aktif saat status siaga 3, siaga 2, hingga siaga 1 tercapai.
Perangkat AWLR dan pengukur curah hujan tersebut mampu memberikan peringatan dini kepada masyarakat ketika terjadi peningkatan debit air.
Baca Juga: Ketua TP PKK Kabupaten Bogor Dorong Kader Perkuat Peran Sosial Usai Pelantikan Enam Ketua Kecamatan
Saat kondisi darurat, alarm akan berbunyi sehingga warga dapat segera melakukan langkah antisipasi, termasuk evakuasi mandiri.
Menurut Puarman, pemasangan alat di bagian hulu sungai memberikan waktu yang cukup bagi masyarakat untuk bersiap.
Di hulu Sungai Cileungsi, alat ditempatkan di wilayah Cibongas dengan estimasi waktu aliran menuju daerah rawan banjir sekitar enam jam. Sementara di Sungai Cikeas, alat dipasang di kawasan Cibinong dengan estimasi waktu hingga delapan jam.
Baca Juga: APCAP Diluncurkan, Jakarta Jadi Pusat Kolaborasi Kemanusiaan Asia Pasifik untuk Palestina
Dengan rentang waktu tersebut, masyarakat memiliki kesempatan yang memadai untuk mengamankan barang dan melakukan evakuasi sebelum banjir datang.
Saat ini, jumlah anggota KP2C mencapai sekitar 72 ribu orang. Melalui jaringan komunikasi berjenjang hingga tingkat RT dan RW, manfaat informasi dari sistem ini diperkirakan dapat menjangkau hingga ratusan ribu warga, bahkan mencapai 700–800 ribu jiwa.
Puarman juga mengungkapkan bahwa sistem ini telah terbukti berfungsi saat terjadi kenaikan debit air pada malam sebelumnya. Saat itu, alat mendeteksi status siaga 3 di Sungai Cikeas dengan ketinggian air sekitar 250 cm dan langsung mengaktifkan alarm peringatan.
Baca Juga: Saat Perempuan Bangkit, Ekonomi Menguat: Kisah Nia Anggraini Tumbuh Bersama PNM Mekaar dan BRI
Dari sisi perawatan, perangkat ini relatif mudah dikelola. Tantangan utama justru pada aspek keamanan karena lokasi pemasangan berada di hulu sungai. Untuk itu, KP2C telah menyiapkan petugas di titik-titik tersebut guna memastikan alat tetap aman dan beroperasi optimal.
Sementara itu, Group Executive Director AIM Analytics Malaysia, Ir. Ts. Reneir Tara, menyebut teknologi ini telah banyak digunakan di Malaysia dan terbukti efektif.
Ia menambahkan bahwa sistem ini bekerja dengan teknologi IoT menggunakan prosesor yang efisien, serupa dengan perangkat pada ponsel.
Dengan kehadiran sistem ini, diharapkan dampak banjir di wilayah hilir dapat diminimalkan, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.
Peluncuran dilakukan di Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, dan ditutup dengan kegiatan penanaman pohon serta penebaran benih ikan.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga