RADAR BOGOR - Persoalan energi listrik di Kampung Cisadon, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor menjadi pekerjaan rumah bagi PLN.
Sebab, wilayah tersebut tentu menjadi sorotan karena jaraknya yang tidak jauh dari kediaman Presiden RI Prabowo Subianto di Hambalang. Sementara di sisi lain, pembangunan infrastruktur listrik juga terkendala oleh kawasan hutan yang mencakup Kampung Cisadon.
Untuk itulah, PLN menghadirkan inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) melalui label Super SUN (Surya Untuk Negeri). Meski begitu, program ini menjadi solusi sementara di tengah belum masuknya jaringan listrik konvensional ke wilayah tersebut.
Humas UP3 Gunung Putri, Andi Ali, menjelaskan bahwa Super SUN sendiri sebenarnya merupakan istilah internal PLN untuk sistem listrik berbasis tenaga surya yang digunakan di daerah belum terjangkau jaringan kabel.
Baca Juga: Dari Lampu Redup ke Cahaya Terang di Kampung Cisadon Bogor, Anak-Anak Bisa Belajar Malam Hari
“Itu listrik tenaga surya, pakai solar panel, nanti energinya disimpan di baterai lalu dipakai masyarakat,” papar Andi kepada Radar Bogor.
Ia menyebut, pemasangan di Cisadon menjadi proyek yang pertama di wilayah Jawa Barat, program ini dihadirkan sebagai upaya PLN dalam mewujudkan elektrifikasi 100 persen, khususnya di daerah terpencil yang sulit dijangkau.
Kapasitas listrik yang digunakan pun menyesuaikan kebutuhan masyarakat, untuk saat ini, sebagian warga menggunakan daya sekitar 1.300 watt, daya ini dianggap sudah sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
Meski berbasis tenaga surya, sistem penggunaan listrik tersebut tidak jauh berbeda dengan listrik konvensional PLN pada umumnya, warga tetap menggunakan sistem token untuk mengakses listrik sesuai kebutuhan mereka.
“Secara teknis pemakaian sama saja seperti pelanggan biasa, hanya bedanya ini tidak pakai jaringan kabel karena belum bisa masuk ke sana,” terangnya.
Pemasangan panel surya pun tidaklah gratis, warga Kampung Cisadon harus mengikuti skema pembayaran umum yang diterapkan PLN untuk para pelanggannya, bahkan, pemasangan infrastruktur panel surya pun dikenai biaya.
Untuk tarif pemasanganya, golongan rumah tangga R-1 non-subsidi dengan daya 1.300 VA hingga 2.200 VA, tarif listrik yang dikenakan sebesar Rp1.444,70 per kWh.
"Harganya itu sama dengan kalau misalnya pasang 1.300 di yang konvensional," imbuhnya.
Kendati demikian, penggunaan energi bersih dari cahaya matahari itu bersifat sementara hingga jaringan listrik konvensional memungkinkan untuk dibangun di wilayah Cisadon. Jika jaringan sudah masuk, sistem jaringan listrik akan beralih tanpa membebani warga dengan biaya tambahan.
“Kalau nanti jaringan sudah masuk, kita tinggal ganti ke listrik biasa, tidak ada biaya lagi,” bebernya.
Terkait kepemilikan, Andi menegaskan bahwa perangkat Super Sun bukan milik warga, melainkan aset PLN, sama seperti KWH meter pada instalasi listrik konvensional, warga hanya membayar biaya pemasangan sesuai daya yang dipilih.
Baca Juga: Transisi Energi dari Pinggiran Kampung Cisadon Bogor: Dulu Putaran Turbin, Kini Pakai Tenaga Surya
Sementara dari sisi perawatan, sistem PLTS ini tergolong sederhana, warga hanya perlu memastikan panel surya tetap bersih agar dapat menyerap energi matahari secara optimal.
“Paling hanya dibersihkan saja kalau kotor, panelnya juga dipasang miring, jadi biasanya kotoran bisa jatuh sendiri,” ungkapnya.
Sebelumnya, PLN telah melakukan survei untuk membangun jaringan listrik konvensional ke Cisadon. Namun, kondisi geografis yang sulit serta faktor perizinan kawasan hutan Perhutani menjadi kendala utama.
“Awalnya mau ditarik jaringan kabel, tapi karena kontur wilayah dan perizinan Perhutani, belum memungkinkan. Jadi sementara kita gunakan Super SUN,” ucapnya.
Meski begitu, proses pemasangan PLTS di Cisadon itu berjalan lancar tanpa kendala berarti, tantangan utama hanya pada akses menuju lokasi yang cukup ekstrem dan membutuhkan kendaraan khusus. Tim dari PLN harus memakai mobil off-road untuk mengangkut berbagai peralatan untuk pemasangan panel surya.(cr1/mam)
Editor : Eka Rahmawati