RADAR BOGOR - Kondisi infrastruktur di wilayah perbatasan Kabupaten Bogor dan Kota Tangerang Selatan kembali menjadi sorotan.
Bukan hanya jalan yang memprihatinkan, fasilitas pendidikan pun luput dari perhatian, seperti yang terjadi di SDN Mulyasari 01, Desa Pengasinan, Kecamatan Gunungsindur.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Puspitek, Kampung Jelengtreng itu kini menghadapi berbagai kerusakan bangunan yang cukup serius.
Baca Juga: Baru 2 Bulan Diresmikan, Jembatan Rp1 Miliar di Rumpin Bogor Ambruk Kepala Desa Gobang Bilang Begini
Sejumlah bagian penting seperti kusen jendela dan pintu ruang kelas dilaporkan telah lapuk dan keropos, menambah ketidaknyamanan dalam kegiatan belajar mengajar.
Tak hanya itu, kondisi atap dan plafon di beberapa ruang kelas juga mengalami kerusakan.
Saat hujan turun, air kerap masuk ke dalam ruangan hingga menyebabkan genangan.
Di sisi lain, keterbatasan sarana seperti kursi belajar turut menjadi persoalan yang belum terselesaikan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Mulyasari 01, Herman, mengungkapkan bahwa pihak sekolah sebenarnya telah berupaya mengajukan perbaikan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Namun hingga saat ini, usulan tersebut belum juga terealisasi.
Ia menjelaskan, kondisi bangunan yang rusak tidak hanya berdampak pada kenyamanan belajar, tetapi juga berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sana.
Jumlah penerimaan siswa baru disebut mengalami penurunan akibat kondisi fasilitas yang kurang memadai.
"Sekolah yang rusak berdampak terhadap berkurangnya penerimaan siswa baru," ungkapnya kepada wartawan, Kamis 16 April 2026.
Saat ini, SDN Mulyasari 01 memiliki total 114 siswa yang tetap menjalani kegiatan belajar meski dalam kondisi terbatas.
Para guru dan siswa berusaha bertahan di tengah keterbatasan fasilitas yang ada.
Keluhan juga datang dari para siswa. Salah satunya Jojo, siswa kelas III, yang merasa tidak nyaman belajar di ruang kelas dengan kondisi bangunan yang rusak.
Ia berharap, sekolahnya bisa segera diperbaiki agar kegiatan belajar menjadi lebih aman dan nyaman.
Hal serupa disampaikan oleh Asyila Azzahra, siswa kelas IV, yang kerap mengalami gangguan saat belajar karena ruang kelasnya sering tergenang air saat hujan.
Ia menginginkan adanya perbaikan agar kondisi kelas kembali kering dan layak digunakan.
Melihat kondisi ini, pihak sekolah berharap adanya perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait.
Perbaikan infrastruktur dinilai sangat mendesak demi menjamin keselamatan serta kualitas pendidikan bagi para siswa di wilayah tersebut.
Kondisi SDN Mulyasari 01 menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan infrastruktur pendidikan di daerah perbatasan masih membutuhkan perhatian lebih, agar tidak tertinggal dan mampu memberikan lingkungan belajar yang layak bagi generasi penerus bangsa. (sir)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim