Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Transisi Energi dari Pinggiran Kampung Cisadon Bogor: Dulu Putaran Turbin, Kini Pakai Tenaga Surya

Muhammad Ali • Sabtu, 18 April 2026 | 14:49 WIB
PLTS kini terpasang di Kampung Cisadon, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. (Azis/Radar Bogor)
PLTS kini terpasang di Kampung Cisadon, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. (Azis/Radar Bogor)

RADAR BOGOR — Bertahun-tahun lamanya, suara kincir air menjadi satu-satunya tanda kehidupan listrik di Kampung Cisadon, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Berputar tanpa henti, tetapi tak pernah benar-benar mampu menerangi seisi kampung.

Kini, suara itu mulai menghilang, di halaman rumah warga, panel surya menggantikan peran air sebagai sumber energi. Dari turbin sederhana di sungai, Cisadon perlahan memasuki babak baru; transisi menuju energi bersih yang lebih stabil, meski belum sepenuhnya merdeka dari keterbatasan.

Kini, perlahan suasana itu berubah, di atap-atap rumah warga, mulai terpasang panel surya yang mengilap terkena sinar matahari pagi. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PTLS) tersebut menjadi titik balik kehidupan di kampung terpencil tersebut.

"Alhamdulillah sangat membantu masyarakat,” ujar Ketua RT Kampung Cisadon, Ujang Usman kepada Radar Bogor sembari menyesap secangkir kopi.

Baca Juga: Dua Pengedar Narkoba Dibekuk di Jonggol Bogor, Polisi Sita Ratusan Gram Ganja dan Sabu

Ujang masih ingat betul awal mula listrik energi bersih itu masuk ke kampungnya, yang hanya berjarak 8 kilometer dari kediaman Presiden RI Prabowo Subianto. Pun, baru hitungan dua purnama mereka alhirnya merasakan energi terbarukan tersebut.

Menjelang Ramadhan lalu, rombongan dari Kementerian ESDM disusul tim dari PLN datang menembus jalur terjal menuju Cisadon. Tujuan mereka untuk menyambungkan listrik ke perkampungan tertinggi Kecamatan Babakan Madang. 

Bertahun-tahun lamanya warga Cisadon tidak merasakan listrik konvensional yang menjadi barang umum di luar wilayahnya. Penerangan dan listrik seadanya hanya bergantung pada "kreativitas" turbin atau kincir yang digerakkan oleh aliran air. Satu rumah bergantung pada energi listrik yang dihasilkan dari satu turbin sederhana.

Baca Juga: Kemensos Jelaskan Rincian Sistem Desil Baru: Kunci Penentuan Penerima Bansos dari Pusat hingga Daerah

Daya yang dihasilkan terbatas, sering padam, dan sangat tergantung pada kondisi alam. Saat hujan deras atau debit air berubah mendadak, turbin bisa rusak sewaktu-waktu. Bahkan, sudah tak terhitung berapa kali warga menembus hutan dan kebun malam-malam hanya untuk memperbaiki turbin yang rusak.

Bagi warga, hidup dengan turbin berarti harus berkompromi dengan keterbatasan. Lampu redup, pengisian daya ponsel terbatas, dan hampir mustahil menggunakan peralatan rumah tangga modern.

“Dulu nggak bisa nanak nasi pakai magicom, sekarang, alhamdulillah bisa, sekarang charger HP normal, kulkas bisa, terus penerangan juga (dari panel surya) jauh lebih terang dibanding kincir air,” katanya.

Sementara Cisadon bukanlah nama asing bagi pecinta wisata trekking atau hiking. Jalur ini kerap menjadi tujuan akhir sekadar ngopi atau melintas alam. Banyaknya kunjungan warga luar kampung memaksa Cisadon harus berakselerasi. Di satu sisi, kampung ini menyediakan akses internet melalui sambungan modern Starlink. Di sisi lainnya, warga hidup dalam keterbatasan daya listrik.

Kehadiran listrik di Cisadon memang terasa nyata. Radar Bogor menjajal sendiri bagaimana kehidupan warga setelah menikmati listrik komvensional dari energi bersih matahari, gelap sunyi di atas gunung itu perlahan telah pergi.

Kapasitas 1.300 watt (6 ampere) per KK sudah cukup membuat perkampungan 40 rumah itu lebih meriah. Daya itu sudah sangat memadai sekadar memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.

Baca Juga: Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Nonsubsidi Mulai 18 April 2026, Ini Rinciannya di Jawa Barat

Cahaya lampu kini lebih terang, anak-anak bisa belajar lebih nyaman di malam hari dan aktivitas rumah tangga menjadi lebih mudah. Bahkan, beberapa warga sudah mulai membeli rice cooker, televisi, hingga kulkas. Besok-besok, bisa jadi warga akan mengangkut mesin cuci ke rumah mereka.

Kendati demikian, panel surya memang belum menjangkau seluruh perkampungan. Ujang mengungkapkan, pada tahap awal, baru 10 keluarga yang memasang instalasi tersebut.

Namun, seiring waktu merasakan manfaatnya, jumlah pendaftar terus bertambah. Tak peduli harus merogoh kocek hingga di atas Rp1 juta untuk pemasangan infrastrukturnya.

“Sekarang terus bertambah, daftar, daftar, daftar, masyarakat antusias (pasang panel surya) karena memang sangat membantu,” bebernya.

Untuk mendapatkan fasilitas ini, warga harus mendaftar melalui desa dengan melampirkan KTP dan KK. Biaya pemasangan dikenai sebesar Rp1,5 juta. Nominal itu tidak sedikit bagi warga perkampungan yang hanya mengandalkan pendapatan dari bertani dan berladang. Namun, banyak warga yang tetap ingin mengejar ketimpangan energi listrik dari rumahnya.

Baca Juga: Fakta Saldo Bansos Reguler Cair ke Rekening KPM di Berbagai Wilayah hingga Bantuan Pangan Sudah Mulai Terdistribusi 

Sistem tenaga surya ini tetap menggunakan token seperti listrik PLN pada umumnya. Artinya, warga tetap harus membeli pulsa listrik sesuai pemakaian. Namun bagi mereka, hal itu bukan masalah besar dibandingkan lampu redup di langit-langit rumah yang mereka rasakan bertahun-tahun lamanya.

Meski tidak gratis, kehadiran panel surya sudah memberikan secercah harapan bagi warga Cisadon. Dari energi bersih air menuju energi bersih lainnya yang lebih stabil, yakni surya.

Dari sisi perawatan, PLTS juga jauh lebih sederhana dibandingkan turbin kincir air. Warga hanya perlu membersihkan panel surya dari debu agar tetap optimal menyerap sinar matahari.

Berbeda dengan kincir air yang harus terus dipantau. Saat banjir datang atau komponen rusak, warga harus memperbaikinya secara manual. Tak jarang, gangguan bisa terjadi hampir setiap hari saat cuaca buruk.

“Kalau kincir air itu nggak bisa diprediksi. Bisa rusak kapan saja, apalagi kalau hujan besar. Kalau PLTS ini lebih stabil,” imbuhnya. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#turbin #bogor #cisadon